MENGHILANG DI KERUMUNAN RERUMPUTAN.

Oleh : Memori 2

Bisa saja anda berkelah kalau sebenarnya tuduhan orang-orang terhadapa anda itu salah. Masalahnya bagaimana mereka percaya kalau mereka itu menuduh anda dengan ngawer. Lawong mereka banyak dan anda sendiri. Sendiri meratapi nasib bahwa anda di tuduh hilang di telan hantu sawah.

Yah begitulah nasib. Itulah nasib yang saya alami. Ceritanya ketika kami mencari rumput di beberapa kilometer dari rumah. Di tegalan yang sepi dan kami mencari rumput berangkat pas mepet magrib. Yah jadinya pulang terpaksa kemalaman.

Di sore yang begitu gersang. Tak ada ilalang dan rerumputang yang bisa di gorok dengan clurit. Kami hanya berjalan menyusuri jalanan sawah. Terus jalan terus juga menjauhi rumah hingga sampailah pada tempat yang jauh dari rumah. Tetapi di situ kami menemukan rumput yang banyak dan bisa di bawa pulang.

Sesampainya di situ. Kami tak menyianyiakan waktu, langsung babat kiri kanan dan samping belakang cepat-cepat. Keburu matahari tenggelam duluan. 

Namun apa daya setelah. Tuhan tak menghendaki kami untuk pulang kerumah tepat pada waktu yang di inginkan orang tua kami. Akhir kata terpaksa kami menggotong rumput kami di tengah tengah sawah yang telah gelap di tutupi oleh gelapnya magrib.

Dengan penglihatan yang remang-remang dan dengan bantuan memori yang telah merekam jejak jalan kami. Kami berjalan menuju rumah yang jauh sana.

Sampailah pada suatu tempat yang jika tidak membawa lampu kami pasti akan menabrak dinding-dinding batu padas kali. Yah mau bagaimana lagi. Rumput kami yang banyak memaksa kami untuk mengaso terlebih dahulu sebelum melewati labirin sungai kering yang berkelok-kelok.

Anda tahu? Kata masyarakat di sungai itu banyak dedemitnya. Dan ini sudah petang pasti bahaya kalau lewat situ. Ah perasaan aneh tiba-tiba datang menyusup pada diri. Keragu-raguan untuk meneruskan perjalanan menghampiri dan mengetuk bulu kuduk yang tak tau apa apa itu.

Tiba-tiba dari labirin muncul suara-suara aneh yang memanggil manggil nama kami. Saya kira ini adalah akhir dari perjalanan kami menyusuri dilema kehidupan. Akhir hayat sudah di penghujung. Dan tinggal berdoa, semoga kiranya Tuhan memaafkan dosa-dosa kami.

“Kowe iki nang endi wae, yang mene durung muleh. Ayo muleh, digolek i mbok mu lo”. Syukurlah tuhan tidak mengabulkan doa kami. Memang belum saatnya kami kembali kepelukan-Nya. Dan masih di beri kesempatan untuk berjumpa dengan orang tua kami. Yah sekedar berbakti atau membanggakan mereka. Orang tua teman saya datang dengan membawa seberkas cahaya senter untuk membawa kami pulang kerumah.

Iklan

APA KARENA KURANGNYA MEMBACA

bfb022c6-82e4-4ce4-b248-9de22876ccc4

Membaca bukan sekadar melafalkan sebuah kata saja, membaca adalah memahami dari setiap kata yang tersusun, sedang memahami bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap remeh. Setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda, bahkan ketika ada kata yang sama terkadang ada beberapa makna yang bisa disimpulkan secara berbeda. Disinilah peran pemahaman, ia adalah sesuatu yang sangat luas karena bisa berbeda jika dilihat dari jarak, sudut, dan cara pandang yang berbeda. Sebagaimana kita melihat gajah dari samping, belakang maupun atas akan mempunyai makna yang berbeda. Disinilah mengapa membaca bukan sekadar kita melihat kata atau tanda. Ia lebih kepada bagaimana kita memahaminya.

Persoalan membaca menjadi sangat rumit jika kita sudah mencampur aduk dengan emosi dan kepentingan kelompok tertentu. Membaca akan membawa bencana jika hanya menggunakan akal pikiran yang sempit, wawasan yang tidak luas, buta sejarah, dan tidak mengerti alur periodik suatu kejadian. Sebagaimana kita lihat Indonesia saat ini, yang masyarakatnya terpontang-panting oleh statmen-statmen pera pejabat yang berkuasa yang sedang merebutkan tahta kuasa. Kalau sudah begini apalagi yang bisa kita pegang kecuali mebaca sejarah, mengambil hikmah dari kejadian-kajadian lama yang memiliki momentum sama.

