HANYA DIRIMU SAJA

Tetaplah berbising
Walau engkau tak di dengar

Tetaplah berlaku
Walau engkau tak digubris

Tetaplah bekerja
Walau engkau tak di bayar

Tetaplah menulis
Walau engkau tak di akui

Tetaplah belajar
Walau engakau tak tahu

Tetaplah berlaku baik
Walau engkau tak pernah diberi

Hanya Tuhan
Yang benar-benar engkau pegang
Dalam bingkai manusia
Menjalankan setiap fungsi
Dari setiap deretan beri dan takdir
Tanpa mengharap angan kosong

Wahai Tuhan
Kupersembahkan
Kataku
Kerjaku
Amalku
Hatiku
Hanya untuk Engkau sahaja
Tempat kembaliku
Tempat bermuaraku

Iklan

WAKTU YANG TERABAIKAN

Bilamana mendengar tak lagi mampu menerjemahkan suara.
Maka suara siapakah itu yang kudengar dari sudut long-long gelap

Bilamana melihat tak lagi mampu menerjemakan warna
Maka warna siapakah itu yang kulihat dari bilik gelapnya buta

Bilamana merasa tak lagi mampu menerjemahkan bahagia dan derita
Maka bahagia dan derita siapakah itu yang kurasa pada koyaknya badan

Bilamana kesadaran tak lagi mampu menerjemahkan diri pada untaian hidup
Maka kesadaran siapakah itu yang beredar dalam diri yang membusuk.

Aku dimana
Aku siapa
Aku darimana
Aku mau kemana
Aku ….

WUJUD

Kuanggap ada
Sekilas memang ada
Terlihat ada
Terasa ada

Tapi

Mengapa kian lama kian ragu
Ada menjadi tanda
Bahwa ia tidak ada
Seiring berjalannya ragu

Tampaknya

Ada menjadi siksa
Ada menjadi malapetaka
Ada menjadi samsara
Ada menjadi derita

Hingga

Ia menjadi kesadaran
Bahwa semua milik Tuhan
Ada berasal dari Tuhan
Ada kembali kepada Tuhan

Maka

Lepaskanlah ada
Jemputlah kesadaran hamba
Menuju perjalanan menghamba
Pada keesaan sang ada

DONGENG ITU

Semuanya hanya dongeng
Dongeng yang dibenarkan
Dongeng yang disalahkan
Dongeng yang di curigai
Dongeng yang menjadi dasar

Dongeng-dongeng itu kian lama kian deras
Meracuni akal pikiran manusia
Dari yang jernih
Menjadi kian keruh dan mengkarat

Dongeng-dongen yang didongengkan
Disuarakan begitu kerasnya
Mengisi ruang publik
Dengan diskusi diskusi dongeng

Dongeng yang tak pernah menyentuh kehidupan
Dongeng yang memperkeruh suasana
Siapa gerangan yang menjadi hulu
Dari tiap-tiap dongeng itu

Dongeng-dongeng yang melupakan
Tanah tempat berpijak

Delusi

“Apakah itu benar-benar aku?”

Seraya tidak percaya sambil melihat kembali foto wajahnya

“Siapa Aku?”

“Siapa orang ini?”

Wajah itu, nampak kebingungan, tak mengenal dirinya lagi, entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu. Setelah terbangun dari tidur lamanya di ruang berukuran 3×4. Pandangan yang kosong menerawang keluar jendela. Melihat keadaan diluar ruangan tersebut.

“Nak kamu tidak mengingat apapun?”

“Siapa kau?”

Tanya pemuda itu

“Aku ibumu nak, apa kau sudah tak mengenalku lagi?”

“Ibu…. !”

Yang terbayang hanyalah putih. Tanpa ada seberset hitam yang mengisi ruang itu. Tatkala ia bangun dari sanubari. Entah dimana ini berada. Ruang yang baru, menghapus segala ruang yang pernah dilalui. Putih begitulah nampak pada benaknya.

Dilorong yang begitu jauh. Menuju dunia tanpa batas. Hanya hilangnya diri dari dunia yang sebelumnya ia terjemahkan dengan memori akal. Di ujung lorong itu hanya safan putih kelabu dan kesadaran siapa dan apa yang menghilang. Konon ruang itu adalah batas antara kehidupan dan kematian.

“Kau tak mengenal ibu nak?”

“Kau habis jatuh dari motor dan kepalamu terbentur batu di pinggir jalan”

“kau mengalami koma nak, sudah 3 hari tidak bangun dari tidur mu”

Kata ibu tersebut kepada anaknya.

“Entahlah”

Jawabnya kosong tanpa arti.