Pertentangan Penafsiran Modern

Menurut Al-Maududi “Tidak dapat disangkal bahwa manusia, dengan kedalaman pengetahuannya tentang alam dan hakikat-hakikat ilmiah, menyebabkan bertambah pula dalam pemahamannya tentang makna-makna Al-Quran. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa ia telah memahami melebihi pemahaman Nabi dan murid-muridnya (sahabat) yang memperoleh pemahaman tersebut dari Nabi saw”

hal ini menunjukan bahwa seorang profesor yang mendalami bidang ilmu pengetahuan, bukan berarti memahami makna-makna Al-Quran lebih baik. Karena pemahaman-pemahaman yang logis dan ilmiah menurut zamannya. Karena Al-Quran adalah firman Allah, Tuhan sekalian alam yang menguasai alam ghoib yang tidak mampu diterima oleh akal.

Penafsiran-penafsiran modern yang lebih mengedepankan akal akan terjebak dalam keilmuannya yang terbatas. Akan menjadi salah jika penafsiran-penafsiran tersebut sama sekali tidak berdasar kepada Nabi Muhammad, seperti penafsiran Rasyid Ridho yang menganggap “Al-jin” dalam surat Al-Annas sebagai kuman atau virus.

Pembaharu yang lain juga melakukan penafsiran dengan menggunakan penta’wilan semata-mata berdasarkan penalaran tanpa mengabaikan kaidah-kaidah kebahasaan. Dr. Mustafa Mahmud, misalnya menta’wilkan larangan Tuhan kepada Adam dan Hawa “mendekati pohon” sebagai larangan melakukan hubungan seksual. Walaupun salah satu argumntasinya adalah argumentasi ke-bahasaan, penafsiran ini sangat menggelikan pakar bahasa.

Menurut Mustafa, redaksi firman Allah sebelum mereka mendekati pohon adalah dalam bentuk mutsanna (dual), yakni “jangan kamu berdua mendekati pohon ini” (QS 2: 35). Tetapi, setelah mereka memaknainya (dalam arti melakukan hubungan seksual), redaksi berikutnya berbentuk jamak, yakni “Turunlah kamu semua dari surga … Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lainnya” (QS 2:36). Hal ini menurutnya, adalah bahwa tadinya Adam dan Hawa hanya berdua, tetapi setelah istrinya mengandung janin, maka mereka menjadi bertiga sehingga wajar bila redaksi beralih menjadi bentuk jamak.

Apa yang dikemukakan ini jelas bertentangan dengan teks ayat bertentangan dengan teks ayat dan berentangan pula dengan kaidah kebahasaan. Karena, bahasa tidak menjadikan janin yang dikandung sebagai wujud penuh, tetapi mengikuti kepada ibu yang mengandungnya dan karenanya walaupun seorang ibu mengandung berapa pun bayi yang dikandungnya ia tetap dianggap sebagai wujud tunggal

Contoh di atas membuktikan kekeliruan penta’wilan yang dilakukan semata-mata dengan menggunakan nalar tanpa pertimbangan kaidah kebahasaan.

Sementara pembaru dinilai sangat memperluas penggunaan ta’wil, tanpa suatu alasan yang mendukungnya. Kita dapat memahami motivasi sebagian mereka seperti motivasi Muhammad Abduh yang menggunakan akal seluas-luasnya dalam memahami ajaran-ajaran agama, sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah gaib. Namun, bila hal ini diperturutkan tanpa batas, maka ia dapat mengakibatkan pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional, sebagaimana ditemukan dalam pemikiran sementara pembaru. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan, khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam, sejarah kemanusiaan dan hal-hal gaib, berarti menggunakan sesuatu yang terbatas untuk menafsirkan perbuatan Tuhan (Zat Yang Mutlak itu).