Siapa yang tidak tahu, terkait hebatnya caci-maki antara calon Presiden Jokowi JK dengan calon Presiden Prabowo, mereka saling memfitnah menuduh kejelekan dari setiap calon, dengan berbagai argumentasi penguat. Di anggap antek-antek komunis, di anggap islam abangan, kemudian pengungkitan perkara penculikan 98. Dan bahkan sampai ada ucapan dari salah satu calon presiden tersebut bahwa akan melakukan sejenis perang badar, perang yang sama seperti dimasa Rosulullah antara umat islam dan umat kafir, dengan menganggap dirinya yang paling membela islam dan lawannya adalah antek-antek komunis yang jika nanti terpilih menjadi presiden akan menyebarkan kekafirannya.

Perhelatan adu lidah, saling menjelekkan, menjatuhkan dan memfitnah antara satu sama lain ini berlangsung sangat sengit, hingga beberapa mediapun ikut campurtangan  berebut membela salah satu pihak. Namun kita bisa melihat sendiri setelah salah satunya terpilih menjadi presiden dan menjalankan roda pemerintahan indonesia, caci makian yang mengatas namakan agama dan idiologi, kini tidak berdengung sekeras ketika suasana pemilu kemarin. Mana yang dianggap katanya penting, mana yang katanya di anggap pengkafiran masal, mana yang katanya akan melakukan perang badar, seolah-olah tema kajian tersebut menghilang begitu saja di belantara media masa. Seolah-olah yang tadinya dianggap sangat urgen bahkan wajib untuk dikaji kini menjadi haram dan tak bermutu jika dikaji lagi.

Hal inilah yang seharusnya kita baca dan kita pahami kerangka alurnya, bahwa saat pemilu, agama, idiologi, ras, dan kepercayaan akan dimainkan lagi. Kebenaran di otak atik untuk bagaimana menjadi benar dan berefek menurunkan pamor nama lawannya dimata publik. Kebenaran bisa di plintir menjadi terlihat salah. Kebenaran bisa di arahkan menuju keanarkisan, pembunuhan, dan peperangan sebagaiman kita bisa melihat di negara arab sana yang memainkan kebenaran agama untuk diplintar-plintir menjadi alat pemicu kekacauan kerusuhan dan peparangan antar saudara.

Dan saat ini jika kita mengamati gejolak rakyat terhadap pemilihan Gubenur Jakarta, kita seolah-olah kembalikan kepada pemilihan presiden tahun lalu, agama dimainkan untuk kepentingan kekuasaan. Kebenaran agama di plintir, di tafsirkan secara memihak kepada salah satu calon, serta dijual oleh para kapitalis yang mengambil keuntungan dari situasi ini. Situasi yang sama seperti situasi peperangan antar saudara di negeri Arab. Sudah saatnya bangsa indonesia cerdas dalam membaca, membaca bukan sekedar bagaimana cepatnya anda menghabiskan buku, menonton berita lalu membiarkannya. Membaca adalah mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dilalui dan mengambil pelajaran darinya

Namun jika saya melihat masyarakat yang grudak-gruduk di permainkan oleh isu-isu menjelang pemilihan Gubenur yang sudah jelas tujuannya untuk menjelekkan salah satu calon dan bisa berakibat fatal yaitu perpecahan antar saudara sebangsa dan setanah air, apakah ini menjadi pertanda sendiri bahwa kita memang bangsa yang kurang membaca?

Kalau Saja Dulu Tidak Begitu

Oleh : Memori 1.

Kajadian itu ibarat potongan-potangan memori kadang kita mengingatnya, kadang kita juga melupakannya. Sesaat ingat sesaat lupa. Yah begitulah saya, dan mungkin anda juga seperti itu.

Saya beri nama oleh memori karena, mencoba menggali pengalan-pengalan yang unik utuk saya tuliskan kedalam kata yang jenaka. Mencoba belajar dari bahasa hati, bahasa ceria, bahasa yang enak di baca. Bukan bahasa yang provokasi atau bahasa-bahasa ilmiah yang cendrung hari ini sangat di gandrungi oleh intelektual-intelektual. Yaitu yang sekolah, menimba ilmu di gedung-gedung bertingkat itu.

Pernahkah anda mengalami kejadia unik? Yang jika anda mengingatnya anda akan tersenyum tersipu malu. Dan bahagia karena mengingatnya, kalau perlu dan tak malu-malu anda melepaskan tawa segelegar petir menyambar di siang hari.

Bagaimana tidak tegang. Kalau melihat seorang anak yang masih kecil di gendong oleh orang gila. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuanya. Kira-kira itu kejadian ketika saya masih berumur 6 tahun.

Tiba-tiba saja anak tetangga saya di ambil dan di keloni orang gila. Eitsss di sini yang di keloni cowok yang mengeloni cewek. Jadi jangan berpikir macam-macam ya!.

