Tokoh Dusun Tegal Rejo

Mbah yai Jamhari begitulah penduduk dusun Tegal Rejo menyebutnya. Namanya kini menjadi monumen hidup yang menjadi nama Majid, yaitu Masjid Jamhari, beliau merupakan sesepuh dusun Tegal Rejo pada waktu itu, jika sampean menyebut “Mbah Yai Jamhari” di dusun tersebut maka bisa di pastikan semua penduduk akan mengetahui.

Sejarah mungkin tidak mencatat melalului tulisan, tetapi cerita tentang nama beliau tersebar di dusun tersebut, bila ada selametan, tahlilan, atau diba’an tak lupa nama beliau pasti akan disebut. Ini menunjukan bahwa beliau merupakan sesepuh desa, bisa dibilang beliau adalah yang mbabat hutan (yang mengawali bertempat tinggal atau bisa juga disebut yang memberi nama dusun tegal rejo).

Bila mengacu pada putra beliau Mbah Yai Imam Asyari yang muda pada tahun 80 an dan beberapa cerita dari masyaraka yang tinggal di dusun tersebut yang dulu juga pernah menjadi santri Beliau dan saat ini masyarakat tersebut sudah berumur kira-kira 50-60 tahun, kita bisa menduga bahwa Beliau hidup di waktu sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.

Banyak kiyai-kiyai di sekita desa mengenal Beliau, karena dulunya kemungkinan besar beliau juga merupakan santri dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yang kemudain putra Beliau juga ikut menimba ilmu di Pondok tersebut sampai pada cucu-cucu beliau.

Salah satu monumen peninggalan beliau adalah adanya langgar yang terletak di depan Ndalem dan juga Nggandok (langgar Wedok/ langgar yang khusus untuk perempuan) yang ada di belakang Ndalem, yang dulu dijadikan tempat untuk ngawulo bagi para santriwati. Langgar yang ada di depan Ndalem beliau kini telah berubah menjadi Masjid Jamhari. Perubahan langgar ke masjid tersebut kira-kira dilakukan pada tahun 2009 dengan mendatangkan Mbah Yai Ahmad Sobrowi selaku Kiyai Sepuh desa, dengan alasan karena Masjid yang ada di desa Keniten sudah tidak mampu menampung jamaah dari dusun Tegal Rejo

Jika anda ingin berziarah ke makam Mbah Yai Jamhari, pergilah ke tempat pemakaman di belakang Masjid Jamhari, dan disitulah beliau di kebumikan.

 

Sumber: dari penulis sendiri, masih dimungkinkan ada kesalahan data

Iklan

Pertentangan Penafsiran Modern

Menurut Al-Maududi “Tidak dapat disangkal bahwa manusia, dengan kedalaman pengetahuannya tentang alam dan hakikat-hakikat ilmiah, menyebabkan bertambah pula dalam pemahamannya tentang makna-makna Al-Quran. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa ia telah memahami melebihi pemahaman Nabi dan murid-muridnya (sahabat) yang memperoleh pemahaman tersebut dari Nabi saw”

hal ini menunjukan bahwa seorang profesor yang mendalami bidang ilmu pengetahuan, bukan berarti memahami makna-makna Al-Quran lebih baik. Karena pemahaman-pemahaman yang logis dan ilmiah menurut zamannya. Karena Al-Quran adalah firman Allah, Tuhan sekalian alam yang menguasai alam ghoib yang tidak mampu diterima oleh akal.

Penafsiran-penafsiran modern yang lebih mengedepankan akal akan terjebak dalam keilmuannya yang terbatas. Akan menjadi salah jika penafsiran-penafsiran tersebut sama sekali tidak berdasar kepada Nabi Muhammad, seperti penafsiran Rasyid Ridho yang menganggap “Al-jin” dalam surat Al-Annas sebagai kuman atau virus.

Pembaharu yang lain juga melakukan penafsiran dengan menggunakan penta’wilan semata-mata berdasarkan penalaran tanpa mengabaikan kaidah-kaidah kebahasaan. Dr. Mustafa Mahmud, misalnya menta’wilkan larangan Tuhan kepada Adam dan Hawa “mendekati pohon” sebagai larangan melakukan hubungan seksual. Walaupun salah satu argumntasinya adalah argumentasi ke-bahasaan, penafsiran ini sangat menggelikan pakar bahasa.

