ER TE KA 1

wpid-img_20150831_210501

Roda kepemimpinan kini sedang bergulir mencari nahkoda baru untuk membawa gerbong rahmatallilalamin menuju jalan yang baru. Pastinya tantangan kedepan berbeda dengan tantangan yang lalu. Orang-orang yang baru akan mengisi kekosongan ruang. Warna rumah yang akan dihuni pun akan berbeda dengan yang yang dulu.

Sebagai langkah awal menuju generasi penerus baru, ritual-ritual pengkajian untuk menerawang masa depan sejak kemarin didengungkan secara terus menerus, terhitung dari sejak satu minggu yang lalu.

Kaum muda, kaum tua duduk melingkar didepan teks-teks kajian. Pikiran digali untuk mencari mutiara sebagai formula yang pas dengan kondisi ke esok kan. Perjalanan selama satu tahun kemarin kami selami lagi untuk mencari masalah-masalah yang nantinya mungkin akan menjadi masalah yang sama di perjalanan satu tahun kedepan. Triakan keras bagi para peserta itu menginginkan solusi terbaru untuk menetralkan masalah masalah yang lama.

Para konseptor dan pemikir secara keras memeras otak mereka, menghasilkan draft-draft AKO RPO dan RENSTRA yang mana nanti akan menjadi tonggakan berpijak bagi para kaum pemuda yang terpilih.

Hari ini adalah awal dari itu semua, dari penentu kepengurusan kedepan, dari langkah awal menuju Perjuangan yang Rahmatallilalamin, mencetak para kader ulul albab pembela bangsa dan agama.

Banyaknya orang yang berkoar-koar itu membuktikan ramainya jalannya acara. Kalau ramai berarti banyak yang berbicara. Kalau banyak bicara akan lahir pandangan pandangan baru. Ya petuah itu mutiara pada malam ini.

Sahabat-Sahabati Selamat Ber eR Te Ka.

Iklan

KHATAMAN MENUJU RTK

wpid-img-20150827-wa0000

Bersama sahabat-sahabati PMII 1011 pada hari ini telah dilangsungkan khataman bareng di kontrakanita (Kontrakan Sahabati). Acara dimulai sajak tadi pagi pukul 06.00 wib. sampai sore ini.

Penutupan dilakukan pada sore ini. Dengan doa dibaca oleh Ketua Komisariat PMII 1011 yaitu sahabat Imam Rahmat Fahmi. Dilanjutkan dengan acara Diba’an bareng nanti malam di Masjid Manarul Ilmi bersama-sama dengan anggota UKM Cinta rebana dan civitas mahasiswa Kampus ITS.

Acara khataman dan dibaan ini merupakan salah satu serangkaian acara menyambut Rapata Tahunan Komisariat (RTK) PMII 1011 yang akan dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus – 04 September 2015 yang sebelumnya terdapat agenda pembahasan AKO RPO dan Renstra untuk menghasilkan draf yang akan disampaikan nanti ketika RTK

DILERENG PUNCAK WILIS BERSAMA TEMAN-TEMAN IPM

wpid-img_20150817_093451

Dua hari sebelum kemerdekaan Indonesia yang ke 70 tahun malam itu kami berkemah di salah satu basecamp yang terletak di samping jalan raya ke arah air terjun ndholo. Tepat beberapa ratus meter dari kompleks besuki, mojo, kediri. Bersama 3 teman saya Rahmad, Sidiq, dan mas agung.

Seminggu sebelumnya kami telah berjanji untuk berkemah bareng di lereng puncak wilis. Dan pada tanggal 15 Agustus 2015 tepatnya sore hari kami berangkat dari rumah dan tepat petang kami sampai tempat pos pertama. Di dekat pos itu terdapat air ya disitulah kami melakukan ibadah sholat magrib yang kemudian dilanjut dengan sholat isya’.

Kami bermalam di pos ini sampai menjelang esok pagi. Rencananya memang besok pagi pukul 08.00 wib. kami baru melanjutkan perjalanan ke lereng puncak wilis.

Kira-kira normalnya perjalanan menuju lereng puncak wilis memakan waktu sekitar 3 jam. Namun karena kami melakukan perjalanan dengan santainya, maka pada pukul 12.00 lebih kami baru sampai lereng puncak.

