MENAKAR INFO DARI SEORANG TOKOH

 

Dari setiap forum berkumpul dan disitu ada public figure yang sedang berbicara, maka disitulah tempat kita untuk kolaan berita atau informasi baru. Apalagi ketika pembicaranya adalah seorang yang sudah melakukan studi belajarnya sampai jenjang S3, dan juga merupakan seorang yang sangat aktif dalam berorganisasi, menjabat, dan memecahkan problem.

Sudah tidak di ragukan lagi kapasitas beliau dalam mengenal lingkunga NU, sejak kecil ia suka sowan kepada para Kiai, temannya para habaib. Ketika di kampus pun juga, belia sangat aktif dalam berbagai forum. Beliau menghidup-hidupkan organisasi yang senafas dengan NU. Pun juga ketika beliau di jepang, beliaulah yang mendirikan PCI NU di jepang sana. Hingga sampai saat ini beliau di amanahi menjadi salah satu pengurus di PBNU dan menjadi Dekan Fakultas Perguruan Tinggi ternama di indonesia. Ilmunya tidak hanya ilmu mengenai sesuai dengan jurusannya. Beliau jago dalam membaca kitab kuning. Dan selalu memberikan kuliah malam ngaji kitab kuning di madjid kampus. Dalam hal memotivasi dan memecah setiap problem pun juga belia adalah masternya.

Pada malam itu beliau hadir, dalam suatu forum yang kami adakan. Selalu ada saja berita baru yang beliau sampaikan. Terkait wejangan dan motivasi, terkait medan yang harus di hadapi saat ini oleh aktivis NU.
Di magetan dan blitar itu memang terlihat kecil PCNUnya tapi mereka mempunyai program yang progresis yang patut di contoh. Di sana mereka membangun sebuah ekonomi masyarakat. Pada hari-hari khusus mereka berkumpul melakukan transaksi jual beli antar warga sesama NUnya jadi disana Indomaret jadi kukut karena warga tidak mau beli di indomaret. Itu PCNU di wilayah jawa tengah setelah melakukan pelatihan menejemen yang kami buat jadi maju dan sangat menakjubkan kemajuannya.

Jadi kalian-kalian sebagai pemuda aktivis NU harus bisa menjadi organ motor. Apalagi di kampus ternama seperti ini. Banyak sekali organ-organ NU yang masih perlu kita bangun kita beri suport. Untuk membangun jaringan juga perlu, kapan hari saya di tawari mengisi di SMA ternama di Kota ini, yah begitu ternyata disana sudah getol di masuki oleh paham-paham yang tidak mendukung NKRI, itu sangat bahaya, pernah saya tanya. Loh itu kenapa kok banyak celana cingkarang mengisi acara disana? Itu bahaya lo. Terus dari para guru di sana langsung berkata. Iya bapak wah gini gitu gini gitu, yang intinya sebegian guru disana resah dengan keadaan alumni mereka yang telah melanjutkan ke perguruan tinggi menyebarkan paham anti NKRI. Di sini saya di tawari. Kalau ada semisal terkait organ dari bapak yang mengisi acara-acara di SMA ya monggo bapak. Ini sebuah peluang, tetapi ya gitu kita di poros NU belum siap untuk melakukan mengisi acara di SMA secara rutin. Untuk itu dangat perlu melakukan pembenahan terhadap organ oragan NU.

Ekonomi kita juga harus di perbaiki. Kapan hari saya melihat kalau hidayatullah menjual peralatan ibadah di SMA-SMA. Merekabtidak hanya menjual tetapi pastinya juga menyebarkan paham-paham mereka, ini lah yang berbahaya. Saya harap aktivis muda NU disini bisa aktiv untuk memulai melakukan progresif seperti di atas, sebelum kita kecolongan lebih banyak lagi.

Forum malam itu berlangsung sampai jam 22.30 malam. Dan tak sengaja ada cletukan. Bapak itu kalau di undang siapapun pasti datang. Padahal jadwalnya sungguhbsangat padat

Iklan

MEMBACA DAN MENULIS

Terkadang ia semena-mena munculnya, semangat untuk membaca dan menulis ada begitu saja, terkadang juga menghilang begitu saja, ketika seperti itu semangat untuk membaca dan menulis loyo dan akibatnya jika di paksakan akan menjadi tak menarik, misalkan ketika tidak semangat membaca. Membaca menjadi suatu hal yang tidak mengasyikkan serta sangat susah sekali mencerna informasi baru. Akibatnya seharian tidak ada bacaan baru yang di baca.

