Benih Radikalisme di Kampus Negeri

Tolak-radikalisme

Benih-Benih radikalisme sudah lama ada di Sekolah Negeri maupun Kampus Negeri. mereka menyebarkan pemahamannya lewat mentoring dan Kajian-Kajian Kampus

KAMMI (Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia) disinyalir berperan juga menyukseskan tumbuhnya benih-benih Radikalisme. Beberpa teman saya Mahasiswa yang mengikuti organisasi ini cara berpikirnya sudah berbeda dengan orang pada umumnya. Mereka lebih cenderung membela gerakan-garakan Islam Radikal

Kemudian HTI, walau di kampus tidak terlalu mencolok, tetapi kader-kader mereka begitu militan, Memyebarkan buletin-buletin di Masjid Kampus dan sekitarnya. Mengajak mahasiswa mahasiswa masuk HTI dengan getol, sampai-sampai sering-sering berkunjung ke kos targetnya dan membujuknya, menawarkan kos gratis dan lain sebagainya.

Cerita dari salah satu dosen di salah satu Kampus Negeri Surabaya, “Militannya Kader HTI itu begitu kuat, bayangkan saya sebagai dosen dengan terang-terangan di ceramahi dan di ajak untuk ke HTI”. Begituluah kader-kader militan HTI

Di tataran pegawai dan dosen, banyak sekali yang terjangkit radikalisme, baik dari haluan HTI maupun PKS, ketika saya menyebarkan buletin Aswaja di Masjid Kampus. dengan terang-terangan mereka bilang kalau mereka simpatisan HTI, menyalahkan dan mengkafirkan pemerintah karena telah membubarkan HTI.

Banyaknya Pegawai dan Dosen ini bisa di ukur dari perolehan suara pemilihan rektor yang selalu di dominasi oleh simpatisan HTI dan PKS.

 

Iklan

Nonlogisme Agama

images (4).jpeg

James Peacock dalam Purifying the faith (1978) menjelaskan bahwa mistik dalam praktik praktik magis-mistis selalu merupakan arus bawah yang kuat di jawa, karena Islam yang datang ke jawa adalah Islam Sufi. Yaitu islam yang mudah diterima serta diserap kedalam perpaduan budaya jawa yang cenderung mistis.

Karena itu Islam sufi dapat berbaur dengan tradisi tradisi Jawa yang cenderung magis dan mistis. Al-Hasil di perdesaan kita masih mendengar bahwa Kiyai itu punya ilmu kekebalan, Kiyai itu punya ilmu melihat kepribadian seseorang, Kiyai itu bisa melihat siapa dalang dari pencurian, Kiyai itu dapat bisa menangkal sihir dan sebagainya.

Bersifat nonlogis merupakan fakta budaya-budaya leluhur kita. Jika kita menolak fenomenan nonlogis tersebut bersiap-siaplah berjejer dibarisan orang-orang yang menjauh dari agama.

Agama Islam mengajarkan sifat ke nonlogisan. mengenai Keberadaan Allah yang tidak menyerupai apapun, adanya ada di mana-mana. Keberadaan malaikat, keberadaan Jin, Keberadaan Syaithon, dan kejadian kejadian di Alam Kubur dan di Alam Akhirat nanti. Ke nonlogisan ini harus di imani bukan dengan logika tetapi dengan hati yang percaya mutlak, atau bisa di sebut doktrin mutlak yang harus diterima tanpa ada embel-embel alasan ilmiah.

Sifat ke nonlogisan ini merembet kepada semua hal yang berhubungan dengan ke Ghoiban. dan di Tanah Jawa inilah leluhur kita adalah orang-orang yang serat keterikatannya dengan hal yang berbau magis dan mistis.

Maka tak hayal bila yang mampu menyebarkan Islam di bumi jawa ini adalah kekasih-kekasih Allah yang memiliki Karomah. Dengan modal dekatnya diri kepada Allah tersebut, maka hal-hal yang ghoib bisa di taklukan.