Sore harinya saya dan sidiq beserta beberapa teman baru mencoba untuk naik kepuncak. Medan yang berat dan persiapan yang kurang akhirnya kami urunkan niat kami untuk lebih jauh menuju puncak. Jalur yang kami lalui pada saat itu telah terbakar dan sedikit sekali rumput maupun akar yang bisa digunakan pegangan. Maka dari itu medan lebih sulit dari tahun yang lalu (sebelum terbakar)

Malamnya kami berkemah di lereng dekat puncak. Sekitar pukul 20.30 ada rombongan yang melewati kami hendak pergi ke puncak. Kami ngobrol sebentar dan memberi tahu mereka bahwa medannya berat, jika muncak malam hari yang hati-hati. Dengan usaha yang keras hati-hati dan kepercayaan rombongan itu akhirnya mencapai puncak tepat pukul 01.00 dini hari.

Paginya tidak kalah juga dari rombongan yang berkemah disamping kami berangkat menuju puncak, pagi-pagi sekitar pukul setengah lima. Kami berempat tidak ikut naik karena memang sebelumnya tidak ada niatan untuk muncak.

Siang sehabis sholat dhuhur kami bersiap siap untuk turun kembali untuk pulang kerumah.

Informasi yang bisa saya dapatkan selama dua hari dua malam disana yaitu:

1. Perjalanan untuk mencapai lereng puncak dari tempat penitipan sepeda kira-kira memerlukan waktu 3 jam. Dan dari lereng ke puncak kira-kira membutuhkan waktu 2.5 jam
2. Di lereng puncak tepatnya di arah selatan terdapat sumber air bersih yang bisa digunakan untuk minum
3. Penitipan 2 hari 1 malam untuk sepeda motor, per motornya habis Rp. 7.500,00
4. Pos pertama yang digunakan tempat parkir bisa digunakan untuk berkemah, dan kira-kira 1 km kebawah dari pos itu terdapat air bersih yg bisa dibuat minum
5. Pendaki lebih baik tidak kepuncak ketika musim hujan. Karena sangat rawan kecelakaan (longsor/ pohon tumbang
6. Ada dua jalur dimana jalur kiri mengarah ke puncak wilis dan kanan puncak batu tulis.
7. Disana banyak sekali kayu bakar yang bisa digunakan api unggun. Tapi ingat bekas api unggun harus dipdamkan sampai tak ada bercikan api lagi. Karena disana rawan terjadi kebakaran.***

Oleh: Imam Syafi’i Mustofa
Surabaya, 25 Agustus 2015

MENGINGAT MBAH DAN ORANG YANG MENINGGAL

Camera 360
Camera 360

Tradisi menyertakan nama-nama anggota keluarga yang telah meninggal dunia seperti mbah, ayah, ibu, dan kerabat yang lain masih sangat kental di pedesaan. Sebagai syarat yang harus dibawa ketika acara tahlilan atau biasa disebut slametan. Ya bisa kita sebut itu merupakan tradisi kirim leluhur. Tradisi yang saya kira hanya ada di Nusantara ini.

Islam Nusantara memang unik, tidak seperti Islam di arab. Disini tradisi lokal masih dihargai selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Selama tradisi itu masih sangat baik untuk dikerjakan dan jauh dari nilai kemudhorotan dan selama tidak menyeret kepada kemusyrikan yang menyebabkan seorang tidak melakukan sholat, puasa, zakat dan ibadah yang bernilai prinsipel bagi Islam.

Islam sungguh ramah. Islam sungguh menyejukkan. Islam diajarkan sebagai rahmatallilalamin. Islam membawa kabar gembira bagi rakyat Nusantara. Dan disertai kabar duka yang dibingkai dalam kepamalian,serta dawuh luhur yang terekam dalam sebuah syiir-syiiran. Seperti misalnya “Kuto nero ko kanggo seng manut setan.” Syair itu secara maknawi saya kira akan menyimpan pesan bahwa orang-orang jangan meniru gaya hidup kota yang cendrung melupakan agama.