Padahal ketika ada motifasi membaca, itu di dalam hati rasanya menggebu-gebu sehari ingin menghabiskan satu buku penuh, dan di rutinkan, agar informasi baru bisa terus mengalir. Ya ibaratnya membaca menjadi vitamin tersendiri bagi otak. Karena dengan membaca kita serasa sedang berbicara dengan si pengarang bacaan. Ya bisa di bilang menjelajahi alur berpikirnya si pengarang lewat kata-kata yang di susunnya.

Bagai mana dengan menulis? Wahh kalau ini juga seperti membaca, ia meletup saja. Tidak memandang tempat baik mau di toilet atau di masjid, atau malah di jalan sambil mengendarai motor. Ya meletup begitu saja. Tetapi ketika saya fokusi untuk menulisnya, ia bagaikan uap air yang menghilang membumbung begitu saja ke angakasa. Padahal waktu itu banyak kata dan ide yang bagus, tetapi begitulah dunia menulis. Kadang ia butuh kerjainan dan ke konsistenan yang terus menerus dengan motivasi menulis apapun, yang penting membuat senang bagi penulis.

Ngomong-ngonong soal nulis, biasanya kalau kita terjebak pada ketentuan harus begini-harus begitu, itu menjadi serat tersendiri yang akan menjadikan macet untuk menulis. Takut tidak bagus lah, takut nanti berhenti di tengah jalan lah. Takut setres lah dan sebagainya. Karena menulis dengan ketentuan itu berarti mengikatkan pikiran kita kedalam aturan-aturan umum yang mengikat. Ini mungkin yang menjadi alasan mengapa kita menjadi macet menulis, karena kita serasa tidak bebas. Kita serasa di kurung dalam sangkar, tidak bisa bebas terbang ke angkasa sebebas bebasnya.

Membaca!, yang membuat macet membaca itu ketika saya ada aktivitas lain yang lebih memacu saya untuk melakukannya, semisal main game atau mengerjakan tugas, atau stress akibat mikirin tugas yang tidak ada actiaon untuk mengerjakannya. Begitulah info terkait membaca dan menulis saya hari ini. Semoga bisa bermanfaat

​BERCERMIN KEPADA PARA TOKOH SANTRI

KH Hasyim  Asy’ari adalah golongan petani menengah sekaligus pedagang. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang pengusaha. KH Bisri Syamsuri seorang wiraswasta dan Kyai Ridwan adalah seorang pedagang batik. (Dia ambil dari koran Jawa pos Minggu 14 agustus 2016).

Cuplikan tulisan di atas memberikan pengetahuan baru terkait bagaimana tokoh-tokoh santri yang berpengaruh pada kurun waktu 1920-1950 adalah orang-orang yang mempunyai mata pencaharian mandiri. Dengan latar belakang pendidikan pesantren tulen tanpa mengenyam pendidikan moderen pada waktu itu  mereka mampu mendirikan pundi-pundi penghasilan yang dari penghasilan tersebut mereka gunakan untuk kepentingan bangsa bersama. Berdirinya Perguruan Tinggi UINSA Surabaya dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember adalah salah satu buah pikir dan sumbangan dari mereka. Tanah yang begitu luas di UINSA Surabaya dan ITS tak kan mungkin untuk di beli tanpa campur tangannya KH Wahab Hasbullah dan Kyai Ridwan Abdullah.

Fenomena lama ini seharusnya menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini. Menjadi suatu semangat tersendiri untuk belajar bagaimana berwirausaha, berdagang, dan berhimpun untuk mendirikan suatu ekonomi mandiri yang kita kelola sendiri. Pendidikan-pendikan harus mempunyai gairah untuk mendidik siswa dan mahasiswanya untuk menjadi masyarakat yang berani mendirikan suatu usaha sendiri. Bukan menjadi seorang pelamar kerja yang setiap tahunnya mengalami penambahan jumlah pelamar kerja.

Menjadi pengusaha atau pedagang mandiri membuat seseorang mempunyai waktu yang lebih banyak untuk memikirkan nasib-nasib bangsa. Membuat seseorang bebas beribadah dan mempunyai waktu lebih banyak untuk keluarga. Hal inilah yang seharusnya menjadi cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Tidak terkungkung pada materi yang menyita sekian banyak waktu hanya untuk membesarkan suatu perusahaan milik asing.

Setidaknya bercermin ke belakang menjadi perlu agar kita mampu menerjemahkan bagaimana kondisi bangsa saat ini, bagaimana kondisi pendidikan dan masyarakat saat ini. Apakah mereka akan mengarah kepada tatanan yang lebih baik atau malah akan mengantarkan kepada perbudakan-perbudakan secara halus. Berdirinya suatu negara menjadi tidak penting lagi untuk memikirkan nasib kaum-kaum terlemahkan, tetapi menjadi alih fungsi wadah tempat kita bersaing saling sikut kiri kanan demi secuil kesejahteraan semu yang di janjikan oleh pihak asing.