KATA

Bayangan hanyalah bayangan. Tanpa tereksplorasi dengan kejelian tinggi. Ia hanya akan menjadi keabstrakan. Tak terbukti dan tak berguna bagi sekitar. Bekerjalah dengan keras untuk merubah bayangan itu menjadi sebuah kenyataan yang sempurna

Iklan

Konsumsi

Nutrisi dan segala tetek bengek
Mengalir berderet-deret keulu hati
Memberi warna pekat pada sang buah
Bersatu dengan jiwa menjadi diri

Siapa sangka air yang kau minum
Nasi yang kau makan
Terjangkit oleh penyakit-panyakit
Menjalar menuju otak pikirmu

Kau sebut apa dan siapa
Membeda siapa kawan siapa lawan
Siapa benar dan siapa salah
Tanpa tolerir diri memandang pekat

Hujan kian memanas
Dan kau semakin asyik bergoyang
Dalam keheningan tetas
Di ruang yang begitu tenang

Sandal Itu Sebabnya

Oleh : Memori 3

Larilah secepat yang kamu bisa. Secepat-cepatnya hingga kamu lupa, kalau kamu memang sedang berlari dengan cepat. Kalau dalam kegelapan malam, memang tak salah jika hati menjadi merinding. Apalagi itu ketika kamu berada di jalan yang tidak ada lampunya sama sekali, di tengah pepohonan rindang yang panjang dan besar, jauh dari rumah penduduk. Itupun pas jam 02.00 dini hari.

Hanya berbekal angklung dan alat tabuh sederhana, para rombongan anak udik berjalan-jalan di tengah dinginnya embun malam. Anak-anak koplo sok jadi pahlawan kesiangan itu. Eh saya kira pahlawan kemalaman lebih cocok untuk mereka. Pahlawan pembangun sahur ala kadar yang membuat gila seisi rumah. Hanya bermodalkan alat tabuh yang sederhana, dan mulut yang nyrocos sahur-sahur mereka semua bangga, seakan-akan telah menjadi pahlawan tanpa jasa.

Berjalan di malam hari memang mengasikkan bagi anak udik kurang pekerjaan tersebut. Apalagi sambil lihat ke langit, mengawasi tebaran bintang yang menyala dengan cantik. Tetapi jangan salah fokus kawan, karena ada yang lebih cantik daripada tebaran bintang yang menyala itu. Adalah mangga yang sedang mau matang, berwarna kemerah-merahan.

Jangan salahkan mereka jikalau ada batuan yang terbang kelangit demi mendapat secokot mangga. Mereka hanya anak-anak udik yang mencari kesenangan kecil. Ya benar kecil, karena hanya menyolong mangga. Apa salahnya coba menyolong mangga, daripada menyolong duitnya rakyat yang belum tentu bisa bikin ketawa lebar seperti tawanya anak-anak udik terswbut.

Malam menjadi habitat yang nyaman bagi anak-anak udik tersebut. Bagai kelelawar yang melakukan aktifitasnya di malam hari mencari makan untuk bekal tidur siang besoknya.

Kejadian itu memang bersambung dengan cerita-cerita aneh yang selalu menjadi bahan pasok ketawa. Bagi rakyat desa, apalah yang lebih berharga dari pada sekedar bisa tertawa lebar bersama. Kalau main gedget ya gedgetnya siapa yang mau di mainkan, lawong uang sudah ludes habis beli jajan. Bayangkan bro… Berapa jumlah pesangon mereka ketika pergi kesekolah. Cuman 500 rupiah, buat beli apa coba?

Salah satu kejadian itu sebab-musebabnya adalah perkara sandal, dan hawa propaganda-propaganda dari senior-senior yang iku ronda. Entah akibat bisikan siapa grombolan anak-anak udik tersebut ingin melewati sebuah jalan yang sepi, gelap dan sunyi. Hanya suara jangkrik dan hewan melata lainnya yang mengisi suara di jalan tersebut.

