MUSTA LMB HARI KE 3

wpid-img_20140817_182307 (1)

Saat ini masih berlanjut Musyawarah Tahunan Lembaga Minat Bakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau di singkat MUSTA LMB ITS, agendq yang kemarin yaitu soal pembahasan LPJ an dari 35 UKM, dan siang ini alhamdulillah telah usai dan berganti ke agenda berikutnya yaitu pelaporan LPJ an pengurus LMB ITS.

Setelah istirahat sholat Magrib dan makan bersama dengan para presidium Sidang MUSTA LMB ITS di lanjutkan lagi sidangnya sampai malam hari ini dan masih membahas soal LPJ an Pengurus LMB ITS.

Iklan

DALANG MERUPAKAN TUHAN DARI SETIAP WAYANG

wpid-1280px-wayang_performance

Tradisi pewayangan sudah ada sejak  sebelum terbentuknya negara Indonesia, jauh sebelum kolonialsasi Belanda datang dan menduduki wilayah Nusantara. Banyak macam wayang, ada wayang golek, wayang rumput, wayang orang, dan wayang kulit. Dalam tatanan wilayah pun ada yang namanya wayang Jawa, wayang Bali, wayang Nusa Tenggara dan wayang Sunda. Wayang merupakan salah satu budaya asli yang dimiliki oleh Bangsa ini. Walaupun di Cina dan India sudah ada wayang, tetapi wayang di Nusantara berbeda dengan mereka. Perbedaan itu terjadi karena anak anak bangsa dulu merupukan orang-orang yang kreatif yang mampu menyaring budaya dari luar dan menginovasinya menjadi budaya yang khas menurut daerahnya masing-masing.

Wayang adalah tontonan yang sangat populer pada masanya, dahulu nenek moyang kita sangat antusias jika ada pagelaran wayang, mereka rela bermalam-malam bahkan sampai dini hari demi menunggu usainya acara pewayangan.

Dalang sebagai penggerak wayang, yang menjadi lakon dari para lakon pewayangan. Yang menjadi tokoh utama penentu laku dari setiap peran baik buruknya para wayang. Acap kali para penonton wayang terfokus pada peran-peran wayang pada lakon pementasan di panggung pewayangan dari pada dalang yang memainkannya. Ada yang bilang jika “rahwana itu memang tokoh yang jahat, kejam yang pantas menerima karma”,”Anoman kera yang sakti, lihat itu musuh musuhnya yang melawannya semuanya bisa di kalahkan”, “gatot kaca memang otot kawak balung besi”, “rama memang pantas untuk berjodoh dewi sinta”, “kalau kepengen pinter itu lihat si dewa genesa, sering-sering bawa buku” dan yang lainnya. Begitulah biasanya penonton lebih suka membicarakan lakon dari apa yang diperankan para wayang.

Terkadang kita lupa bahwasanya dalang itulah yang menciptakan huru-hara di dunia pementasan wayang. Jahatnya Rahwana itu hakikatnya bukan jahatnya Rahwana, dan kebaikan Rama itu pula bukan miliknya kebaikan Rama namun milik dalang yang mempunyai hak untuk melakonkan setiap laku wayang.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari tontonan pewayangan. Di sana penuh dengan serat makna pesan kesan kehidupan. Berbeda dengan tontonan sekarang yang lebih cendrung menyesatkan. Wayang mengingatkan kita bahwa sekenario lakon di dunia ini adalah milik Tuhan, kita hanya menjadi perannya saja.

Jika kita baik, itu bukan kebaikan kita, itu kebaikan Tuhan. Yang mengalirkan darah kan bukan kita, juga mendetakkan jantung, melihat, mendengar, mempunyai gairah beribadah tinggi dan lainnya. Jika ada orang yang berlaku buruk sebenarnya bukan kok orang itu buruk asli dari dalam dirinya yang ia mampu membuat keburukan, itu merupalan kehendak Allah. Allah sebagai dalang dari apa apa yang diciptakannya.

