Karya

Tiidak ada karya besar tanpa proses yang panjang. Kesabaran adalah makan utama dan keuletan serta kerja keras adalah teman setia

Iklan

Menghargai Tulisan

Seberapapun banyak kata yang di tulis harus di hargai. Jika tak mampu mengahargai tulisanmu sendiri, maka jangan berharap untuk menjadi penulis yang bebas. Jangan berharap untuk bisa menikmati indahnya menulis. Menikmati segala apa yang keluar dari pikiran dan hati

Karena bayaran yang setimpal bagi penulis yang bebas adalah kepuasan itu sendiri. Ini dirimu bukan orang lain

NASIB DESA SETELAH DITINGGAL KIAI SHOLEH

Mungkin Tuhan telah memberi kutukan kepada desa kami setelah meninggalnya Kiai Soleh. Banyak kejadian yang tak terduga tiba-tiba muncul begitu saja. Kenakalan anak remaja yang dulu pernah menjadi momok di desa kami masih belum seberapa di Bangkinang dengan kutukan setelah meninggalnya Kiai Sholeh. Ada hal-hal yang aneh. Tiba-tiba saja kami melihat tetangga sebelah kini telah berganti profesi menjadi mucikari setelah di tinggal suaminya pergi. Padahal dulu ia adalah orang baik-baik. Siapa sangka bisa jadi begini?

Lima langkah dari rumah kami, saya mendengar kalau si Ilham kini terjangkit kegilaan. Padahal ia dulu sehat bugar badan dan akalnya tapi mengapa kini ia malah menjadi gila, saya sungguh tidak menduga sama sekali. Kenapa Ilham menjadi gila begini, luntang-luntung sendirian jalan kesana kesini tanpa tentu arah dan tujuan.

Tak hanya si Ilham, si Paijo yang katanya dulu jagoan kelas bab mata pelajaran apapun ia pasti bisa mengerjakan dengan cepat dan benar hingga guru-guru kami sangat bangga dengannya kini ia harus berbaring di rumahnya melamun entah kemana. Matanya kosong tanpa ada sorot kehidupan. Rumornya ia tak menyelesaikan skripsinya, ladalah ia yang membuat saya kaget tujuh keliling orang sepandai Paijo tak menyelesaikan skripsi ada apa gerangan?. Ternyata ia terkena sakit hati. Patah hati karena di tolak oleh orang yang ia sukai.

Dulu desa kami ramai, kini ia menjadi sepi karena di tinggal oleh para pemuda dan kepala keluarga merantau ke negeri sebrang. Tinggal orang tua yang sudah jompo dan beberapa wanita dan anak-anak. Masalah perantauan ini juga menjadi momok di desa kami. Bayangkan saja banyak istri-istri yang melakukan perselingkuhan yang konon ini sudah menjadi rahasia umum. Dan inilah yang menyebabkan beberapa lelaki yang sedang merantau tak kembali pulang ke kampung halaman.

Entah kutukan apa lagi yang akan di berikan Tuhan ke desa kami. Di masa yang akan mendatang setelah kini tiada lagi sesosok seperti Kiai sholeh

SAJAK PEMUDA

Melihat kebencian
Yang kini menggelora di atas bumi pertiwi
Melihat keutuhan NKRI
Yang kini mulai terancam bubar bercerai
Melihat cita-cita bangsa
Yang kini banyak pemuda yang lupa dan lalai

Para pemuda
Berkumpul diatas altar perjuangan
Bersama-sama melantunkan sumpah

Kami para pemuda Indonesia bersumpah atas nama tumpah darah pribumi diatas tanah ibu pertiwi tidak akan menyebarkan kebencian kepada sesama

Kami para pemuda Indonesia bersumpah atas nama tumpah darah pribumi diatas tanah ibu pertiwi akan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kami para pemuda Indonesia bersumpah atas nama tumpah darah pribumi diatas tanah ibu pertiwi akan menjunjung tinggi cita-cita luhur bangsa yang tertuang dalam pembukaan UUD 45 dan Pancasila

Menulis

“Tulisanmu jelek, dan tak ada media masa yang ingin memuatnya. Kenapa kau tetap saja menulis?. Itu hanya membuang waktumu saja”

“Menulis bagiku adalah kehidupan. Tak perlu di akui banyak orang. Cukup aku saja yang menikmati setiap goresan katanya. Karena bagiku menulis adalah kebebasan. Menulis adalah keabadian”

” Kau tahu…., di dunia ini banyak orang yang bisa menulis tetapi sedikit orang yang mau menulis”