Menurut Mustafa, redaksi firman Allah sebelum mereka mendekati pohon adalah dalam bentuk mutsanna (dual), yakni “jangan kamu berdua mendekati pohon ini” (QS 2: 35). Tetapi, setelah mereka memaknainya (dalam arti melakukan hubungan seksual), redaksi berikutnya berbentuk jamak, yakni “Turunlah kamu semua dari surga … Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lainnya” (QS 2:36). Hal ini menurutnya, adalah bahwa tadinya Adam dan Hawa hanya berdua, tetapi setelah istrinya mengandung janin, maka mereka menjadi bertiga sehingga wajar bila redaksi beralih menjadi bentuk jamak.

Apa yang dikemukakan ini jelas bertentangan dengan teks ayat bertentangan dengan teks ayat dan berentangan pula dengan kaidah kebahasaan. Karena, bahasa tidak menjadikan janin yang dikandung sebagai wujud penuh, tetapi mengikuti kepada ibu yang mengandungnya dan karenanya walaupun seorang ibu mengandung berapa pun bayi yang dikandungnya ia tetap dianggap sebagai wujud tunggal

Contoh di atas membuktikan kekeliruan penta’wilan yang dilakukan semata-mata dengan menggunakan nalar tanpa pertimbangan kaidah kebahasaan.

Sementara pembaru dinilai sangat memperluas penggunaan ta’wil, tanpa suatu alasan yang mendukungnya. Kita dapat memahami motivasi sebagian mereka seperti motivasi Muhammad Abduh yang menggunakan akal seluas-luasnya dalam memahami ajaran-ajaran agama, sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah gaib. Namun, bila hal ini diperturutkan tanpa batas, maka ia dapat mengakibatkan pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional, sebagaimana ditemukan dalam pemikiran sementara pembaru. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan, khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam, sejarah kemanusiaan dan hal-hal gaib, berarti menggunakan sesuatu yang terbatas untuk menafsirkan perbuatan Tuhan (Zat Yang Mutlak itu).

Rangkuman: Membumikan Al-Quran M. Quraish Shihab h. 142-151 

 

Mencari Rindu

Pusaran kehidupan - Heno Airlangga, 55cm x 45cm, 2016

Bahkan tanah sendiri adalah rindu. Diam-diam ia merinduimu. Memeluk teman hidupmu yang engkau campakan ketika takdir telah memisahkan dirimu darinya. Ketulusannya sudah tidak diragukan lagi. Ialah yang menyelamatkan setiap keburukan wajahmu saat hirup udara tak lagi bersemayam di dalamnya

Tetapi apa itu rindu?

Rindu adalah yang memisahkan antara langit dengan bumi, membentangkan jarak untuk merajut keseimbangan alam, ia hadir bak tangisan hujan yang turun dari langit menghantam tanah dengan kerasnya, lalu berkumpul bersatu padu dalam sebuah genangan, meresap kedalam tanah dan menumbuhkan benih-benih kehidupan

Tanyakan kepada langit

Ada apa dengan langit. Langit yang membentang luas tanpa tepi pun rindu pada sajak bumi yang terhampar penuh dengan warna hijau dan biru. Lihat saja warna langit itu, ketika awan tak menghalangi pandang ia akan menunjukan warnanya sama dengan samudra, biru seolah olah berdempetan bersatu padu ingin menyatu antara tepi samudra dengan tepi cakrawala

Rindu adalah jarak. Ia adalah jarak yang sengaja dibentangkan agar membentuk harmonisasi, keindahan, dan rasa cinta. Lihatlah rel kereta itu, jika ia menginginkan menyatu padu maka hanya kerusakan yang akan di dapat. Bila ia ingin berpisah lebih dari sejengkal jarak yang di tentukan, maka hanya akan ada keruntuhan bagi kereta dan mencelakakan penumpang di dalamnya

Rindu itu berjarak agar engkau dan aku tau apa itu rasa ingin bertemu. Rindu adalah kejernihan air tawar yang mampu meluluhkan segala amarah, memadamkan gejolak api ego yang membakar setiap kejernihan akal dan hati.

Bagaimana dengan rindu yang tersembunyi?

Rindu yang tersembunyi. Tanyakan kepada akar yang diam-diam bersembunyi di dalam tanah menjauhi daun untuk menciptakan jarak kerinduan. Akar adalah simbol dari petapa dan manusia bijak. Ia tak ingin tampak terlihat di dunia luar, tetapi diam diam ia bersungguh sungguh mencari nutrisi untuk kebaikan daun. Rindunya adalah rindu keikhlasan. Merelakan diri untuk berjauh diri dengan daun untuk menciptakan bentang rindu.