Setidaknya tradisi keagamaan seperti tahlilan, slametan, yasinan, dibaan, manakiban, sholawatan, pitung dinanan, petang puluh dinanan, nyatos dinanan, nyewu dinanan yang saat ini negara arab tak pernah melakukannya bahkan di zaman kanjeng Nabi masih sugeng pun saya kira blum pernah dilaksanakan itu memiliki nilai maslahah (kebaikan) yang besar bagi masyarakat desa. Diantara kebaikan itu adalah pertama dapat memper erat ukhuwah basyariyah antar warga, warga jadi sering berkumpul disela-sela kesibukan kerja dan urusan keluarganya. Bayangkan kehidupan kota yang masyarakatnya kini sudah lupa siapa saja orang yang menjadi tetangganya, karena mereka amat jarang bersilaturrahim kedua Shohibul bait membiasakan diri bershodaqoh kepada tetangganya serta kembali mengingat keluarganya yang telah meninggal dunia, bayangkan jika seorang anak lupa terhadap orang tuanya yang telah meninggal dunia, bukankah seperti ini akan mendekatkan kepada kedurhakaan dan menjauhkan dari sifat anak sholeh (selalu mendoakan keluarganya).

Ketiga mendekatkan warga (mayoritas orang awam) kepada kiainya, yang saat ini banyak sekali orang yang meninggalkan Ulama’nya dan terjerumus dalam kegemerlapan dunia melupakan akhirat. Keempat membiasakan diri bagi warga untuk berkumpul berdzikir bersama. Dzikir itu membuat hati jadi ayem tentrem, yang jika dilakukan bersama akan membiasakan hidup warganya jadi ayem tentrem dan rukun karena senantiasa mengingat Allah.

Ke empat coba cari sendiri kebaikan lainnya yang saya kira masih banyak jika kita mau menguri-uri lagi tradisi peninggalan leluhur kita yang terbingkai dalam keindahan Islam Nusantara***

Imam Syafi’i Mustofa
Kediri, 23 Agustus 2015

SYIRKATUL ‘INAN MURABATOH NAHDLATUL TUJJAR

wpid-img_20150820_191717

ULASAN

Sedikit mengulas kembali KH. Wahab Chasbullah dalam pidatonya yang tertulis pada buku Kumpulan Tulisan Majma’ Buhuts An-Nahdliyah (Forum Kajian Ke-NU-an). Buku ini saya dapat disaat berada pada Muktamar Nahdlatul Ulama’ ke 33 di Jombang kemarin pada saat sesi terakhir penutupan, bersama sahabat-sahabat PMII Sepuluh Nopember. Lewat begitu saja dan ada orang sedang membagikan buku, kami langsung menghampiri dan meminta secara Cuma-cuma.

Dalam buku tersebut terdapat kumpulan tulisan yang dikarang oleh tokoh-tokoh besar Nahdlatul Ulama diantaranya KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, KH. MA Sahal Machfudi, KH. Mustofa Bisri, KH. Habib Luthfi Bin Yahya, KHH. Abdul Ghofur Maimoen, M, Jadul Maula dan Bisri Adib. Sungguh sangat menarik untuk dibaca karena kebanyakan tulisanya sangat kental dengan sastra yang renyah dikonsumsi, serta isinya tentang seruan kebaikan berlandaskan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah patut untuk direnungi.

Disini saya tidak akan banyak menulis tentang pendapat saya mengenai buku tersebut, tetapai akan mengambil tulisan disalah satu bab, yaitu mengenai pidato KH. Wahab Chasbullah “Syirkah ‘inan murabathoh Nahdlatut Tujjar”

ISI

Dengan nama Allah yang telah menjadikan firman-Nya ini sebagai mukjizat mengalahkan orang kafir yang durhaka, “apabila telah ditunaikan sholat maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Di jadikan haram bagi orang yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan akan sah dan tidaknya apa yang menyerupai jual beli al-ja’alah (Yakni memberikan syarat atas barang atau sesuatu yang hilang dengan ganti sesuatu yang tertentu) dan syarikah (persekutuan dagang).

Allah telah menjadikan firmn-Nya ini sebagai syariat islam yang nyata: “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menulisnya dengan benar.”

Allah telah menjadikan husnudlon (baik sangka) setara sesama hambaNya sebagai suatu kenyataan yang harus ada, tersembunyi dan menjadikan ghirah (rasa harga diri yang tinggi, membenci orang kafir karena cinta agama) sebagai penjaga agama dan sebagai tonggak keberanian yang terpuji dan yang menyebabkan terikatnya orang yang telah bersyahadat, sesuai dengan firman Allah, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu jadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara,” dan firman Allah: “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebijakan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelaanggaran.”

