Mencari Rindu

Pusaran kehidupan - Heno Airlangga, 55cm x 45cm, 2016

Bahkan tanah sendiri adalah rindu. Diam-diam ia merinduimu. Memeluk teman hidupmu yang engkau campakan ketika takdir telah memisahkan dirimu darinya. Ketulusannya sudah tidak diragukan lagi. Ialah yang menyelamatkan setiap keburukan wajahmu saat hirup udara tak lagi bersemayam di dalamnya

Tetapi apa itu rindu?

Rindu adalah yang memisahkan antara langit dengan bumi, membentangkan jarak untuk merajut keseimbangan alam, ia hadir bak tangisan hujan yang turun dari langit menghantam tanah dengan kerasnya, lalu berkumpul bersatu padu dalam sebuah genangan, meresap kedalam tanah dan menumbuhkan benih-benih kehidupan

Tanyakan kepada langit

Ada apa dengan langit. Langit yang membentang luas tanpa tepi pun rindu pada sajak bumi yang terhampar penuh dengan warna hijau dan biru. Lihat saja warna langit itu, ketika awan tak menghalangi pandang ia akan menunjukan warnanya sama dengan samudra, biru seolah olah berdempetan bersatu padu ingin menyatu antara tepi samudra dengan tepi cakrawala

Rindu adalah jarak. Ia adalah jarak yang sengaja dibentangkan agar membentuk harmonisasi, keindahan, dan rasa cinta. Lihatlah rel kereta itu, jika ia menginginkan menyatu padu maka hanya kerusakan yang akan di dapat. Bila ia ingin berpisah lebih dari sejengkal jarak yang di tentukan, maka hanya akan ada keruntuhan bagi kereta dan mencelakakan penumpang di dalamnya

Rindu itu berjarak agar engkau dan aku tau apa itu rasa ingin bertemu. Rindu adalah kejernihan air tawar yang mampu meluluhkan segala amarah, memadamkan gejolak api ego yang membakar setiap kejernihan akal dan hati.

Bagaimana dengan rindu yang tersembunyi?

Rindu yang tersembunyi. Tanyakan kepada akar yang diam-diam bersembunyi di dalam tanah menjauhi daun untuk menciptakan jarak kerinduan. Akar adalah simbol dari petapa dan manusia bijak. Ia tak ingin tampak terlihat di dunia luar, tetapi diam diam ia bersungguh sungguh mencari nutrisi untuk kebaikan daun. Rindunya adalah rindu keikhlasan. Merelakan diri untuk berjauh diri dengan daun untuk menciptakan bentang rindu.

Bagaimana dengan tanah?

Tanah adalah tempat berpijak. Tempat bercukul pepohonan. Tempat dimana mahluk hidup melakukan aktivitas sehari hari. Tanah adalah simbol ketabahan. Tanah adalah ibu yang bersemayam rindu pada peluk setiap mahluk yang bernyawa. Yang menelan segala buruk, yang menerima segala injak, yang menampung segala acuh. Tetapi dengan setianya ia menunggu bersatu padu dengan mu, seolah olah tak ada rasa jemawah terhadap sikapmu yang campak itu

Mungkin kau tak perah tau kejujuran hatimu bahwa kau masih menginginkannya untuk selalu hadir menemanimu tatkala jarak membentang. Itulah guna rindu di ciptakan. Kebenaran kasih sayangmu kepadanya akan terbukti jika kau merasa rindu, Apalagi jika rindu itu membumi di dalam hatimu. Cinta akan nampak seketika itu

Bayang lamunan dan wajah yang terngiang di awang. Seolah-olah hadir di depan mata. Rindu yang begitu membumi akan membawamu masuk dalam dunia lain. Dunia yang berbeda dari dunia selayaknya. Bagi para rasionalis mereka tak akan mampu menerjemahkan dunia itu, karena dunia itu bukanlah dunia yang mampu diterjemahkan oleh rasional tetapi ia hanya mampu diterjemahkan oleh hati.

Ceritakan soal rindu yang menjadi abu

Seperti api yang menggerogoti kayu menjadi abu. Jangan salahkan api, karena tanpa api tak akan ada wedang kopi, tak akan ada hidangan yang menawan, tak akan ada nyala lilin, tak akan ada kehangatan. Rindu yang membelenggu, yang mengikat dan memaksakan ingin bertemu. Manakala ia sudah menjadi buta tak mampu mengenal diri dan posisi. Rindu itu akan membakar dirinya layaknya api membakar kayu.