Bagaimana dengan tanah?

Tanah adalah tempat berpijak. Tempat bercukul pepohonan. Tempat dimana mahluk hidup melakukan aktivitas sehari hari. Tanah adalah simbol ketabahan. Tanah adalah ibu yang bersemayam rindu pada peluk setiap mahluk yang bernyawa. Yang menelan segala buruk, yang menerima segala injak, yang menampung segala acuh. Tetapi dengan setianya ia menunggu bersatu padu dengan mu, seolah olah tak ada rasa jemawah terhadap sikapmu yang campak itu

Mungkin kau tak perah tau kejujuran hatimu bahwa kau masih menginginkannya untuk selalu hadir menemanimu tatkala jarak membentang. Itulah guna rindu di ciptakan. Kebenaran kasih sayangmu kepadanya akan terbukti jika kau merasa rindu, Apalagi jika rindu itu membumi di dalam hatimu. Cinta akan nampak seketika itu

Bayang lamunan dan wajah yang terngiang di awang. Seolah-olah hadir di depan mata. Rindu yang begitu membumi akan membawamu masuk dalam dunia lain. Dunia yang berbeda dari dunia selayaknya. Bagi para rasionalis mereka tak akan mampu menerjemahkan dunia itu, karena dunia itu bukanlah dunia yang mampu diterjemahkan oleh rasional tetapi ia hanya mampu diterjemahkan oleh hati.

Ceritakan soal rindu yang menjadi abu

Seperti api yang menggerogoti kayu menjadi abu. Jangan salahkan api, karena tanpa api tak akan ada wedang kopi, tak akan ada hidangan yang menawan, tak akan ada nyala lilin, tak akan ada kehangatan. Rindu yang membelenggu, yang mengikat dan memaksakan ingin bertemu. Manakala ia sudah menjadi buta tak mampu mengenal diri dan posisi. Rindu itu akan membakar dirinya layaknya api membakar kayu.

Jika sudah seperti itu hanya menunggu sebuah keajaiban turun dari titah langit. Menjemput ajalmu atau memberi hidayah dengan mengenalkan rindu yang lain. Mengokohkan setiap jejakmu menuju kesetiaan rindu yang tak pernah melukaimu

Tapi ada satu rindu yang menyinari cakrawal

Rindu itu bak cahaya yang bersinar dari ujung dunia, pusat dari segala peradaban. Ia senantiasa ada di dalam hati untuk menuntun kepada jalan yang benar. Rindu yang dirindukan oleh kerinduan kasih tiap zaman. Rindu yang tidak mengenal waktu dan jarak. Rindu yang senantiasa berubah menjadi rahmat bagi yang merindukannya

Rindu itu diturunkan di padang pasir. Terik matahari dan ancaman kehausan adalah bayaran untuk menjumpainya. Bak sebuah oase yang dirindukan oleh pengembara di saat panasnya gurun pasir telah sampai pada kerongkongan. Nafas tersengal sengal sambil mengucapkan nama “rindu”

Rindu itu telah sampai pada telinga surga yang membuatnya menangis ingin berjupa. Pada wajah yang meneduhkan yang senyumnya bagai mutiara alam semesta. Karena dari cahayanya itulah surga di ciptakan

Bagi kaum termarjinalkan rindu itu menjadi pahlawan. Bagi para pencari kebenaran rindu itu adalah segarnya minuman saat dahaga melanda. Bagi para saudagar rindu itu adalah kepercayaan. Dan bagi alam semesta rindu itu adalah rahmat dan cinta kasih yang amat nyata

Ujung dari kerinduan

Dari gelapnya dunia maka yang nyata adalah ke Esa an yang tunggal. Muara dari segala rindu. Tujuan dari segala perindu. Ialah pemilik segala rindu. Yang mengatur tatanan dunia ini. Yang berhak menentukan takdir, yang di puja, yang Maha Tunggal dan yang kekal

Memiliki sembilan puluh sembilan nama mulia yang mencerminkan kuasanya dan kasih sayangnya. Bumi, langit, tanah, pohon, hewan, bintang semuanya beredar dengan menyebut asmanya. Rindu mereka bagai rindu kepasrahan diri seutuhnya. Di tempatkan dimanapun mereka berada, mereka siap memancarkan kerinduan kepadanya dengan cara mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Beginilah segenap rindu yang beredar terus menerus keluar masuk jantung manusia, ia ada untuk mengesakan yang maha tunggal.