Terlihat tenang, berjalan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Seakan-akan berjalan mulus tanpa halangan apapun. Dan guyonan serta bercengkrama dengan sesama. Tetapi setelah lama kelamaan sura tertawa dan cengkrama itu mulai pudar diganti dengan kesunyian kata dalam grombolan tersebut dan terdengar suara langkah yang semakin dipercepat. Sedikit demi sedikit frekuensi kecepatan di tambah. Semakin jauh mereka berjalan semakin kegelapan yang mereka hadapi. Dan semakin cepat mereka berjalan semakin cemas pula keadaan hati anak-anak udik tersebut.

“Bos jangan cepat-cepat jalannya. Dan jangan lari, takut aku” harap si kecil yang mendadak ketakutan. Dan salah satu senir menanggapiny. “Iya, iya santai-santai, jangan lari lo ya jangan lari”. Begitulah pesan senior yang agak gugup melafalkan katanya. Habis itu ketegangan masih saja ada dan bahkan frekuensinya lebih tinggi dan semakin tinggi. Tibalah suatu suara yang tak sengaja atau bahkan memang di sengaja berucap ” satu, dua, tiga”. “Gruduk”. Akhirnya pecah juga ketegangan yang lama mengekang anak-anak udik tersebut. Mereka berlari terbirit-birit di dalam ruang gelap yang hanya menggunakan insting saja sebagai petunjuk jalan. Tak peduli dengan teman deisamping kanan-samping kiri, ketakutan yang telah merasuki jiwa mereka membuat larinya semakin cepat dan tak kenal lelah sebelum keluar dari labirin kegelapan tersebut.

Memang begitulah watak anak-anak udik tersebut, tidak bisa di ajak kerja sama jika sudah mencapai puncak ketakutan yang membuat rasa kemanusiaan mereka menjadi buran. Teman itu penting jika bisa buat tertawa, tetapi tidak jika hanya buat sengsara saja. Begitulah adanya, maklum mereka masih anak-anak.

Akhirnya gerombolan tersebut sampailah pada titik jalan yang terdapat pencahayaan, mereka keluar dari kegelapan itu dengan selamat semua serta dengan napas yang ngos-ngosan pula. Namun tiba-tiba ada suara rengekan tangisan dari belakang. “Sandal ku ketinggalannnnnnnnnnnn”.

Pilih Yang Benar, Jangan Sampai Salah

8b94445d-2cc8-4f57-bb60-ae9400e7c933Suatu ketika ada sebuah pertanyaan. “Islam itu memang harus bersatu ya?”, dengan polosnya saya menjawab. “Ya harus bersatu”. Tetapi setelah beberapa saat kemudian saya baru menyadari kalau islam itu memang bersatu pada zaman Rosulullah masih hidup, dan setelah itu islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan yang dan hanya satu yang akan masuk surga. ini membuat saya untuk berhati-hati dalam memilih golongan tersebut.

Pastinya mereka bukanlah orang-orang yang menyebarkan dakwahnya secara provokatif untuk menggiring masanya sesuai dengan agenda mereka. Dengan menghalalkan segara cara, dan memaknai Al-Quran dan Al-Hadist sesuai dengan keinginan mereka. Kalau ada ayat A yang sesuai dengan keinginan kelompok, mereka mengambilnya. Kalau ada ayat B yang bisa di maknai beberapa tafsiran yang berbeda, mereka mengambil tafsiran yang mendukung agenda mereka. Pun juga dengan hadist, mereka juga memilah dan memilih hadist mana yang sesuai dengan agenda mereka, walaupun hadist itu tidak soheh sekalipun. Kalau ada hadist soheh yang tidak mendukung agenda mereka. Bagaimanapun shohihnya hadist tersebut mereka akan mencari dan mencari argumentasi yang melemahkan hadist tersebut atau paling tidak membelokkan makananya agar mendukung kepentingan mereka.

Ini terbukti dari tafsir Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51. Banyak sekali kalangan islam yang berbeda pendapat. Namun golongan yang tahu bahwa jika ayat 51 di dalamnya terdapat kata Auliya jika dimaknai pemimpin, ia akan untung banyak dan menjadi senjata ampuh untuk menggerakan masa menggulingkan negara, mereka akan berteriak keras untuk memanfaatkannya guna mendukung kepentingan mereka. Dengan begitu mereka dengan keras menolak tafsir selain itu, bagaimanapun caranya dengan argumentasinya, mereka menolak dan menuduh orang-orang yang berbeda pendapat sebagai pembela dan pendukung non muslim untuk menjadi calon gubenur di negara Indonesia. padahal maksut orang yang menafsirkan itu tidak sama sekali untuk membela salah satu calon.