Begitu di samber orang tuanya ketika itu tidak tahu. Yah mungkin lagi kerja. Tapi si anak yang di keloni itu nanginya minta ampun. Sampai-sampai terdengan dari beberapa rumah yang di sekitarnya. Ia merengek ingin pulang. Tapi si orang gia tidak rela melepaskan anak tersebut. Entah bagaimana caranya anak tersebut bisa lolos dari dekapan orang gila tersebut. Alhamdulillah dalam hati saya bergumam.

Yah karena dia meronta dan keluar dari sarang rumah orang gila tersebut. Begitulah, habis itu orang gila tersebut sering berbicara sendiri kalau “si anu itu lo, si anu, itu anakku, itu anakku. Bukan anaknya si mbok anu itu”.

AMANGKURAT AGUNG PRAHARA TAKHTA MATARAM

wp-image-1770703875jpg.jpg

Membuat suatu cerita dengan mengambil kisah sejarah dan apabila kita menginginkan suatu kebenaran darinya itu susahnya minta ampun. Kebenaran itu pun harus di bumbui oleh hayalan-hayalan si penulis, karena untuk mengatahui isi hati tokoh yang di ceritakan penulis harus dengan jelas-jelas melakukan rekaan, membayangkan jika ia berperan menjadi tokoh tersebut dan menghayati apa kira-kira yang akan di katakan dalam hati tokoh yang diperankan tersebut baik dalam gumamnya, dan dalam maksudnya.

Kisah lama bukanlah kisah yang bisa kita samakan dengan kisah yang baru terjadi kemarin yang bisa kita ketahui detail ceritanya dengan mewawancarai beberapa pihak yang terlibat. Lain halnya dengan kisah lama dimana sudah pasti kita tidak akan bisa melakukan wawancara langsung dengan beberapa tokoh yang terlibat, hingga bisa menanyakan suatu rahasia tertentu. Informasi yang terbatas ini membuat penulis harus mampu berimajinasi tinggi dan memperkirakan kira-kira gimana kita menggambarkan suatu peristiwa di zaman dahulu dan kira-kira apa yang di ucapkan ketika para tokoh itu bertemu.

Keepikan suatu novel yang mengangkat ceritanya dari sejarah adalah seberapa detail ia menggambarkan prabot-prabot lama yang di gunakan untuk menggambarkan suatu cerita, dimana disini kekayaan bahasa juga harus mumpuni, yaitu bahasa-bahasa lama yang sekiranya pada zaman dahulu itu menjadi bahasa yang populer. Tetapi untuk mengetahui kedetailan tersebut membutuhkan sebuah perjuangan yang keras pula. Bayarannya adalah terciptanya novel sejarah yang memberi pengetahuan luas tentang sejarah kepada pembaca.

Novel “Amangkurat Agung Prahara Takhta Mataram” ini diambil pada abad ke 16, dimana pada waktu itu belanda sudah tiba di tanah jawa dan menguasai daerah batavia sebagai benteng pertahanannya. Sangat menarik untuk di kaji karena pada waktu itu taktik perang pecah belah sudah dijalankan. Adanya kerajaan kecil-kecil yang berkuasa pada waktu itu mempunyai agenda kepentingan sendiri. Hal ini dimanfaatkan oleh belanda untuk menghasut, membantu beberapa kerajaan yang menguntungkannya. Digambarkan disana bahwa orang-orang kerajaan mempunyai mental yang lemah, lalim, dan tidak saling percaya antara satu kerajaan dengan kerajaan lainnya. Bahkan rusaknya mental para putra raja karena perselisihan merebutkan tahta dan wanita ini menambah citra buruk kerajaan.

Novel ini juga di balut dengan kisah cinta antara tokoh yang mempunyai ilmu tinggi dengan janda saudagar kaya yang kisah kecilnya di kutib pada awal cerita.

Ada beberapa hal yang saya saya perhatikan dari novel ini, salah satunya adalah penggunaan kata polisi. Apakah memang benar pada waktu itu satuan keamanan negara disebut dengan polisi?, kemudian juga terkait cerita sekandal dan seks yang di gambarkan seakan-akan cara bermain seksnya sungguh sangat brutal dan penuh penyiksaan. Apakah memang benar seperti itu? Saya kira itu tidak benar, karena dari sudut pandang penulis sendiri tidak mungkin kiranya ia mengetahui berita bagaimana perlakuan seks oleh orang-orang kerajaan, karena berita itu sesuatu yang sangat rahasia pada zaman dahulu, dan saya kira itu tidak mungkin akan di publis keruang umum untuk disebar luaskan sampai kezaman ini. Penggambaran yang mendetai dan pengelolaan kata yang digunakan oleh tokoh-tokoh penting memang seharusnya menjadi pokok yang harus diperhatikan. Karena jika kita terlalu melapas imajinasi kita tanpa memperhatikan efek citranya. Itu bisa membuat para pembaca memaknai kebejatan pemerintah saat itu sangat luar biasa keterlaluan, yang mungkin saja dalam kenyataannya tidak seperti itu.