Rosulullah shohibun syarafah telah bersabda: bersatulah hatimu dan janganlah bercerai berai.

Sabda Rosul: “Tolonglah saudaramu, menganiyaya atau teraniyaya.” Artinya dengan menghilangkan kezaliman itu dengan segala daya upaya dan cara; dan semuanya itu haruslah atas dasar tujuan dari sabda Rosul saw: “Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka atasilah dengan kekuatan (wajib bagi para penguasa), apabila tidak bisa maka dengan lisan (bagi para Ulama’), apabila tidak bisa maka dengan hati, dan inilah selemah-lemahnya iman (bagi kaum awam).’

Selanjutnya, segala puji bagi Allah yang telah mencukupi dengan segala nikmat dan rahmatNya. Diantara nikmat dan rahmatNya adalah yang tersebut dalam hadits qudsiy: “Aku Allah beserta dua orang yang melakukan syarikat, selama salah satu diantara keduanya tidak berkhianat terhadap yang lain. Jika demikian maka Aku akan keluar.” Maksudnya adalah bahwa Allah akan beserta dua orang yang bersyarikat menjaga dan melindungi harta mereka. Nabi saw pernah melakukan persyarikatan dengan Saib dan menyatakannya kebanggaannya atas persyarikatan tersebut.

Salawat dan salam juga semoga tetap dilimpahkan kepada keluarga dan sahabat Nabi yang seperti bintang juga kepada kaum mukmin laki dan perempuan yang hidup maupun yang telah meninggal.

Setelah kita melihat merosotnya bangsa dan anak negeri kita, serta kecilnya perhatian dan kepedulian mereka terhadap syariat Islam yang dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah penuntut ilmu, pudarnya bermacam-macam ikatandan sebagian mereka telah membebakan diri menjadi orang bebas sehingga tidak dapat dilaksanakan shalat berjamaah. Di lain pihak sekolah-sekolah Belandapun penuh sesak, sedangkan mereka sama sekali tidak menghargai umat beragam dan ditangan mereka ada kemegahan, kecendikiawanan dan kekuasaan di segala penjuru, di darat, laut dan setiap pelosok.

Setelah melihat itu semua kita dipaksa berfikir dan meneliti dengan cermat sebab musebab timbulnya hal tersebut. Hasilnya, kita telah mendapatkan bahwa bagi para Ustadz ada tiga penyebab, sedang bagi para penuntut ilmu, penyebabnya bukan tidak terhitung lagi.

Sebab pertama: mereka melakukan tajarrud (sikap mengisolir dan membebaskan diri dari mencari nafkah) sedangkan mereka belum mampu. Akibatnya sebagian besar mereka harus merendah-rendahkan diri minta bantuan orang kaya yang bodoh atau penguasa yang durhaka.

Sebab kedua: ketidak pedulian mereka terhadap tetangga yang belum tahu rukun sholat, bahkan belum bisa melafalkan syahadat. Kebodohan mereka termasuk jahil murokab (bodoh dan tidak mau belajar). Mereka tidak mendapatkan orang yang berdakwah mendapatkan kabar gembira dan kabar takut dalam urusan agama. Tidak mendapatkan orang yang dapat membimbing untuk urusan mencari rejeki. Para pemimpin merampas hak mereka dengan zalim sedangkan yang alim dalam urusan agama tidak mempunyai aktifitas apa-apa. Mereka kaum alim itu mencari-cari alasan takut timbulnya fitnah. Padahal sebenarnya jika mereka menang dan berhasil, mereka akan dihormati dan kata perintah mereka akan dituruti, misalnya perintah untuk sholat dan perintah agama lainnya.

Sebab ketiga: mereka merasa tidak memerlukan ilmu orang lain dan merasa cukup dengan ilmu yang telah dipelajari dan difahami, sehingga tidak dirasa perlu adanya musyawarah atau suatu ikatan atau suatujam’iyah (organisasi) yang khusus untuk para ulama guna membahas hal-hal yang dapat menunjang kokohnya agama; misalnya pembahasan menulis dengan tulisan belanda, bagaimana hukum mempelajarinya, haram atau bahkan fardlu kifayah?