Rangkuman: Membumikan Al-Quran M. Quraish Shihab h. 142-151 

 

Iklan

AMANGKURAT AGUNG PRAHARA TAKHTA MATARAM

wp-image-1770703875jpg.jpg

Membuat suatu cerita dengan mengambil kisah sejarah dan apabila kita menginginkan suatu kebenaran darinya itu susahnya minta ampun. Kebenaran itu pun harus di bumbui oleh hayalan-hayalan si penulis, karena untuk mengatahui isi hati tokoh yang di ceritakan penulis harus dengan jelas-jelas melakukan rekaan, membayangkan jika ia berperan menjadi tokoh tersebut dan menghayati apa kira-kira yang akan di katakan dalam hati tokoh yang diperankan tersebut baik dalam gumamnya, dan dalam maksudnya.

Kisah lama bukanlah kisah yang bisa kita samakan dengan kisah yang baru terjadi kemarin yang bisa kita ketahui detail ceritanya dengan mewawancarai beberapa pihak yang terlibat. Lain halnya dengan kisah lama dimana sudah pasti kita tidak akan bisa melakukan wawancara langsung dengan beberapa tokoh yang terlibat, hingga bisa menanyakan suatu rahasia tertentu. Informasi yang terbatas ini membuat penulis harus mampu berimajinasi tinggi dan memperkirakan kira-kira gimana kita menggambarkan suatu peristiwa di zaman dahulu dan kira-kira apa yang di ucapkan ketika para tokoh itu bertemu.

Keepikan suatu novel yang mengangkat ceritanya dari sejarah adalah seberapa detail ia menggambarkan prabot-prabot lama yang di gunakan untuk menggambarkan suatu cerita, dimana disini kekayaan bahasa juga harus mumpuni, yaitu bahasa-bahasa lama yang sekiranya pada zaman dahulu itu menjadi bahasa yang populer. Tetapi untuk mengetahui kedetailan tersebut membutuhkan sebuah perjuangan yang keras pula. Bayarannya adalah terciptanya novel sejarah yang memberi pengetahuan luas tentang sejarah kepada pembaca.

Novel “Amangkurat Agung Prahara Takhta Mataram” ini diambil pada abad ke 16, dimana pada waktu itu belanda sudah tiba di tanah jawa dan menguasai daerah batavia sebagai benteng pertahanannya. Sangat menarik untuk di kaji karena pada waktu itu taktik perang pecah belah sudah dijalankan. Adanya kerajaan kecil-kecil yang berkuasa pada waktu itu mempunyai agenda kepentingan sendiri. Hal ini dimanfaatkan oleh belanda untuk menghasut, membantu beberapa kerajaan yang menguntungkannya. Digambarkan disana bahwa orang-orang kerajaan mempunyai mental yang lemah, lalim, dan tidak saling percaya antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya. Bahkan rusaknya mental para putra raja karena perselisihan merebutkan tahta dan wanita ini menambah citra buruk kerajaan.

Novel ini juga di balut dengan kisah cinta antara tokoh yang mempunyai ilmu tinggi dengan janda saudagar kaya yang kisah kecilnya di kutib pada awal cerita.

Ada beberapa hal yang saya saya perhatikan dari novel ini, salah satunya adalah penggunaan kata polisi. Apakah memang benar pada waktu itu satuan keamanan negara disebut dengan polisi?, kemudian juga terkait cerita sekandal dan seks yang di gambarkan seakan-akan cara bermain seksnya sungguh sangat brutal dan penuh penyiksaan. Apakah memang benar seperti itu? Saya kira itu tidak benar, karena dari sudut pandang penulis sendiri tidak mungkin kiranya ia mengetahui berita bagaimana perlakuan seks oleh orang-orang kerajaan, karena berita itu sesuatu yang sangat rahasia pada zaman dahulu, dan saya kira itu tidak mungkin akan di publis keruang umum untuk disebar luaskan sampai kezaman ini. Penggambaran yang mendetai dan pengelolaan kata yang digunakan oleh tokoh-tokoh penting memang seharusnya menjadi pokok yang harus diperhatikan. Karena jika kita terlalu melapas imajinasi kita tanpa memperhatikan efek citranya. Itu bisa membuat para pembaca memaknai kebejatan pemerintah saat itu sangat luar biasa keterlaluan, yang mungkin saja dalam kenyataannya tidak seperti itu.

