Tentang Lagu dan Sastra Dalam Genggam Pasar

img_6090

Lagu

Desiran dari setiap nada yang mengalir, mengubah suara menjadi kesan yang begitu lembut masuk ke dalam rongga hati. Membuat para pendengar menjadi ter-ekstasi seakan dunia baru sedang tampil di depannya. Pelangi-pelangi hinggap pada daun fikir melalui telinga.

Sayangnya lagu itu menjadi nada-nada yang sendu tatkala ia hanya menjadi pesan yang mengikis pada ketajaman pemuda. Saat opini pemuda hanya terbungkus oleh modernisasi, kepentingan individu, kesejahteraan pribadi, cinta yang terlalu melo, dan sajak patah hati.

Seharusnya ia harus tampil elegan, dengan memasukan pesan kesan yang membangun jiwa besar, membangun otot-otot ke-optimisan membangun peradaban bangsa yang bermartabat dan menjadi panutan bagi yang lain. Seperti halnya pemuda Soekarno yang menjadi simbol Macan Asia pada waktu itu

Tempat kita adalah tempat yang melahirkan beribu budaya yang bermacam-macam, bahasa yang beratus-ratus dari ujung kulon ke ujung timur. Tak hayal jika seharusnya kita mampu menciptakan lagu yang lebih populer dari barat. Yang menceritakan tentang kehidupan, surga, dan keharmonisan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan alam.

Tapi lagu itu kini menjadi sendu dan penuh dengan elegi patah hati. Apakah ini dampak dari efek krisis jati diri. Terlalu kabur oleh tujuan kemakmuran pribadi yang rela mengorbankan kawan maupun taman tempat kita makan, minum dan berteduh.

Sastra itu Diri Kita

Sekumpulan kata menyampaikan makna. Sejuta cahaya yang terpancar dari aksara mengalir begitu deras menuntun sebuah kapal kehidupan menuju pintu pencerahan dan makna akan hidup. Karena pemilihan kata adalah keindahan yang menuntun para pembaca pada pencerahan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga akan ke-sastra-annya. menghormati setiap syair leluhur yang bijak. dan menjalankan kebaikannya.

Dulu tempat kita berpijak adalah tempat dimana melahirkan manusia-manusi unggulan yang setiap petuahnya adalah sastra kebijakan. Sastra yang mencerminkan tatanan sosial yang lebih baik daripada demokrasi barat.

Sastra kita tercermin pada lagu-lagu yang di nyanyikan setiap malam. di desa-desa. maknanya adalah tuntunan hidup yang tersirat dalalam kata yang jenaka. Kebanggaan adalah milik kita. Tak perlu bermuluk-muluk pada kursi panas yang saat ini diperebutkan. Nilai itu sudah ada.

Sejatinya sastra adalah pemilihan kata yang terbaik untuk membangun sebuah lukisan penyampai pesan hidup pada setiap generasi.

Keabadian Sastra

Ada yang bilang jika kau ingin abadi, maka menulislah. dengan menulis namamu akan harum sepanjang masa dikenang oleh setiap pembaja yang tak lekang oleh waktu. Mengenal orang mati hanya dengan tulisannya atau tulisan yang dicatat oleh orang lain.

Hidup bukan hanya mencari makan dan minum tetapi melakukan kerja dan menyampaikan pesan. Pesan yang abadi adalah pesan yang tertuang dalam tulis yang bermakna menggugah pada setiap pembaca untuk mengikuti pesan itu lalu menyampaikannya kepada generasi berikutnya

Orang boleh berkata semamunya berlaku sekerasnya berjuang mati-matian. tetapi jika ia tidak tertulis maka hidupnya hanya seketika itu. Dalam tubuh yang rentan oleh kematian

Dengan berbudaya sastra kita tidak akan pernah buta pada sejarah dan sejarah merupakan cerminan hidup di masa depan. Kehilangan sejarah berarti kehilangan jati diri dan kehilangan jati diri merupakan awal kejatuhan dan kekalahan di masa depan.