Tetapi mengingat bahwa tafsiran yang berbeda itu melemahkan argumentasi yang bisa memacu semangat kaum muslimin untuk bisa di ajak berdemo pada tanggal 04 Nopember 2016. Maka menuduh golongan yang berbeda pendapat tersebut sebagai golongan yang membela non muslim untuk menjadi pemimpin dan tidak membela kepentingan islam itu sendiri.

Kejadian ini persisi sama halnya dengan kejadian pembunuhan sayyidina Ali, yang ketika itu ada konflik antara Ali dengan Muawiyah. Untuk memenangkan strategi perang melawan Ali, Muawiyah mengguanakan segala cara yang menguntugkannya, tidak memandang itu cara licik ataupun cara pengecut. Sebagaimana kita ketahui ketika pasukan muawiyah hampir kalah mutlak dengan pasukan Ali, Muawiyah dengan tegasnya mengangkat Al-Quran di atas tombak untuk menghentikan peperangan dan mengatur strategi merebutkan kekuasaan berikutnya. Ia mengaku kalah pada waktu itu.

Demi mencapai tujuannya untuk menjadi penguasa saat itu, maka terjadilah pembunuhan terhadap Sayyidina Ali. Dan persisi setelah itu Muawiyah tampil menjadi penguasa umat sedunia sedunia, dan memberlakukan tafsir Al-Quran dan Aqidah Islam sesuai dengan apa yang bisa membuat langgeng kedudukannya. Seperti halnya pembunuhan terhadap Syyidina Ali adalah Takdir Allah yang tidak bisa kita hindari, dengan begitu maka urusan dengan pengikut Ali pada waktu itu bisa kelar dan meredam kemarahan umat islam pada waktu itu dan membuat kekuasaan Muawiyah bisa menjadi langgeng karena dengan begitu tidak akan terjadi pembrontakan.

Penafsiran Al-Quran dan Al-Hadist serat Aqidah Islam yang sesuai dengan konteks yang menguntungkan bagi pihak yang berkuasa tidak berhenti pada waktu itu saja, pun ketika di zaman kekhalifaahan Abasiyah, pemerintah juga menerapkan salah satu Aqidah saja yang mendukung langgengnya kekuasaan dan memarjinalkan Aqidah Islam yang lain yang tidak mendukung kekuasaannya.

Bagaiman kita menangkap fenomena sejarah ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk menyikapi Al-Maidah ayat 51 ini, isu yang dilemparkan kepublik mengenai penistaan yang dilakukan oleh calon Gubenur Ahok harus kita sikapi dengan kepal dingin dan jernih, jangan sampai emosi kita unggulkan di atas segalanya. Hingga kita tidak sengaja telah menghina, memperolok dan berkata kotor yang tidak mencerminkan prilaku Islam sama sekali. Kita perlu melihat lagi sebenarnya yang di ucapkan Ahok itu apakah memang benar bahwa Al-Maidah Ayat 51 itu tidak benar artinya, atau yang tidak benar adalah politikus-politikus yang mencoba memanfaatkan surat Al-Maidah ayat 51 tersebut.

Sekalilagi umat islam di akhir zaman akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat. Anda harus berhati-hati memilih mana golongan yang selamat itu. Pastinya anda tidak akan memilih golongan yang memanfaatkan Agama Islam hanya untuk kepentingan politik saja kan dan juga tidak memilih golongan yang tidak mencerminkan prilaku Islam, yang mengumbar berita-berita propaganda untuk melahirkan kekacauan di negeri yang damai ini, yang mengumbar kata-kata kotor di media sosial, dan yang mengkafir-kafirkan sesama muslim sendiri. Jika anda tidak memilihnya berarti otak dan hati anda sampai saat ini masih jernih.