Jika sudah seperti itu hanya menunggu sebuah keajaiban turun dari titah langit. Menjemput ajalmu atau memberi hidayah dengan mengenalkan rindu yang lain. Mengokohkan setiap jejakmu menuju kesetiaan rindu yang tak pernah melukaimu

Tapi ada satu rindu yang menyinari cakrawal

Rindu itu bak cahaya yang bersinar dari ujung dunia, pusat dari segala peradaban. Ia senantiasa ada di dalam hati untuk menuntun kepada jalan yang benar. Rindu yang dirindukan oleh kerinduan kasih tiap zaman. Rindu yang tidak mengenal waktu dan jarak. Rindu yang senantiasa berubah menjadi rahmat bagi yang merindukannya

Rindu itu diturunkan di padang pasir. Terik matahari dan ancaman kehausan adalah bayaran untuk menjumpainya. Bak sebuah oase yang dirindukan oleh pengembara di saat panasnya gurun pasir telah sampai pada kerongkongan. Nafas tersengal sengal sambil mengucapkan nama “rindu”

Rindu itu telah sampai pada telinga surga yang membuatnya menangis ingin berjupa. Pada wajah yang meneduhkan yang senyumnya bagai mutiara alam semesta. Karena dari cahayanya itulah surga di ciptakan

Bagi kaum termarjinalkan rindu itu menjadi pahlawan. Bagi para pencari kebenaran rindu itu adalah segarnya minuman saat dahaga melanda. Bagi para saudagar rindu itu adalah kepercayaan. Dan bagi alam semesta rindu itu adalah rahmat dan cinta kasih yang amat nyata

Ujung dari kerinduan

Dari gelapnya dunia maka yang nyata adalah ke Esa an yang tunggal. Muara dari segala rindu. Tujuan dari segala perindu. Ialah pemilik segala rindu. Yang mengatur tatanan dunia ini. Yang berhak menentukan takdir, yang di puja, yang Maha Tunggal dan yang kekal

Memiliki sembilan puluh sembilan nama mulia yang mencerminkan kuasanya dan kasih sayangnya. Bumi, langit, tanah, pohon, hewan, bintang semuanya beredar dengan menyebut asmanya. Rindu mereka bagai rindu kepasrahan diri seutuhnya. Di tempatkan dimanapun mereka berada, mereka siap memancarkan kerinduan kepadanya dengan cara mematuhi segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Beginilah segenap rindu yang beredar terus menerus keluar masuk jantung manusia, ia ada untuk mengesakan yang maha tunggal.

Iklan

SABUNG AYAM

baru

Bagi orang desa yang hidup serba kecukupan, makan nasi berlaukan tempe dan tahu serta sambel korek adalah menu makan yang biasa mereka lahap setiap harinya. ada lauk pauk daging ayam jika tetangga ada gawe mantu atau selametan yang biasa dilakukan pada hari-hari tertentu, ya jika ada beberapa tetangga yang mempunyai sedikit rizki lebih, mereka biasa mengadakan selametan kirim doa kepada leluhur. atau ketika ada sawah yang panen polo wijo, biasanya saat-saat seperti itu banyak sekali makanan yang berlimpah ruah, yang tadinya makannya serba kecukupan, bisa-bisa menjadi kebanjiran dan harus dibagikan kepada tetangga.

Desa kami terletak di tengah-tengah hamparan sawah dan ladang serta berposisi setrategis yaitu dibawah kaki gunung yang sudah lama mati. tak hayal jika tanahnya subur dan udaranya sangat segar untuk dihirup oleh penduduk desa. mata airnya masih jernih dan tak pernah sekalipun terjadi kekeringan. Sumber air yang melimpah tanda bahwa pohon-pohon yang ada di gunung masih rimbun dan tumbuh dengan lebat. Tak ada aktivitas pembalakan liar disana, karena penduduknya masih sangat menghormati dan memegang tradisi-tradisi leluhur bahwa lingkungan harus dijaga, jangan menebang pohon sembarangan nanti bisa menyebabkan pamali. dilihat dari desa, gunung tersebut sungguh elok dan hijau sekali. Karena letak desa kami dibawah kaki gunung tersebut maka tak hayal sebagian besar dari penduduknya bekerja sebagai petani.