Lalu pembahasan untuk mencari jalan bagaimana menambah jumlah para penuntut ilmu yang bermanfaat, mencegah kezaliman yang para pelaku kezaliman yang nyata, agar mereka kembali kepada adanya persamaan dan menghargai umat beragama, membahas sebab perilaku maksiat orang yang melakukannya secara terang-terangan , hal mana menyebabkan jatuh ke dalam orang yang berdosa akibat perbuatan mereka, mengingat sabda rosul: “Suatu dosa apabila disembunyiakan maka yang memperoleh madlarat hanyalah orang yang melakukan itu sendiri. Apabila dilakukan dengan terang-terangan dan tidak diatasi, maka madlaratnya akan dipikul oleh semua orang.”

Engkau semua. Wahai golongan kita sendiri, jika kalian melangkah ke depan sepuluh langkah saja niscaya sudah kalian dapatkan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan. Apakan semua orang dizaman itu telah tenggelam dalam suatu persengkokolan (semua sama) sehingga kebaikan dan keburukan adalah sama saja? Atau memang semuanya orang awam sehingga tidak ada yang tahu hukum?

Atau semua perkara dikembalikan kepada takdir tanpa adanya usaha? Atau semuanya sudah putus dari rahmat Allah yang langgeng itu?

Apa sifat malas adalah watak orang jawa?

Padahal banyak orang fasik yang bodoh, mereka sebenarnya tidak masuk yang diperhitungkan, tetapi bersatu meneriakkan keluhan mereka kepada Gewentee[1] atas nama organisasi untuk meminta apa yang menjadi kepentingan mereka. Yang terjadi adalah bahwa mereka mendapat tanggapan positif dan diluluskan permintaan mereka.

Apakah kalian wahai para Ulama kita, seandainya kalian mengajukan keberatan kepada Gewentee atas nama organisasi untuk menyetop maksiat yang dilakukan dengan terang-terangan itu, lalu kalian sangka bahwa permintaan itu tidak didengar dan tidak ditanggapi? Tidak, sama sekali tidak. Gewentee bahkan akan memberikan tanggapan yang sangat positif atas tuntutan yang disampaikan dengan terus terang, selama kalian dalam kesepakatan. Sebab pemerintah Belanda bersikap adil, mendengar keluhan rakyat dan mengabulkan tuntutan yang baik. Sebaliknya, kalianlah yang diam bagai orang mati.

Suatu kesepakatan tidak akan tercapai kecuali dengan jalan musyawarah sebelumnya. Kebanyakan kita akan berpaling jika dihadapkan kepada masalah ini , dengan dalih dan alasan kaum sufi dan melakukan pekerjaan orang yang suka mundur kebelakang dan membuat pertanyaan dengan berdalih pendapat kaum jabariyah, lalu akhirnya menampakkan senyum kecut orang yang berputus asa. Sedang yang lain mengelompokkan dirinya dalam barisan orang awam, untuk urusn yang seperti ini. Tetapi dalam urusan yang lain mereka minta porsi kepemimpinan. Kemudian bila ada orang yang menyingkapkan kepada mereka prinsip-prinsip yang membangun, berserikat dan bermusyawarah, mereka akan membeberkan bahwa itu tidak ada hasilnya pada waktu itu. Tetapi mereka tidak berpikir bahwa diperolehnya kursi merupakan kunci kemenangan.

Wahai pemuda putra bangsa yang cerdik pandai dan para Ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja badan usaha ekonomi yang beroprasi , di mana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom. Badan usaha ini secara khusus untuk kaum Ulama dan juga bagi lainnya yang termasuk kaum terpelajar. Dari hasil badan usaha ini, didirikan suatu Darun Nadwah (Balai Pertemuan) sebagaimana yang telah dilakukan para sahabat. Di tempat ini diselenggarakan pertemuan-pertemuan empat kali setiap tahun atau paling tidak sekali setahun. Tujuan pertemuan adalah untuk berbaiat atau musyawarah yang bertujuan untuk menampakkan syariat Nabi Muhammad saw kepada kaum terpelajar dan kaum awam, mencari jalan agar penuntut ilmu bertambah, menghidupkan perserikatan yang tampak lowong, mencari jalan untuk menghidupi para pendidik (guru) baik yang dikota maupun di desa, untuk menyetop laju kemaksiatan yang terang-terangan.