Memandang dengan banyak Cinta dan khusnudzon kepada setiap wayang, ya seharusnya penonton bersikap seperti itu karena sebenarnya baik maupun buruk itu karena peran yang dijalankan oleh dalang, tidak usah mengeklaim bahwasanya Rahwana itu jahat dan pantas kalau kita bakar, kita bunuh, hingga sampai sampai ketemu wayang Rahwana ia ingin merusaknya, menginjak-injakinya.

Juga si Rama yang cendrung di ciptakan lebih menawan, kalau dalam bentuk orang Rama akan menjadi seorang yang sangat tampan, perilaku budi pekertinya, kebijaksanaanya itu semua merupakan ketentuan dalang seutuhnya, dalang memiliki kekuasaan seratus persen menetapkan tingkah laku dari si Rama.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memang hanya Allah lah yang pantas untuk di puji, sebagaiman dalang. Allah sebagai dalangnya segala hal yang Dia ciptakan, dalang dari lakon dunia ini.

Apa yang bisa kita ambil ketika kita mengetahui bahwasanya Allah yang menggerakkan kita, yang mengalirkan darah kita, detak jantung, mata yang melihat, angin yang bertiup, panasnya api, berotasi maupun berevolusinya bumi, dan segala hal kejadian di dunia ini. Tentunya kita akan malu jika di dalam hati ini ada rasa kepemilikan dan rasa sombong terhadap diri kita, akal, fikiran, jiwa dan tingkah laku kebaikan kita.

Jika ada seorang kiai yang alim, budi pekerti yang baik maka sesungguhnya itu milik Allah, dan pula jika ada seorang pencuri yang sangat kejam, jika ia mencuri pasti selalu melukai yang orang di curinya bahkan terkadang membunuhnya, itu sesungguhnya juga sekenario lakonnya Allah.

Lakon dalang sebagai lakonnya Allah, yang intinya kita sebagai pelakaon wayang juga sekaligus penonton dari dunia lakon wayang. Jangan lah memandang seseorang yang sangat baik dengan wah hingga kita lupa bahwa itu semua adalah lakon yang di berikan Allah kepada orang tersebut. Kepada seseorang yang sangat buruk kelakuannya janganlah memandang orang itu dengan amat sangat benci. Itu semua merupakan juga lakon Allah yang di takdirkan untuk orang tersebut.

MUSTA LMB HARI KE 2

wpid-wp-1408157972288

Dimulai sejak kemarin yaitu pada hari jumat di ruang FTI lantai 3 pukul 08.00 WIB. Di hadiri oleh seluruh UKM yang dalam naungan LMB ITS yang berjumlah 35 UKM.

Setelah pembacaan tata tertip terpilihlah tiga pimpinan sidang tetap, salah satunya adalah pragola sebagai pimpinan sidang 1, agenda berikutnya adalah LPJ an setiap UKM.

Sampai hari ini, yaitu hari kedua dari Sidang MUSTA LMB ITS. Masih membahas LPJ an UKM.

DIBA’ SEBAGAI BAHASA SYAIR BUKAN BAHASA HUKUM

wpid-mahalul2bqiyam

Tulisan ini aku persembahkan untuk orang-orang yang aku cintai di manapun keberadaannya, di daerah yang berbeda, di budaya yang berbeda, beda masa, pun juga beda alam kehidupan. Karena ku mencoba untuk meniru cinta Rosullullah yang amat besar cintanya terhadap manusia baik yang tidak senang terhadap beliau, “Ummati ummati ummati” begitulah ucapan belia sebelum meninggal kami sendirin di dunia ini.

Nabi Muhammad sebagai ruh sinar yang menerangi alam semesta, ruh dari para ruh, yang namanya digunakan  sebagai maskawin pernikahan antara Nabi Adam dengan Siti Hawa. Nabi Muhammad bagai Mataharinya Dunia di kala siang dan Rembulannya Dunia di kala malam, selalu menemani kita menuntun ke jalan yang benar menuju ridho Allah dengan cahayanya, Nabi Muhammad adalah Raja dari segala Raja yang ada di alam ini.