Setiap paginya terlihat banyak orang yang berlalu lalang di jalan desa. Ada yang pergi ke pasar tradisional, ada juga yang pergi ke sawah untuk membajak, ada segerombolan anak kecil yang sedang jalan pagi. ada pengantin baru yang sedang menikmati pemandangan desa dipagi hari serta kakek dan nenek yang juga keluar dari rumahnya untuk menghirup udara di pagi hari dan melakukan sedikit olahraga merenggangkan badan mereka yang kini sudah renta agar memperoleh kebugaran serta agar tidak mudah terserang penyakit-penyakit yang biasa menyerang orang tua (manula).

“Ijah, suamimu tadi malam ndak pulang lagi”

“Iya buk, ndak tau, akhir-akhir ini abang suka ndak pulang ke rumah. mungkin sedang sibuk ngurusin ayam jagonya itu, katanya bulan ini mau ada turnamen sabung ayam besar-besaran didesa. bahkan rumornya bakal datang bandar-bandar besar untuk bermain judi disana”

“Oh.. sekarang sedang musim kemarau ya, pantas dijalan banyak orang merawat ayam-ayamnya”

“Tapi Jah, mbok ya dibilangin suamimu itu, sudah ndak usah ngurusi ayam terus, kamu lagi bunting besar gini seharusnya ia lebih memperhatikanmu daripada ayamnya, kalau nantinya terjadi sesuatu terhadap kandunganmu gimana ketika suamimu pas ndak ada dirumah?”.

“Saya sudah bilang abang buk, tapi ya gitulah buk. katanya malah kalau nanti ia menang sambung ayam hasilnya bisa buat biaya persalinan yang memerlukan banyak uang”.

Ijah adalah salah satu wanita penduduk desa yang saat ini sedang hamil besar, menikah dengan karjo seorang yang kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan. Sebagai pasangan baru bisa dibilang mereka adalah pasangan yang sederhana. Di desa itu bekerja sebagai seorang kuli hasilnya lebih mendingan dari pada bekerja sebagai buruh tani. tetapi bagi karjo bekerja sebagai kuli tidaklah begitu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, ia sudah memikirkan matang-matang jika nanti sang bayi lahir pasti akan membutuhkan biaya yang banyak. juga ketika bayi itu tumbuh dan besar pasti juga akan  membutuhkan biaya-biaya lain seperti uang jajan, uang mainan dan uang pendidikan. karena itu si karjo tidak mengambil pusing lagi. Ia memanfaatkan momentum turnamen sabung ayam ini, untuk beradu nasib di dalamnya.

kata karjo kepada istrinya “Dek, nanti kalau abang menang sabung ayam kita bisa membangun rumah sendiri, kita ndak usah ikut sama orang tua lagi. ndak enak ngerepotin orang tua.”

“Bang, ndak usahlah pakai sabung ayam segala. ndak baik bang, adek lagi hamil besar, kayaknya beberapa hari ini sang cabang bayi akan keluar dari perut adek.”

“Juga kata ibu, kalau istri lagi hamil ndak usah abang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pamali, sabung ayam juga termasuk pamali bang.” Keluh Ijah kepada suaminya.

“Alahhh…, orang tua memang begitu, ia doyan sekali kalau membual soal tradisi yang tahayul seperti itu. dek anak kita butuh nutrisi-nutrisi yang banyak, vitamin dan juga susu dek. Apakah tahayul-tahayul seperti yang dikatakan orang tuamu itu bisa membelikan kebutuhan bayi kita kelak?. kita hidup di zaman modern dek, semuanya butuh uang, kita tidak butuh petuah-petuah kuno dari orang lawas seperti bapak dan ibu mu itu”

“Tapi mas…..”

“Sudah, sudah…. Doakan saja abang nanti sabung ayamnya bisa menang”.

Hari demi hari sudah berlalu dan turnamen sabung ayam itu semakin dekat dengan hari yang telah ditentukan. Pemuda dan orang tua desa kini disibukkan dengan rutinitas-rutinitas memanjakan dan menjamui ayam jago mereka. Tak lupa juga si karjo dengan penuh harapannya telah menyiapkan persiapan sejak dini mungkin. Ayamnya iya manja, setiap pagi dan sore ia beri jamu agar ketika pertandingan tiba ayam itu bisa bertarung secara fit.

Akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu pun tiba, turnamen sabung ayam secara besar besaran di desa itu dilaksanakan dengan sangat meriah. Di sentoro desa tersebar umbul-umbul sebagai tanda yang menunjukkan kemeriahannya. Di jalan menuju tempat turnamen sabung ayam itu ramai dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah.

“Jo gimana ayam jago mu? sudah siapkah diadu dengan ayam jago lainnya” tanya katmo tetangga Karjo.

“Sudah saya persiapkan mo. sejak beberapa bulan yang lalu. Ayam jagoku ini sudah saya uji coba tandingkan dengan ayam jago dari berbagai daerah dan sampa saat ini belum pernah mengalami kekalahan satu kali pun”.

“Bagus itu Jo, kemungkinan besar untuk menang lebih besar dan kamu bisa untung banyak di turnamen sabung ayam kali ini”.

“Ha.. ha.. ha.. Sudah pasti mo, ke optimisanku sangat besar kali ini. Jiwa mudaku masih membumbung tinggi. Kau tahu di dunia ini tak ada yang tak bisa di lakukan oleh orang yang mempunyai kepercayaan tinggi untuk menang”

“Iya Jo saya juga percaya itu… kamu pasti menang”

Karjo begitu yakin dengan apa yang dipercayainya. Dalam hatinya ia berharap ingin menang besar dalam turnamen kali ini. Dalam benaknya ia membayangkan akan bisa membeli rumah sendiri dan bisa hidup madiri dengan Ijah dan bayinya nanti yang tidak lama lagi akan keluar dari rahim ibunya. bayangan kebahagian itu begitu jelas hingga sampai tercerminkan pada senyum karjo ketika ia berjalan  menuju lapangan tempat turnamen sabung ayam itu dilakukan.

Akhirnya tibalah Karjo ditempat. Ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari tempat sabung ayam yang mempunyai taruhan tinggi. harapan karjo dengan sekali menang bisa langsung dapat beli rumah. Tepat di sebelah pojok utara barat ia melihat semacam ruang yang terlihat berkelas. Yaitu ruang sabung ayam bagi orang-orang kaya. Pastinya disitulah tempat yang akan dituju oleh Karjo. Ya tempat yeng mempunyai harga jual yang tinggi, tak hanya taruhan yang tinggi tetapi ada juga disediakan hadiah yang tinggi pula.

Karjo pun mendaftar untuk menjadi peserta di tempat itu, dan mempersiapkan ayam jagonya untuk melawan ayam jago lainnya yang menjadi musuhnya.

“Karjo melawan Yanto, mohon untuk dipersiapkan ayamnya untuk dimasukkan kedalam arena pertandingan”.

“Hei ayam kau harus menang, apapun caranya kalahkan ayam milik orang yang berdiri di sebelah sana” kata Karjo menyemangati ayam jagonya

Kini ayam jago milik Karjo mulai menunjukan aksinya. Ketidak pernah kalahnya akan diuji dalam turnamen kali ini, bagi Karjo ayam itu adalah ayam harapan. Harapan untuk mencapai hidup yang lebih baik bersama keluarga yang kini sedang menantinya dirumah.

“Ayo ayamku yang paling jago, kalahkan ayam itu, kita bawa pulang hadiahnya” teriak Karjo menyemangati ayamnya.

Ayam jago milik Yanto ternyata tidak mudah untuk dikalahkan, ayam itu ternyata mempunyai stamina yang kuat. Jauh dari perkiraan Karjo sabung ayam ini ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Ada sedikit kesalah terhadap analisa yang di buat oleh Karjo. Ia mengira bahwa ayam yang ia idam-idamkan itu adalah ayam yang terkuat di negeri ini, dengan terbukti selama ini tidak pernah mengalami kekalahan sama sekali, serta berulangkali menang dari ayam-ayam jago yang lain dengan mudahnya. Namun dalam pertandingan turnamen sabung ayam ini ayan Karjo menemukan lawan yang dikatakan bisa seimbang.

