PENDIDIKAN ATAUKAH PEMBENTUKAN.

Sudah lama saya tidak menulis, meletakkan kata perkata membentuk frase perfrase yang kemudian  dari frase perfrase membentuk kalimat perkalimat yang kemudian dari kalimat perkalimat mewakili apa yang sedang saya pikirkan, tentang ide, tentang pendapat ataupun tentang berita saat itu saya alami, ya hanya sekedar mengkonsistensikan kebiasaan menulis, karena memang menulis bagi saya merupakan bagian potongan pecahan dari kegiatan belajar, selain membaca, berdiskusi dan aksi “terjun kelapangan untuk sekadar hanya berteori”. Untuk mengisi kekosongan setelah lama saya tidak menulis, maka yang saya kutulis ini mewakili dari apa yang kemarin saya pikirkan setelah membaca sebuah buku, soal pendidikan di era sebelum kemerdekaan.

Pendidikan Ataukah Pembentukan.

Pada tahun 1870 Tanah Air kita belum bernama Indonesia, namun masih menggunakan nama Hindia Belanda, pada waktu itu sudah ada sitem pemerintah, dimana yang menjalankan pemerintah adalah orang-orang belanda. Pada waktu itu Rakyat masih mengalami pahitnya penjajahan, di atur seenaknya sesuai dengan keinginan dan kepentingan pemerintah Belanda saat itu.

Sistem pendidikan, perekonomian, budaya pada saat itu banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah belanda, dimana bisa saya ambil contoh masalah pendidikan. Pendidikan saat  itu dibedakan menjadi dua kategori, kategori yang pertama rakyat Indonesia di sekolahakan dan  di cerdaskan untuk di cetak sebagai kepala daerah yang mengatur daerah-daerah yang ada di Indonesi, tetapi pendidikan ini ada sekenarionya bahwa yang menjadi kepala daerah haruslah orang yang dekat dengan belanda yang bisa menjadi teman untuk dimanfaatkan,  dikendalikan kebijakan peraturannya oleh Pemerintah  Belanda. Kemudian kategori kedua, rakyat di jadikan sebagai pekerja atau budak, dimana rakyat tidak berhak mengenyam pendidikan agar  tetap menjadi orang bodoh dan mudah untuk disuruh menjadi budak pekerja.

Sistem ekonomi  ditentukan oleh Pemerintahan Hindia Belanda dimana pengaturan penetapan harga dari suatu komoditas mutlak adalah hak perogatif pemerintah. Rakyat tidak boleh menolak dan harus menerimanya suka taupun tidak suka.

Saya rasa keadaan seperti di atas sama dengan keadaan di zaman sekarang, sekolah kita dibentuk untuk mencetak orang orang peribumi beridiologi kapitalis, itu bisa kita dilihat dari materi pembelajaran yang di ajarkan di sekolahan, kita dituntun untuk mendapat nilai yang baik sesuai dengan kurikulum, dimana ketika seorang siswa mendapat nilai jelak atau dibawah standar nilai rata-rata, maka dia di anggap siswa bodoh dan jika mendapat nilai bagus maka dia dianggap siswa yang cerdas, padahal bisa mengerjakan soal atupun tidak seharusnya itu bukanlah ukuran kita menstetmen bahwa siswa itu bodoh atau cerdas.

Rasa kemanusian yang bisa mengunggulkan manusia dari hanya sekadar nilai ujian, uang, jabatan atau pangkat hari ini mulai terkikis dan menghilang, entah kemana dan sejak kapan dimulainya.Kini  Sistem pendidikan kita yang masih meniru sistem pendidikan Belanda tanpa ada penyaringnnya.

Bangsa kita adalah bangsa yang menjunjung nilai kerohanian, seharusnya pendidikan porsi materi pembelajarannya lebih besar kepada kerohanian dari pada ilmu lainnya, negara kita adalah Negara yang kaya seharusnya pendidikan kita mengacu pada pengelolaan tanah air kita, pelajaran utamanya adalah bagaimana cara bercocok tanam yang baik, bagai mana membuat irigrasi yang baik, bagai mana membuat kapal nelayan yang baik.  Intinya kita seharusnya melihat disekeliling kita sebagai bahan ajar mengajar pendidikan sekolah.

Ada budaya, ada serat makna filosofi kehidupan, ada obat obatan tradisional, dan banyak yang lainnya tentang khazanah Nusantara yang dapat kita pelajari lebih dalam.

Sebaga penulis saya beropini bahwa sistem pendidikan di Negara kita sekarang adalah sistem pembentukaan manusia baru yang ajarannya mengarahkan kita untuk jauh dari jatidiri kita sebagai bangsa Indonesia.