Pujian seperti ini menurut hemat saya tidak lah berlebihan untuk beliau sebagai kekasih kita bersama, keagungan akhlaknya, keindahan tingkahlakunya, kejernihan hati dan jiwanya serta  cintanya yang amat berlebih-lebihan terhadap kita bersama. Memang cinta Nabi Muhammad terhadap kita terlalu berlebihan, sampai-sampai beliau berani berdoa kepada Allah agar seluruh umatnya nanti bisa bersama-sama beliau masuk surga, padahal beliau tahu bahwaaanya itu tidak mungkin di kabulkan, orang yang dosanya banyak ya pastinya akan masuk neraka dan yang masuk neraka nanti akan lebih banyak daripada orang yang masuk surga.

Jika hanya dengan mengibaratka Nabi Muhammad sebaga Matahari dan Bulannya dunia itu tak seberapa, itu juga tidak berlebihan untuk mengungkapkan cinta kita terhadap Nabi Muhammad. Yang tidak boleh itu jika kita memuji dan menganggap Nabi Muhammad Sebagai Tuhan setelah Tuhan Allah, atau sebagai Anak Tuhan yang akan mencedrai sifat Allah sebagai Tuhan yang tak beranak maupun diperanakkan.

Untuk teman-temanku yang tidak suka terhadap sholawatan, terhadap pembacaan maulid diba’ dengan alasan sholawatan tidak ada hadisnya dan kebanyakan syairnya terlalu berlebih lebihan dalam memuji Nabi Muhammad. Sampai-sampai  membidahkan tentang sholawatan dengan alasan seperti di atas.

Teman-temanku coba kita pahami apa itu kalimat hukum apa itu kalimat yang bukan hukum seperti syair dan puisi. Kemudian apa itu syair apa itu puisi dan apa pula bahasa itu. Kalau Nabi Muhammad itu bagaikan Matahari dan Rembulan itu pastinya bahasa Syair dan tolong dimaknai sebagai bahasa syair jangan dimaknai dengan bahasa hukum, bahasa syair itu boleh dalam kata-katanya berlebihan. Beda jika memaknai bahasa hukum, bahasa hukum ya kita latakkan di makna dan maksud hukum seperti Undang-Undang Dasar 45. maknanya akan jadi aneh jika bahasa syair di maknai bahasa hukum dan bahasa hukum dimaknai bahasa syair semisal pada kalimat “nabi Muhammad bagaikan matahari”, jelas jelas nabi Muhammad itu Manusia mempunyai kaki tangan kepala kok bisa bisanya di sebut bagaikan matahari, itu kalau syair di maknai hukum.

Kalau teman-teman melarang bersholawatan ber maulid diba’an atas dasar kata-kata pujiannya terlalu berlebihan maka seharusnya puisi dan syair di Indonesia juga dilarang karena kata-katanya ngawur dan tidak objektif, lagu tak boleh di lagukan karena syairnya yang terlalu lebay dah bahkan ada yang terlelu berlebihan seperti “tanpamu aku tak bisa hidup”, orang berpuisi untuk merayu istrinya untuk bermesra-mesrahan pun seharusnya tidak di bolehkan, bahkan seharusnya kita harus menggugat Allah soal bahasa al-Quran, kenapa memakai bahasa yang indah yang seperti keindahan syair, bahkan lebih indah. Kenapa ada makna Qiyasan pula dalam beberapa ayat, Kenapa kok semua ayat tidak dibuat dengan bahasa hukum saja seperti UUD 45 yang lebih jelas maknanya.

Di dalam al-Quran ada ayat yang artinya kurang lebih seperti ini “istrimu adalah seperti pakaian untukmu” jika kita maknai sebagi hukum maka itu mustahil untuk di amalkan, bagaimana cara memakainya. Pakaian ya pakaian, istri ya istri, pakaian bukanlah istri, istri jugalah bukan pakaian.

Begitulah saya memaknai sholawat diba’ dan sholawat yang lainnya, memaknai dengan bahasa syair bukan bahasa hukum,  yang artinya boleh melebih lebihkan, karena ranahnya syair adalah berlebih lebihan dalam berkata kata. Jika memang dalam syir diba’ itu tidak ada hadistnya saya tasa kok tidak, soalnya sebenarnya kata-kata dalam setiap syairnya semua ada dasar hadisnya jika teman-teman benar benar mempelajarinya lebih mendalam.