Sudah beberapa ronde berlalu dan kedua ayam masih sangat sengit bertarung di dalam arena, suara sorak meronta dari kerumunan para penggiat sabung ayam kini terdengar sangat keras.

“Ayo ayam kampung, hajar terus ayam kota itu, kau pasti bisa menang” Teriak penonton.

“Ayam kampung”, “Ayam kampung”, Ayam kampung” “Kau harus menang Ayam kampung” sorak penonton dari penjuru.

Teriakan-teriakan dari penonton yang sebagian besar mendukung ayam Karjo ini membuat hati karjo menjadi besar, ia menjadi yakin bahwa ia akan menang. Ia kembali mengingat kata-kata yang pernah ia ucapkan dan pegang teguh “Keyakinan untuk menang adalah kunci kemenanga itu sendiri”.

“Ayamku janganlah engkau kalah dengan ayam ingusan dari kota itu, tunjukan bahwa ayam yang hidup di desa lebih baik daripada ayam yang hidup di kota?” Teriak karjo menyemangati ayam jagonya.

Dari arah lawan Yanto sebagai musuh sabung ayam Karjo dari awal pertandingan hanya diam dan sedikit memberikan senyum kecutnya kepada Karjo. Namu kali ini dia berjalan menuju Karjo dengan membawa senyum kecutnya itu seakan-akan mau membawa berita buruk kepada Karjo.

“Hai kawan kau tahu,ayam jagoku ini setiap paginya saya latih tanding dengan ayam-ayam jago disentoro kota. Ia tak pernah kalah satu kali pun. Ayam jagomu cukup tangguh juga bisa bertahan sampai banyak ronde begini” bisik Yanto kepada Karjo.

“Namamu Karjo ya. Saya akan ingat namamu Karjo, ayam jago mu memang tangguh. Tapi beberapa ronde lagi saya jamin ia akan dikalahkan oleh ayam jagoku. Kau tahu ayam jagoku selalu aku beri makan dengan makanan yang bernutrisi tinggi, tidak seperti ayam jagomu dari desa yang makan sisa nasi orang”.

Dengan raut muka penuh percaya diri akan menang. Karjo membalas bisikan itu dengan kata-kata singkat dan penuh dengan keyakinan. “Jangan sombong kau orang kota, pertandingan masih lanjut. Dan hasil belum menampakkan dirinya”.

Akhirnya ronde-ronde yang terakhir pun kini mulai terlihat. Dan kedua ayam jago tersebut mulai nampak siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Ucapan Yanto pun ternyata kini mulai benar-benar terbukti bahwa ayam jagonya akan memenangkan pertandingan sabung ayam ini. Karjo yang melihat kenyataan ini mulai gelisah dan frustasi melihat ayamnya sudah mulai menunjukan ketak berdayaannya melawan ayam jago dari kota itu. Bayangan akan membeli rumah baru dan bisa hidup bahagia dengan Ijah kini mulai kabur dan menambah frustasi Karjo mengingat bahwa uang untuk mempersiapkan mengikuti turnamen sabung ayam ini tak sedikit pula ia keluarkan. Entah apa yang salah tiba-tiba Karjo tidak menerima dengan hasil ini. Ia mulai menyalahkan Tuhan yang kini dianggapnya sudah tak adil lagi.

“Pemenangnya adalah ayam jago milik Yanto”. Suara juri mengumumkan kemenangan Yanto.

Ayam jago Yanto masih bisa berdiri dengan tegak. Sedang ayam jago Karjo kini sudah terbaring dan tak berdaya lagi setelah beberapa kali dihajar oleh ayam jago Yanto. Karjo yang tidak menerima kekalahan ini ia mulai melampiaskan kekesalannya kepada ayam jagonya.

“Ayam sialan, kenapa Kau kalah pada pertandingan ini. Apa kau tidak tau istriku sedang hamil di rumah dan anak ku yang sebentar lagi mau lahir, ia butuh uang banyak ayam bodoh.” Karjo yang sudah kehilangan akal sehatnya ia mengambil ayamnya dan mematahkan kedua kakinya hingga berbentuk huruf M. Tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang yang memanggil-manggil nama Karjo.

“Karjo-karjo…..”