Hikmah yang bisa dipelajari dari novel ini adalah jangan bercerai berai dan tidak bersatu karena ketika kita bercerai berai maka sesungguhnya pihak asinglah yang menikmati hasilnya. Selain itu dengan membaca novel ini saya menjadi berpikir bahwa apapun sistem pemerintahannya baik itu kerajaan ataupun negara, baik itu mengatas namakan sistem islam atau bukan itu tidak menjamin akan membuat menjadi suatu negara/kerajaan yang makmur bersih dari korupsi kolusi dan nepotisme. Sebaliknya apapun sistem negaranya jika orang-orang yang mengisinya adalah orang-orang yang berbudi luhur, adil, jujur, amanah, dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan maka negara/kerajaan itu akan menjadi negara yang makmur.

ATTITUDE IS EVERYTHING

Mengambil hikmah dari setiap kejadian dan selalu berpikir positif. Tuhan tidak pernah menciptakan suatu kejadian yang tidak ada manfaatnya, apapun itu. Bersikap mensyukuri apa yang telah terjadi baik itu kejadian yang menyakitkan atau menyenangkan adalah sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemenang. Attitude Is Everything membicarakan soal sikap adalah segalanya. Dengan sikap seseorang bisa meraih kesuksesannya dengan sikap pula orang dapat terjerumus pada kegagalan yang abadi.

Ada tiga hal yang mengantarkan kepada kesuksesan. Ialah ability, force, dan attitude. Ability dapat di pelajari, ability adalah kemampuan seseorang yang bisa kita lihat, semisal kemampuan mengoprasikan komputer, kemampuan berbahasa dengan baik, kemampuan bermain musik dan lain sebagainya, jika seseorang memiliki kemampuan yang banyak maka ia akan semakin dekat dengan menjadi orang yang berguna beagi sesama.

Force, semua orang membutuhkan force. Ia ibarat bahan bakar yang di butuhkan oleh mesin guna menjalankan kerjanya. Dengan force yang besar maka seseorang dapat melakukan kerja secara maksimal. Ini membuat hasil kerja menjadi semakin banyak. Dengan Force karya-karya seorang seniman bisa di ciptakan lebih banyak.

Attitude berbeda dengan ability maupun Force, ia bukan sesuatu hal yang bisa di pelajari dengan berkhusus diri kepada ilmu-ilmu tertentu, ia adalah ilmu hikmah, bersikap positif berarti mensyukuri segala apa yang di ciptakan Tuhan, dan selalu melihat peluang yang menguntungkan di setiap kejadian.

Dengan sikap positif dan mensyukuri serta mengambil hikmah dari suatu kejadian. Maka seseorang yang mempunyai attitude yang baik akan mampu bangun dari kejatuhan dan kegagalan yang menimpa. Tetapi jika seseorang memiliki attitude yang buruk, maka ability dan force sekalipun tak akan mampu mengantarkan kepada kesuksesan seseorang. Karena dengan bersikap negatif, tidak mensyukuri apa yang di kehendaki Tuhan dan tidak mau mengambil hikmah dari suatu kejadian hanya akan mengantarkan seseorang kepada penyesalan, penyelahan diri sendiri, dan merasa gagal serta merasa menjadi manusia yang tak berguna. Itu semua akan membuat seseorang tak mampu berkembang dan akan selamanya hidup dalam ketidak bahagiaan.

Maka dari itu sejak dari sekarang cobalah untuk melatih diri menjadi orang yang mempunyai attitude yang baik.

LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI

image

Sebuah kumpulan cerpen terbitan Kompas, di tulis oleh Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Masdhar Zainal, Agus Nur, Martin Aleida, Noviana Kusumawardhani, Emil Amir, Dwicipta, Triyanto Triwikromo, Indra Tranggono, A. Mustofa Bisri, Arswendo Atmowiloto, Linda Christanty, Sandi Firly, Guntur Alam, Norman Erikson Pasaribu, Komang Adnyana, GM Sudarta, Agus Noor, dan Dewi Utari

Cerpen ini di pilih dari beberapa pengarang yang ternama serta cerita yang lebih mencerminkan kesosialan setiap pribadi individu yang tinggal di berbagai daerah Indonesia. Kaya akan cerita khas dari setiap daerah. Dipilah dari 1.400 cerpen yang di tulis oleh anak Indonesia sendiri yang tersebar dari setiap penjuru Indonesia.

Ceritanya sungguh unik-unik. Ada yang di kasih alur yang membuat kita bertanya-tanya. Ada pula yang memberi kejutan di akhir ceritanya. Ada pula yang mengambil cerita dari masa lampau. Ini menjadi kekayaan tersendiri bagi karya sastra cerpen. Ia bisa tampil di segala lini bidang, di berbagai belahan dunia dan di waktu yang berbeda-beda. Ia bisa menceritakan kehidupan dewa, manusia atau iblis sekalipun. Karena si pengarang bebas untuk mengarang apapun yang ada di pikirannya. Terlintas bahwasanya cerpen merupakan karya tulis berupa fiksi yang kebenaran ceritanya belum tentu pasti. Ia tetap saja merupakan karya sastra yang menyampaikan pesan moral bagi para pembacanya. Dan jika kita jeli untuk melihat setiap pengarangnya kita akan menemukan suatu kebenaran tersendiri apa yang terjadi di dalam pesan atau cerita cerpen tersebut menurut sudut pandang pengarang. Karena setiap cerita cerpen selain ke epik annya juga terkandung pesan dari setiap pengarangnya.

Laki-laki pemanggul goni, mayat yang mengambang di danau, pohon hayat, requim kunang-kunang, batu-asah dari benua Australia, pemanggil bidadari, ambe masih sakit, renjana, lengtu lengmua, wajah itu membayang di piring bubur, nyai sobir, Bu Geni di bulan Desember, Jack dan bidadari, perempuan Balian, dua wajah ibu, sepasang sosok yang menunggu, mayat di Simpang jalan, sang Petruk, kurma kiai Karnawi, angin kita, adalah ke 20 cerpen yang di sajikan di dalam buku ini.

Tak hanya menyajikan cerpen saja di buku ini juga berisi tentang komentar dari Maman S Mahayana (dosen sastra di salah satu universitas Korea) tentang potret Indonesia dalam cerpen. Serta profil masing-masing penulis cerpen yang bisa membuat kita tergugah untuk meniru mereka semangat menulis cerpen lagi.

SITUASI POLITIK LUAR DAN DALAM NEGERI

image

Semua berawal dari siapa yang menguasai perekonomian di dunia. Berangkat dari pasar, berangkat dari siapa yang lebih besar menguasai kekayaan dunia, berawal dari siapa yang terlihat lebih makmur secara ekonomi dan siapa yang terlihat lebih sengsara tertindas oleh himpitan ekonomi. Antara tuan dengan buruhnya. Antara negara yang kapitalis dengan negara yang komunis. Mereka semua sama saja, intinya ekonomi yang satu mempunyai asas “Hartaku yang aku cari tak peduli seberapa banyaknya itu adalah Hartaku” dengan “Harta yang terlalu banyak harus di bagi secara merata, tidak ada hak kepemilikan pribadi. Yang ada kepemilikan secara bersama”.