Fakta sejarah tidak bisa dipungkiri, Para Kiyai dan Santri melawan para penjajah juga menggunak hal-hal yang bersifat nonlogis. Bila anda pergi ke veteran pejuan Perang Sepuluh Nopember disuruh cerita, maka beliau beliau akan bercerita banyak hal tentang kenonlogisan. Bahwa Kiyai dari parakan itu memberi asma bambu runcing untuk di gunakan perang. Mbah Kiyai Makruf Kedung Lo Kediri memberi minuman kepada pejuang Sepuluh Nopember agar kebal dari tembak dan martil dan sebagainya. Al-hasil Jendral Malabi yang di gadang-gadangkan jendral terbaik akhirnya juga tumbang oleh rakyat pribumi.

Ke nonlogisan harus dicatat sebagai budaya leluhur kita. Apabila tidak. Maka bersiap-siaplah untuk kehilangan jati diri bangsa.

Berprestasi

Berprestasi tidak hanya disekolahan saja. Sebenarnya berprestasi itu ada di mana-mana. Carilah pekerjaan keseharian, jika ia bernilai baik maka dia menjadi berprestasi.

Yang tidak berprestasi adalah sebab yang mengarah ke kemunduruan diri. contoh: frustasi, ingin bunuh diri, merugikan orang lain, mendzolimi diri sendiri dan lain sebagainya.

Nah jadi berprestasi adalah sesuatu yang membuat kita merasa hidup, bisa menjadi bermanfaat, bisa tambah pinter, bisa tambah berguna bagi orang tua, bisa bantu teman dan lain sebagainya.

Sebab-sebab menuju berprestasi juga harus dimakanai prestasi. karena sebab itu membuat kita jauh dari hal yang tidak bermanfaat.

Berhentilah menghujat diri-sendiri tidak berprestasi. Selama masih hidup disitulah gudang untuk melakukan prestasi. Berprestasilah sejak dalam fikiran yaitu dengan cara berhusnudzon pada keadaan diri. mulailah menulis apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang di tulis.

Tokoh Dusun Tegal Rejo

Mbah yai Jamhari begitulah penduduk dusun Tegal Rejo menyebutnya. Namanya kini menjadi monumen hidup yang menjadi nama Majid, yaitu Masjid Jamhari, beliau merupakan sesepuh dusun Tegal Rejo pada waktu itu, jika sampean menyebut “Mbah Yai Jamhari” di dusun tersebut maka bisa di pastikan semua penduduk akan mengetahui.

Sejarah mungkin tidak mencatat melalului tulisan, tetapi cerita tentang nama beliau tersebar di dusun tersebut, bila ada selametan, tahlilan, atau diba’an tak lupa nama beliau pasti akan disebut. Ini menunjukan bahwa beliau merupakan sesepuh desa, bisa dibilang beliau adalah yang mbabat hutan (yang mengawali bertempat tinggal atau bisa juga disebut yang memberi nama dusun tegal rejo).

Bila mengacu pada putra beliau Mbah Yai Imam Asyari yang muda pada tahun 80 an dan beberapa cerita dari masyaraka yang tinggal di dusun tersebut yang dulu juga pernah menjadi santri Beliau dan saat ini masyarakat tersebut sudah berumur kira-kira 50-60 tahun, kita bisa menduga bahwa Beliau hidup di waktu sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.

Banyak kiyai-kiyai di sekita desa mengenal Beliau, karena dulunya kemungkinan besar beliau juga merupakan santri dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yang kemudain putra Beliau juga ikut menimba ilmu di Pondok tersebut sampai pada cucu-cucu beliau.

Salah satu monumen peninggalan beliau adalah adanya langgar yang terletak di depan Ndalem dan juga Nggandok (langgar Wedok/ langgar yang khusus untuk perempuan) yang ada di belakang Ndalem, yang dulu dijadikan tempat untuk ngawulo bagi para santriwati. Langgar yang ada di depan Ndalem beliau kini telah berubah menjadi Masjid Jamhari. Perubahan langgar ke masjid tersebut kira-kira dilakukan pada tahun 2009 dengan mendatangkan Mbah Yai Ahmad Sobrowi selaku Kiyai Sepuh desa, dengan alasan karena Masjid yang ada di desa Keniten sudah tidak mampu menampung jamaah dari dusun Tegal Rejo

Jika anda ingin berziarah ke makam Mbah Yai Jamhari, pergilah ke tempat pemakaman di belakang Masjid Jamhari, dan disitulah beliau di kebumikan.