“Istrimu di rumah melahirkan, bayimu Karjo, bayi mu……. Bayimu kakinya aneh, kakinya berbentuk M”

SURAU

3662497237_412974667a

Surau itu berdiri sudah amat lama sekali, sejak mbah Kosim Ulama’ pertama yang tiba di desa kami, sekaligus orang yang membabat desa. kira-kira itu terjadi ketika mbah buyutku yang ke 7 masih muda. Jauh sebelum nama Indonesia terpikirkan oleh para pemuda bangsa saat itu.

Di desa surau biasa disebut dengan istilah langgar, dan nama itu sangat familiar bagi kami. Langgar dibagi menjadi dua tempat bagian yang terpisah, yaitu langgar lanang (surau yang khusus oleh jama’ah laki-laki) dan langgar wedok (surau yang khusus digunakan oleh jama’ah perempuan). dimana di antar dua langgar tersebut ditengah-tengahnya ada rumahnya Kiai sepuh di desa, biasanya rumah Kiai sepuh disebut Ndalem.

Tradisi ngaji belajar agama masih sangat kental di desa kami, jika dipagi hari setelah sholat subuh pasti terdengar suara Kiai sepuh membacakan kitab kuning kepada santri-santrinya dan beberapa anak muda tetangga yang ikut juga menyimak. setelah itu suara ayunan sapu korek akan terdengar, pertanda kalau ngaji kitab kuning yang dibacakan oleh Kiai sepuh sudah usai, para santriwati putrilah yang berbondong-bondong bersama gotong royong untuk membersihkan halaman ndalem (rumah Kiai sepuh). dihalaman itu tumbuh beberapa pohon sawo besar menutupi halaman ndalem Kiai sepuh. Pohon sawo itu tumbuh dengan amat rindangnya.

“Lek hari ini hari senin ya?” kataku kepada anaknya pak de.

“Iya kin jangan lupa nanti habis magrib ada fasholatan, bersama akang-akang santri”

“Iya lek” jawabku sepintas

Fasholatan adalah model belajar bagi anak-anak desa untuk memperdalam ilmu agama tingkatan dasar bagi anak-anak, biasanya ada ngaji turutan dan melafalkan bacaan-bacaan sholat secara fasih, serta memperagakan gerak sholat. Bagaimana cara duduk tahiyat awal yang benar, bagaimana cara i’tidal, bagaimana cara membaca takbirotul ihrom dan sebagainya yang berhubungan dengan sholat. ada juga buku pegangan buat belajar fasholatan. namanya kitab fasholatan yang tersedia amat banyak dipasar-pasar tradisional, dengan memakai tulisan arab serta maknanya dan juga artinya memakai tulisan arab dan menggunakan bahasa jawa.

fasholatan bukanlah hal yang baru, tradisi ini sudah lama terbangun di desa kami, kira-kira sejak zaman walisongo dulu. didasarkan pada perlunya menanamkan ilmu agama sejak dini kepada anak-anak. terutama pada bagian bab thoharoh dan tata cara sholat yang benar, ya inilah yang sekiranya penting sebagai bekal kelak nanti setelah anak-anak tumbuh dewasa. inilah ilmu yang dipakai dan berguna sampai meninggal dunia.

“Kin nanti kamu ikut fasholatan?” kata paimo

“Iya mo, paman menyuruh saya untuk ikut fasholatan”

“Kin ndak usah ikut fasholatan aja, ayo ikut aku cari jangkrik di bersama sodiq”. “Di ladang kali ini banyak sekali jangkrik yang berbunyi nyaring, fasholatan ditinggal aja. kita cari jangkrik saja. kan besok minggu depan masi ada fasholatan lagi”

“tapi saya sama lek suruh ikut fasholatan mo”.

“lek mu kan tidak ikut ke langgar kin, nanti habis magrib kita berangkat, saya kasih tau triknya biar bisa kabur tidak mengikuti fasholatan di langgar dengan aman. Cara aman untuk tidak ketahuan, kalau kita tidak ikut fasholatan”.

“Tapi, tapi, itukan salah mo, nanti kalau dimarahin gimana?”