Hikmah yang bisa dipelajari dari novel ini adalah jangan bercerai berai dan tidak bersatu karena ketika kita bercerai berai maka sesungguhnya pihak asinglah yang menikmati hasilnya. Selain itu dengan membaca novel ini saya menjadi berpikir bahwa apapun sistem pemerintahannya baik itu kerajaan ataupun negara, baik itu mengatas namakan sistem islam atau bukan itu tidak menjamin akan membuat menjadi suatu negara/kerajaan yang makmur bersih dari korupsi kolusi dan nepotisme. Sebaliknya apapun sistem negaranya jika orang-orang yang mengisinya adalah orang-orang yang berbudi luhur, adil, jujur, amanah, dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan maka negara/kerajaan itu akan menjadi negara yang makmur.

UFORIA BARU MENUJU TANAH HIJRAH

Kalau melihat tunas baru itu saya menjadi optimis untuk memandang kedepan. Itung-itung sebagai obat keresahan kalau-kalau apa yang telah di kerjakan dan di perjuangkan selama 4 tahun ini tidak merugi. Siapa tidak bangga bila melihat adek-adek baru yang meneruskan perjuangan kita!, mereka itu bak tunas baru yang akan mewarnai dunia pergerakan yang lebih baik dari apa yang sudah kami perjuangkan kemarin. Dengan pasukan yang lebih banyak dan dukungan dari beberapa pihak menjadi warna tersendiri, menjadi warna yang lebih cerah daripada warna kemarin.

Menyongsong tema “Hijrah Tanah Pergerakan” dalam pelantikan pengurus komisariat PMII Sepuluh Nopember masa ibadah 2016-2017. Ini menjadi pertanda bahwa uforia dan tantangan pergerakan mereka akan mengalami perubahan yang drastis. Kondisi zaman yang serba komplek dan terus menuju kekomplekan yang lebih komplek menjadi tantangan yang lebih berat dan membuat arah pergerakan berputar 180 drajat. Kita sudah tidak membicarakan tentang siapa yang di tindas karena memang saat ini hal yang seperti itu menjadi kelabu, banyak kepentingan yang menunggangi dan mengatasnamakan pembelaan, tetapi itu hanya bualan saja.

Pada tahun 60-an para pemulung hanya mempunyai pakaian terbatas dan tinggal di kolong jembatan, di bawah pohon besar, makan kesusahan. Tetapi kini pemandangan itu sudah menghilang, hanya tinggal namanya saja yang ada, orang-orangnya sudah berbeda dari tahun 60-an, mereka kini tidak tinggal di bawah kolong jembatan, atau di bawah pohon besar, mereka kini mempunyai tempat tinggal yang mapan dan telefon genggam serta tidak perlu susah payah mencari makanan seperti dulu. Masalahnya adalah bagaimana cara membangun etos kerja dan keinginan untuk belajar membangun hidup yang lebih layak dan menginspirasi.

Kemauan keras, etos kerja, amanah, dan prestasi adalah hal yang harus di tingkatkan. Kebanyakan orang di indonesia tidak mempunyai etos kerja yang tinggi, dan malah memiliki moral yang tidak baik, korupsi di sana sini, melakukan pekerjaan negara dengan semaunya sendiri. Itulah mengapa bangsa kita menjadi lamban berkembang maju dan kalah dalam persaingan dunia.

Teknologi kita masih menggunakan teknologi buatan asing. Kedaulatan kita belum secara menyeluruh kedaulatan negara. Kita masih belum benar-benar merdeka dari tangan-tangan negara asing, sumber daya alam kita masih di kuasai mereka karena kita tidak mempunyai seorang yang ahli dalam mengelola sumber daya alam.

Hal ini menentut untuk melakuakan perbahan baru dalam bergerak. Dan membutuhkan persiapan kader baru yang mempunyai pandangan lebih luas untuk mempersiapkan diri menjadi insan rahmatan lillalamin. Memperdalam ilmunya agar kelak mampu bersaing dalam dunia internasional, mencetak diri untuk mampu menjalankan teknologi pengelola sumber daya alam sendiri, tidak ketergantungan kepada pihak asing, membuat pabrik-pabrik teknologi sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini membutuhkan persiapan yang lama. Penanaman mau bekerja keras menjadi hal utama untuk membangkitkan gaiarah anak muda agar kelak mereka menjadi pengemban negara yang tidak korup, bijak, amanah dan cerdas.

Untuk itu perlu adanya suatu rumusan pergerakan baru, sebagai pijakan guna menyongsong Indonesia yang lebih baik.