Wahai teman-teman sejawat, apakah kalian tidak melihat sekolah-sekolah asing dan beribu-ribu sekolah di kampong-kampung yang penuh sesak? Padahal sekolah itu tidak mengajarkan sama sekali syariat islam, tetapi yang didirikan adalah ini dan itu.

Apabila kalian menyangka bahwa rahmat akan menjadi berkurang karena kelalaian umat itu sendiri? Allah swt telah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka.”

Ahlussunnah mempunyai keyakinan (i’tikad) dan menetapkan bahwa kebaikan dan keburukan itu dari Allah semata dan bahwa takdir tidak bisa diubah dan bahwa kurun waktu yang paling baik adalah dimasa Nabi saw kemudian yang kemudian dan yang kemudian lagi. Akan tetapi ahlussunnah menetapkan dan tunduk kepada kenyataan bahwa segala sesuatu pasti ada sebab dan ada tanda-tandanya. Shalat misalnya, sebabnya adalah masuknya waktu dan mengerjakannya menjadi tanda surga.

Ahlussunnah juga telah menetapkan bahwa takdir yang tidak bisa diubah adalah takdir yang telah ditunjukan kepada malikat, bukan takdir yang ada pada Allah ta’ala. Firman Allah:

“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisNyalah terdapat Ummul Kitab (Lauh Machfudl).” Ahlussunnah telah melakukan tahqiq bahwa rela dengan keburukan dengan alasan menyandarkan kepada takdir adalah akidah filosof Jabariah.

Atas dasar penelitian yang cermat dan pemikiran yang panjang dan disertai dalil-dalil tersebut, Syekh, Ustadz dan paman kita Syeikh Hasyim dari Tebuireng mendirikan sebuah badan usaha dengan dibantu oleh yang mana dan jabatannya tersebut dibawah ini. Badan usaha ini diberi nama Badan Usaha Al-‘Inan dengan singkatan S.K.N.

Di antara syarat-syarat yang berlaku dalam badan usaha ekonomi ini adalah: keuntungan dibagi dua (fifty-fifty) sekali setiap satu tahun. SDI dibagi atas dasar besarnya saham (modal) sedang yang 50% dikembangkan lagi untuk memperbesar modal. Mudah-mudahan usaha ini dijadikan Allah sebagai suatu panutan yang mendapat berkat.

Sebagai ketua SKN adalah Syeikh Hasyim tersebut. Bendahara Abdul Wahab dari Tambakberas yang memiliki 5 buah anak kunci yang berbeda-beda. Kelima anak kunci tersebut dipegang oleh lima orang anggota yang dipercaya , masing-masing memegang satu anak kunci. Sedangkan buku daftar dan berkas-berkas dokumen masing-masing berbeda pada H. Bashri dan Syekh Mansur. Keduanya adalah katib.

Semu anggota setuju bahwa badan usaha ini bergerak dalam bidang pertanian, bukan dalam bidang perdagangan karena dinilai sulit dan belum terbiasa. Dokumen pendirian badan usaha ini ditandatangani pada akhir bulan Rajab tahun 1336 Hijriyah.

“Semoga salawat dan salam tetap dilimpahkan kepada Nabi dan sahabatnya yang berhijrah.”

Para anggota telah bersepakat untuk minta Rechtpersoon[2] setelah dua atau tiga tahun. Ya Allah berilah keberhasilan. Amin. Seorang penyair menyatakan

jika ahli ilmu dan hujjah tidak lagi memberikan manfaat

Maka keberadaan Mereka ditengah Masyarakat sama saja dengan orang bodo.

Begitupun jika seseorang tidak memberikan manfaat kepada orang lain

Maka keberadaan mereka bagaikan duri diantara bunga.”

-1336 H-***

-Diambil dari buku Kumpulan Tulisan Majma’ Buhuts An-Nahdliyah (Forum Kajian Ke-NU-an) hal 2-9

Imam Syafi’I Mustofa
Kediri, 20 Agustus 2015

[1]Ini adalah istilah jaman penjajahan Belanda untuk menyebut suatu administrative pemerintahan setara dengan Kabupaten atau Kotamadya pada saat itu misalnya Gemeente Bandung. Istilah ini masih digunakan di Belanda sampai saat ini.

[2]Secara harfiah bermakna orang yang diciptakan oleh hukum, biasanya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Badan Hukum.