“Kalau tidak ketahuan ya tidak dimarahin kin, makanya nanti ngikut aja sama sodiq”

“paimo apa kamu tidak pernah mendengar cerita lek ramdhan yang di hukum berdiri satu kaki dan tangannya memegang kuping. itu pun karena lek ramdhan tidak hafal surat pendek yang minggu sebelumnya disuruh menghafal. Terus juga kata lek ku dulu ada juga yang mencoba pulang setelah habis magrib dan dan ketahuan oleh akang-akang yang mengajar fasolatan. ia di panggil kemudian di pukul dengan kayu. dan dilaporkan kepada orang tuanya kemudian sampai dirumah oleh ayahnya dimarahin dan dipukulin juga. kan resikonya cukup ngeri kalau ketahuan mo”

“Janganlah jadi penakut gitu kamu kin, itu kalau ketahuan, kalau tidak. kita bakalan dapat jangkrik lebih banyak dan kita bisa menjualnya di mbah yem”

“Tapi, tapi…”

“Oke, jadilah orang penakut terus. kau tau kin, orang penakut akan terus jadi penakut dan kau tidak akan bisa melihat dunia sejernih apa adanya, saya akan berangkat ke ladang nanti habis sholat magrib bersama sodiq”

“Saya tidak takut, saya hanya nurut”

Benar apa kata paimo, jangkrik ketika selesai sholat magrib banyak sekali yang keluar dan membunyikan suaranya yang nyaring, hingga dari langgar kami suaranya begitu jelas untuk di dengar. mungkin benar juga kata paimo keberanian itulah yang menuntun mereka untuk mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.

Setelah usai sholat magrib dilanggar, paimo dan sodiq sudah menghilang dan para akang-akangnya tidak mengetahui dan menaruh curiga sama sekali atas kehilangan mereka, paimo dan sodiq sudah melancarkan aksinya, ia hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak curiga sama sekali kepada kami. Ya triknya memang majur sekali, atau mereka hari ini benar-benar mujur. Ah kenapa saya tidak ikut saja tadi mengiyakan untuk ikut ke ladang mencari jangkrik, bayangkan jika malam ini saya bisa ikut cari jangkrik. mungkin saya bisa dapatkan uang banyak untuk jajan besok disekolah. kalau satu jangkrik dihargai 1000 rupiah. kalau 10 jangkrik dapat 10.000 rupiah. betapa bodohnya aku menolak ajakan dari paimo tadi

“Sholikin jangan melamun, ayo baca yang keras”

“O..o…. iya kang”

Tak lama kemudian akang-akang memanggil kami satu persatu untuk melafalkan dan memeperagakan bacaan dan gerakan sholat subuh disertai dengan doa qunut. satu persatu dipanggil. ada yang lancar ada pula yang bleka’ bleku’ bacanya. hingga gilaranku yang maju kedepan untuk melafalkan dan mempergakan sholat subuh. delam benak ku aku mengumpat. “Ah kenapa aku tidak ikut paimo dan sodiq cari jangkrik saja tadi, kalau tau begini di suruh maju ke depan dalam keadaan tak hafal, dan nantinya hanya akan dimarahi oleh akang-akang santri”. begitulah dan aku benar-benar belum hafal secara keseluruhan.

Anak-anak yang belum hafal secara keseluruhan dan benar disuruh maju kedepan dan dimarahin satu persatu. pada akhirnya yang tidak hafal disuruh melafalkan dan memperagakan sholat subuh bersama-sama. setelah usai akang-akang santri memberi wejangan kepada kami.

“Adek-adek ku yang belum hafal bacaan sholat ini. dihafalkan lagi sampai hafal, besok senin saya tes satu persatu lagi, kalau sampai tidak hafal ada sangsinya. melafalkan bacaan sholat dan memperagakan secara benar itu penting adek-adek, pelajaran ini akan adek-adek guakan terus sampai tua nanti, maka dari itu adek-adek harus hafal dan benar cara membaca dan memperagakannya, kalau sampai salah nanti sholatnya tidak diterima oleh Allah, kalau tidak diterima sholatnya oleh Allah maka masuk neraka.”

“Rozak kamu siap-siap adzan isya’, habis ini sudah masuk waktunya sholat isya”

“Iya kang” jawab rozak

Tak lama kemudian rozak pergi ke ruangan dalam langgar dan mengambil mic untuk mengumandangkan adzan isya’. namun sebelum rozak mengeluarkan suara dari mulutnya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara mendekati langgar.

“Tolong-tolong paimo sama sodiq kakinya digigit ular.”