Pendidikan kita tidak sekedar  formal saja seperti semisalnya pendidikan di Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menegah Keatasa dan di Universitas. Pendidikan dimulai sejak kita bangun tidur dan mulai tidur lagi, ada Televisi, ada Koran, ada tontonan yang menjadi tutuntunan, ada teman baik, ada teman yang buruk, ada keluarga, ada sisitem lingkungan ,dan masih banyak lagi yang mempengaruhi pola piker kita.

Televisi yang kini acaranya menjadi tuntunan telah menghegemoni kita secara basaer-besaran. kita  bangsa berkulit sawo matang di suruh mengagumi bangsa yang berkulit putih seperti kulit kulit orang Jepang maupun Korea saat ini. Sebenarnya hal seperti itu kareana tontonan di Televisi ada maunya dan ada yang mengendalikannya, agar produk kosmestik buatan Luar Negeri sebagai sumber pemasukan bisa terjual secara besar besaran.

Indonesia yang kini menjadi primadona dunia dimana Perusahaan Asing berbondong bondong ingin menguasinya, menanam modal, mapun mendirikan perusaan untuk mengeruk kekayaan alam sebanyak banyaknya. Sifat kerakusan meraka memungkinkan gunuug untuk dimakan, tak hayal jika orang-orang pribumi yang dekat dengan mereka menjadi ikut tertular penyakit rakus tersebut, yang nanti akan mempengaruhi cara pandang hidup mereka, dan suatu saat akan menularkannya kepada orang yang dekat dengan mereka, alhasil suatu saat orang-orang pribumi menjadi rakus semau dan lupa akan jatidiri mereka sendiri sebagai orang yang memaknai hidup tidak sekedar makan dan minum saja, dan nantinya bumi Indonesia menjadi rusak memunculkan beranekaragam bencana.

Begitulah segelintir pandangan saya terhadap Indonesia terutama pada sistem pedidikannya, kita di bentuk untuk menjadi para pekerja dan secara pelahan-lahan kita disuruh untuk melupakan jati dirikita. Wal hasil suatu saat akan timbul suatu pertanyaan dari diri kita “Siapa Kita ?”

Rabu, 29 Oktober 2014, 16:36
Oleh : Imam Syafi’i Mustofa

Iklan

PELANTIKAN PENGURUS KOMISARIAT 15 PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA SEPULUH NOPEMBER

Bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1436 Hijriyah atau setelah 5 hari pelantikan Presiden Indonesia bapak Jokowi sebagai presiden ke Tujuh. Kami sebagai Kader PMII melantunkan sumpah janji sebagai Pengurus Komisariat PMII Sepuluh Nopember. Malam itu banyak sekali para undangan yang hadir menyaksikan pelantikan kami, ada Mas Rudi selaku Ketua Umum dan Ketua Bidang II Pengurus Cabang PMII Surabaya, Ketua dan Sekretaris Pengurus Komisariat (PK) PMII At-Taswir, Ketua dan Sekertaris serta Jajaran PK PMII Unesa, Ketua dan sekertaris serta Jajaran PK PMII Unair, Ketua dan Sekertaris serta Jajaran PK PMII UINSA, Ketua dan Sekertaris serta Jajaran PK PMII UWK, juga dihadiri dari ormek-ormek lain, diantaranya Ketua koordinator komisariat HMI, Ketua Komisariat KAMMI, Ketua koordinator GMKI, Ketua Komisariat Gema Pembebasan, Ketua Komisariat IMM. Kemudian dari Intra Kampus dihadiri oleh Mas Mukhlis Sebagai Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS 2013-2014, Mas Fajri Sebagai PresBEM ITS 2014-2015, Kahima dan Wakahima, Perwakilan Dewan Perwakilan Mahasiswa ITS, Komunitas Peduli Cak dan masih banyak lagi.

Malam itu kami juga kedatangan tamu undangan yaitu Bapak Ir. Muhammad Faqih, M.S.A., Ph.D. selaku Pembantu Rektor II ITS dan Bapak Dr. H. Agus Zaenal Arifin, M.Kom selaku Dekan Fakultas Teknologi Informatika ITS yang mana Bapak Ir. Muhammad Faqih, M.S.A., Ph.D. dan Bapak Dr. H. Agus Zaenal Arifin, M.Kom, merupakan Majlis Pembina Komisariat (Mabinkom) PK PMII Sepuluh Nopember. Tidak lupa juga bapak Ketua Tanfidiyah Nahdhatul Ulama (NU) dan Para Alumni Komisariat  PMII Sepuluh Nopember.

Acara dibuka dengan lantunan bacaan ayat suci Al-Quran yang dibawakan oleh Sahabat Zaki, begitu merdu suaranya memenuhi segenap ruangan Gedung MWC NU Sukolilo sehingga para peserta mendengarkannya secara hikmad. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang telah disusun oleh panitia acara pelantikan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Demisioner PK PMII Sepuluh Nopember, beliau adalah Ahmad Daroin. Kemudian oleh Bapak Ir. Muhammad Faqih, M.S.A., Ph.D. dan dilanjutkan Mas Rudi sebagai Ketua PC PMII Surabaya yang mana beliau nanti yang akan melantik kami sebagai PMII Sepuluh Nopember Masa Ibadah 2014-2015.