Sangat menarik apa yang di ceritakan oleh Tan Malaka di dalam bukunya yang berjudul “Situasi Politik Luar dan Dalam Negeri” yang di lihat dari masa ia masih hidup. Kondisi beberapa negara di gambarkan secara sederhana dan mudah di pahami oleh masyarakat umum. Kondisi perpolitikan dunia saat itu ia gambarkan seperti permainan sepak bola, ada peraturannya. Ada cara mainnya. Semisal ketika suatu negara ingin melakukan perang dengan negara lain, ia harus melakukan peringatan terlebih dahulu dan memberikan tanggal kapan memulai peperangannya. Ibarat suatu permainan sepak bola ada yang mematuhi peraturan bersama. Tetapi ada pula yang tidak mematuhinya seperti misalnya ketika babak pertama sang wasit Belum meniup peluit ada salah satu pihak langsung nyelonong menggiring bola dan memasukkan ke gawang musuh. Negara yang bermain seperti itu adalah Jepang. Tanpa memberi peringatan terlebih dahulu ia langsung mengebom pangkalan udara Inggris

Banyak kondisi beberapa negara di jelaskan secara sederhana untuk membaca situasi perpolitikan di dunia saat itu. Dari sisi kebutuhan suatu negara semisal Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya maka Belanda dan Inggris menjajah negara ini supaya bisa mengeruk keuntungan sebesar-besarnya yang akan di bawa ke negaranya yang miskin akan sumberdaya alam. Mereka tidak akan pernah melepaskan negara ini dengan mudah. Karena jika dilepaskan begitu saja maka akan terjadi kerugian ekonomi secara besar di negaranya. Kemudian ada Jepang yang di gambarkan negara yang tidak punya apa-apa. Hanya keyakinan bahwa rakyat Jepang merupakan keturunan dewa yang akan menguasai dunia. Maka dengan modal kepercayaan itu ia berani mengikuti kompetisi perang dunia ke 2 guna memperoleh negara jajahan yang akan di gali kekayaannya untuk memperkaya dirinya saja.

Penjajahan selama 360 tahun oleh pihak asing membuat rakyat Indonesia tidak bisa berfikir untuk mengelola kekayaannya sendiri. Mungkin sampai saat ini kita bisa merasakannya bahwa kondisi Negera tak jauh berbeda dengan masa sebelum Indonesia merdeka. Banyak tambang dan tempat-tempat strategis di kuasai pihak asing dengan sarat perjanjiannya yang nyatanya kita tidak bisa mengusir mereka terkendala karena tidak ada yang ahli atau perjanjian yang mbulet.

Dengan membaca buku ini Anda akan diberi kesan keinginan tahuan “bagai mana dengan kondisi perpolitikan dunia saat ini?” Apa kondisi itu mempengaruhi pendidikan kita, mempengaruhi pembentukan mainsite kita, mempengaruhi kekapitalisan dan keindividualisan kita. Jika kita sedikit membebaskan pemikiran kita. Kita mungkin akan berkesimpulan bahwa kondisi negara saat ini tak jauh berbeda dengan kondisi pemerintahan hindia Belanda (Indonesia sebelum merdeka) cuman dulu memakai kekerasan untuk mengeruk kekayaan Negeri ini. Tetapi sekarang tidak. Sekarang lebih memakai cara yang lebih halus yaitu mempengaruhi pemikiran kita lewat tontonan dan banyak produk yang mereka luncurkan untuk kita gunakan. Al hasil dalam dunia perdagangan kita hanya menjadi konsumen tanpa mampu berpikir menjadi produsen. Bagaimana mungkin mau berpikir produsen kalau negaranya tak mampu mengusir negara asing yang kini sedang mengeruk kekayaan negara juga tak mampu membatalkan kontrak barang masuk dari luar negeri untuk di jual Indonesia dan menggantinya dengan prodak dalam negeri. Kalau tidak ada prodaknya kita bisa buat sendiri (misal handphon dan motor/mobil) banyak insinyur di negegara ini yang bisa di kumpulkan untuk membuat prabik besar guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam negeri.

Buku ini tidak tebal. Hanya 45 halaman yang bisa di baca sekaligus selesai. Saya membacanya dengan versi e-book pdf