MISKIN DAN KAYA

si kaya dan si miskin

Pedagang itu sedang berjualan di samping dijalan, dekat rumah kayu kecil yang terlihat sangat sederhana dengan penghuni bisa dibilang adalah orang yang gagal dalam hidupnya menurut orang-orang yang berpendidikan berkelas.

Kulihat lelalki yang bediri di teras rumah itu mempunyai tato dilengan tangannya, menandakan bahwa dia adalah preman. Desa tersebut merupakan desa preman, terletak dijalan cumi-cumi di kota Semarang, dengan seorang istri yang menemaninya lelaki itu hidup.

Aku tak bisa membayangkan jika aku berada diposisinya dengan pendidikanku sekarang yang meneruskan jenjang lebih tinggi. S1 pasti menjalani hidup seperti itu akan sangat memalukan, bagaimana mungkin seorang calon sarjana hidup terlantungan tak jelas masa depannya, cari nafkah susah apalagi memikirkan pendidikan anak anaknya.

Terlihat rumah itu tersusun oleh kayu dan berteduhkan esbes, ya kalau sing pastinya sangat panas dan mungkin takbisa dibayangkan apabila hujan turun dan membanjiri daerah tersebut pasti juga akan tergenang, pertanyaannya apakah nyaman ketika banjir datang, bagaimana dengan keadaan istrinya? Dimana pasti akan banyak omelan-omelan, bagaimana pula keadaan keluarganya untuk kedepannya, aku takbisa membayangkan bagaimana keadaannya.

Malam ini sambil mendengarkan lagu qiroah aku menulis catatan ini untuk membiasakan diri menulis, setelah siang tadi membaca artikel As Laksana di websitenya katanya menulislah walau tulisanmu jelek, produk dari membaca memang harus menulis dan bernalar, sesuatu yang masuk sehatnya memang harus dikeluarkan seperti jika kita menimba air di sumur, semakin kita banyak mengambil air sumur maka semakin banyak air yang dikeluarkan oleh sumur tersebut dan semakin jernih pula air yang ada didalam sumur tersebut, jika tidak pernah di timba atau diambil maka bisa dipastikan sumur itu akan habis atau airnya akan keruh.

Filosofi tentang hidup adalah bahwa kita diciptakan oleh Tuhan untuk bekerja, semakin banyak bekerja semakin sehat keadaan kita, tangan yang banyak digerakan untuk menulis mengambil sesuatu barang mengangkatnya akan sangat sehat dibandingkan tangan yang tidak digunakan untuk apapun, sebagaimana akal, hati, kaki, dan semua anggota tubuh kita, bayangkan dan nalar pasti nanti akan ketemu bahwa yang terbaik adalah mengerjakannya sesuai dengan keadaannya.

Kembali lagi ke topik diatas tentang kaya dan miskin, entah bagaimana malam ini saya memilih topik kaya dan miskin setelah tadi jalan keluar dengan teman saya.

Terbesit sebuah pertanyaan apa bedanya kaya dan miskin dalam hidup ini, mengapa banyak orang menjauhi kemiskinan dan mengapa pula banyak orang mendewakan hidup dengan keadaan kaya, apakah hidup sebagai seorang kaya bisa menjamin dirinya bahagia, dan apa pula menjalani hidup sebagai seorang miskin menjadikan seseorang menjadi sengsara, maka saya juga akan menanyakan apa pula bahagia itu.

Sebagai anak yang terlahir dari keluarga yang dibilang tidak kaya, kecukupanpun tidak karena uang yang datang tak bisa di simpan untuk ditabung, keluarga saya boleh dibilang seperti itu. saya tetap bias menjalankan hidup dengan bahagia, dimasa kecil saya yang tak mengenal handphone atau permainan game Ps 2 maupun Ps 3 yang biasa dimainkan oleh orang kota yang terbilang mampu dan kaya. Saya sangat bahagia tanpa itu, tanpa makanan kue yang lezat untuk dimakan tanpa jalan-jalan ke mol, tanpa memegang uang yang banyak, cukup berkumpul dengan teman dan melakukan permainan bersama sudah cukup membuat saya tertawa dan bahagia.

Teman saya yang kini duduk dibangku kuliah dengan saya sangat mengidam-idamkam kehidupan yang serba cukup dan kalau boleh kaya agar mampu melakukan apapun yang dimau, dengan berharap bias bekerja di pelindo yang gajinya 24 kali dalam setahun, dimana satukali gaji pertama 4 juta atau lebih, bahkan bisa sampai satu gaji perbulan adalah 10 juta, dengan bercita-cita dapat membeli mobil dan lainnya. Yah boleh saya bilang seperti apa yang pernah dikatakan oleh MH Ainun Najib bahwa mereka kalau disuruh memilih bekerja atau tak bekerja dan dapat uang sebear 5 juta pasti mereka akan memilih untuk tak bekerja dan mendapat uang.

Saya kembalikan bahwa sehat itu adalah memfungsikan segala apa yang di amanatkan oleh tuhan kepada kita dengan sebaik-baiknya, jika kita punya tangan ya kita fungsikan dengan sebaik mungkin, jika kita mempunyai kaki kita gunakan untuk berjalan dengan benar sesuai dengan porsinya, begitu pula telinga, mulut, mata, dan sebagainya mengenai tubuh kita. Lebih besar lagi segala hal yang melingkupi hidup kita seperti waktu, status, lingkungan, dan kemahiran kita.

Hanya sekedar menegaskan bahwa bahagia itu tidak ditentukan oleh kaya atau miskin, tetapi bagaimana kita mengenal apa itu syukur dan sabar dengan keadaan yang diberikan oleh Tuhan serta memanfaatkan dengan sebaik mungkin***

Oleh : Imam Syafi’i Mustofa
00.39, kamis, 08 juli 2015

Iklan