Sebagai Pengurus komisariat baru kami dapat banyak sekali wejangan dari Beliau-beliau, yang mana salah satunya adalah wejangan dari pak Faqih. “ di era zaman Gelobal, yang pertama dibutuhkan orang-orang yang mampu berbahas yang baik serta benar, baik bahasa arab sebagai bahasa penghubung antara sesama umat islam, bahasa Inggris sebagai bahasa gelobal yang kini di gunakan. Yang kedua di butuhkan orang-orang yang mampu berkomunikasi dengan baik, serta mampu menyesuaikan dengan lingkungan. Yang ketiga orang-orang yang dapat menjalankan Teknologi Informasi dalam kehidupannya sehari hari.” ”Di tahun 2045 nanti para pemuda Indonesia mampu mengantar Indonesia menjadi Negara Terbesar Didunia, untuk itu dimulai dari sekarang persiapkan diri anda, dalami bidang ilmu anda, karena takmungkin anda akan menguasai, menjadi master dalam semua bidang. Yang  berada dalam Bidang Keilmiahan dalami Keilmiahan anda, yang berada dalam Bidang Sains dalami ilmu sains anda, yang dalam ilmu sosial dalami ilmu sosial anda, perbanyak membantu rakyat melakukan amal sholeh”. Begitulah pesan bapak Faqih yang bisa kami terima.

Berkata tegas jelas dan lantang merupakan gaya mas Rudi pun itu beliau terapkan pada sambutan beliau, mempertegas kedudukan PMII Sebagai organisasi yang memperteguh keutuhan NKRI, membawa Islam Idonesia yang Rahmatallil alamin. Suara Mas Rudi sungguh menggema sampai keluar gedung MWC NU Sukolilo, menyebarkan semangat ber api-api, seperti halnya Bung Tomo Berpidato di depan Pasukan Revolusi Jihad.

Setelah sambutan-sambutan acara dilanjutkan dengan sesi pelantikan yang dilakukan oleh Ketua PC PMII Surabaya. Diiringi dengan lantunan Sholawat Badar nama kami dipanggil satu persatu di mulai dari ketua PK 15 PMII Sepuluh Nopember  yaitu Imam Rahmat dan Kemudian dilanjutkan oleh Ketua Bidang I PK 15 PMII Sepuluh Nopember, Ketua Bidang II PK 15 PMII Sepuluh Nopember, Ketua Bidang III PK 15 PMII Sepuluh Nopember, Sekertaris PK PMII Sepuluh Noember, Bendahara PK 15 PMII Sepuluh Nopember dan di ikuti dengan Jajaran Pengurus PK 15 PMII Sepuluh Nopember lainnya.

Lantunan Sholawat Badar terus mengiringi perjalanan kami menuju keatas panggung hingga kami  semua sebagai Pengurus PK 15 PMII Sepuluh Nopember berada di atas panggung. Setelah kami berda di atas panggung Sumpah Setia kami Sebagai Pengurus PK 15 PMII Sepuluh Nopember Kami ucapkan dihadapan puluhan peserta yang hadir pada saat itu.

Setelah sesi pembacaan sumpah, pelantikan Pengurus PK 15 PMII Sepuluh Nopember di tutup dengan Mahalul Qiyam, dimana Semua pesrta ikut berdiri dan elantunkan bacaan Mahalul Qiyam secara bersama-sama tidak peduli perbedaan agama ormek semua berdiri serentak bersatu padu seakan-akan NAbi Muhammad saw. Pada waktu itu datang melihat kami dan semua orang yang ada di ruangan itu. Pembacaan Mahalul Qiyam yang dilakukan oleh personil Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Cinta Rebana sangat khidmad.

Acara selanjutnya setelah sesi Pelantikan adalah sambutan dari Ketua Pengurus Komisariat PMII Sepuluh Nopember yang baru, di mana dalam akhir sambutan beliau, Imam Rahmat membacakan Puisi terkait dengan tema yang telah beliau usung, “Duduk Melingkar dalam Konsolidasi Lahir Batin untuk PMII Rahmatan Lil’aalamiin”.

Tidak lupa sepatah dua kata patah sebagai penutup acara di sampaikan oleh Bapak Dr. H. Agus Zaenal Arifin, M.Kom dan Salah satu Alumni PMII Sepuluh Nopember. Akhir acara di tutup dengan Ramah tamah bersama, pengurus lama, pengurus baru, alumni dan para undangan lainnya.

“Bersemilah… Bersemilah… Tunas PMII

Tumbuh Subur tumbuh subur Kader PMII

Masa depan di tanganmu

Untuk meneruskan perjuangan

Bersemilah… bersemilah… Kau harapan bangsa”