 

Sumber: dari penulis sendiri, masih dimungkinkan ada kesalahan data

Pertentangan Penafsiran Modern

Menurut Al-Maududi “Tidak dapat disangkal bahwa manusia, dengan kedalaman pengetahuannya tentang alam dan hakikat-hakikat ilmiah, menyebabkan bertambah pula dalam pemahamannya tentang makna-makna Al-Quran. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa ia telah memahami melebihi pemahaman Nabi dan murid-muridnya (sahabat) yang memperoleh pemahaman tersebut dari Nabi saw”

hal ini menunjukan bahwa seorang profesor yang mendalami bidang ilmu pengetahuan, bukan berarti memahami makna-makna Al-Quran lebih baik. Karena pemahaman-pemahaman yang logis dan ilmiah menurut zamannya. Karena Al-Quran adalah firman Allah, Tuhan sekalian alam yang menguasai alam ghoib yang tidak mampu diterima oleh akal.

Penafsiran-penafsiran modern yang lebih mengedepankan akal akan terjebak dalam keilmuannya yang terbatas. Akan menjadi salah jika penafsiran-penafsiran tersebut sama sekali tidak berdasar kepada Nabi Muhammad, seperti penafsiran Rasyid Ridho yang menganggap “Al-jin” dalam surat Al-Annas sebagai kuman atau virus.

Pembaharu yang lain juga melakukan penafsiran dengan menggunakan penta’wilan semata-mata berdasarkan penalaran tanpa mengabaikan kaidah-kaidah kebahasaan. Dr. Mustafa Mahmud, misalnya menta’wilkan larangan Tuhan kepada Adam dan Hawa “mendekati pohon” sebagai larangan melakukan hubungan seksual. Walaupun salah satu argumntasinya adalah argumentasi ke-bahasaan, penafsiran ini sangat menggelikan pakar bahasa.

Menurut Mustafa, redaksi firman Allah sebelum mereka mendekati pohon adalah dalam bentuk mutsanna (dual), yakni “jangan kamu berdua mendekati pohon ini” (QS 2: 35). Tetapi, setelah mereka memaknainya (dalam arti melakukan hubungan seksual), redaksi berikutnya berbentuk jamak, yakni “Turunlah kamu semua dari surga … Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lainnya” (QS 2:36). Hal ini menurutnya, adalah bahwa tadinya Adam dan Hawa hanya berdua, tetapi setelah istrinya mengandung janin, maka mereka menjadi bertiga sehingga wajar bila redaksi beralih menjadi bentuk jamak.

Apa yang dikemukakan ini jelas bertentangan dengan teks ayat bertentangan dengan teks ayat dan berentangan pula dengan kaidah kebahasaan. Karena, bahasa tidak menjadikan janin yang dikandung sebagai wujud penuh, tetapi mengikuti kepada ibu yang mengandungnya dan karenanya walaupun seorang ibu mengandung berapa pun bayi yang dikandungnya ia tetap dianggap sebagai wujud tunggal

Contoh di atas membuktikan kekeliruan penta’wilan yang dilakukan semata-mata dengan menggunakan nalar tanpa pertimbangan kaidah kebahasaan.

Sementara pembaru dinilai sangat memperluas penggunaan ta’wil, tanpa suatu alasan yang mendukungnya. Kita dapat memahami motivasi sebagian mereka seperti motivasi Muhammad Abduh yang menggunakan akal seluas-luasnya dalam memahami ajaran-ajaran agama, sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah gaib. Namun, bila hal ini diperturutkan tanpa batas, maka ia dapat mengakibatkan pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional, sebagaimana ditemukan dalam pemikiran sementara pembaru. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan, khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam, sejarah kemanusiaan dan hal-hal gaib, berarti menggunakan sesuatu yang terbatas untuk menafsirkan perbuatan Tuhan (Zat Yang Mutlak itu).

Rangkuman: Membumikan Al-Quran M. Quraish Shihab h. 142-151