Pasar dan Ketidak Adilan

Pasar seharusnya menjadi simbol kesejahteraan yang merata. bukan simbol kesejahteraan yang termonopoli pada individual atau kelompok. dimana mereka yang menguasai pasar dengan mudah mengendalikan masyarakat kecil. Membesarkan budaya yang menguntungkan dan memusnahkan budaya yang merugikan

Bila mana lagu sendu menjadi idaman tatkala publik dengan gencarnya menyebar budaya-budaya materialistik, maka hal itu tak lain adalah pengaruh pasar yang menghendaki para konsumen berperilaku konsumtif

Kesadaran diri untuk hidup sederhana dan saling membantu sesama hanya akan merugikan kapital-kapital asing yang mengendalikan pasar. maka mereka yang melagukan syair sendu merekalah yang akan di jadikan raja, dijadikan pablik tuntunan dan di kayakan

Berbondong-bondong masyarakat akan memujanya berharap bisa menjadi aktris yang sukses oleh materi hingga secara masif pertambahan orang gila menjadi sangat tajam.

Sastra hanya menjadi syair cinta yang sendu dan elegi. Akibat pasar yang menjadi tuhan semua sistem tentang kebijakan dan kesejahteraan serta keadilan yang merata menjadi barang yang langka. Syair-syair kebijakan akan punah sesuai dengan kemajuan zaman yang membesarkan pasar

Iklan

MENATA HATI MENATA FIKIR

gambar-pohon-cantik-pemandangan-alam-indah-wallpapers

Frame Berpikir

Tandanya jika sudah tidak bisa menerima nasihat lagi, bagai padi yang semakin merunduk keatas. Semakin kopong maka semakin berdiri tegak tanpa mau merundukan diri. Kalau kita sudah berada pada posisi yang seperti itu. Cepat-cepatlah berbenah diri. Evaluasi diri lebih penting daripada mengevaluasi orang lain. Jangan-jangan kitalah penyebab keruwetan sebab kita sudah tidak mau mendengarkan apa kata orang lain yang drajatnya lebih rendah daripada kita atau yang berbeda sepemahaman dengan kita.

Itu bisa sebab karena hati kita yang sudah keras, atau karena sebeb kita sudah masuk kedalam frame pemikiran yang sengaja di buat untuk menciptakan perbedaan. Yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Tokoh yang kita anut, yang lainnya dianggap salah jika pendapatnya berbeda atau bertentangan dengan pendapat tokoh tersebut. Jika sudah seperti ini mau diapakan lagi, hanya tinggal berdoa semoga Allah membukakan pikiran dan hatinya agar terbuka dengan pendapat-pendapat yang lain. Pastinya dengan nurani yang benar untuk menilai mana yang benar dan salah, mana yang memberi manfaat dan madhorot

Sebagaimana respon dari beberapa kawan yang dengan ngototnya bilang “Itu Fitnah” pada sebuah tulisan yang disajikan dengan data yang ada. Mereka sudah tidak bisa berfikir dengan jernih lagi. Bila yang disampaikan berupa data-data yang sederhana diambil dari beberapa website, youtube, dan beberapa statmen tokoh mereka, seharusnya jawabannya bukan langsung mengatakan “Itu Fitnah”, tetapi langsung mengklarifikasi data satu persatu.

Jika memang website dari data yang disajikan tersebut ada yang keliru, seharusnya itu yang menjadi fokusan, dengan analogi kajian jika memang itu salah beginilah salahnya. Jika itu memang benar maka akuilah dan jangan malu untuk mengakui kesalahan. Karena dengan kesalahan kita menjadi tahu bahwa itu salah dan cepat-cepat berbenah diri.

Tetapi hal seperti itu tidak mereka lakukan, karena mungkin frame pemikiran yang mereka gunakan sebagai pijakan sudah berbeda dengan frame pemikiran yang menyajikan data. Seoalah-olah bagi mereka data tersebut memang benar-benar fitnah, tanpa perlu adanya kajian terlebih dahulu.

Frime pemikiran menjadi landasan berpijak memang sangat mempengaruhi proses berpikir kita. Ibarat belajar ilmu sejarah, membenarkan apa yang yang dikatakan oleh seorang pakar sejarah satu bisa membuat kita menyalahkan perkataan seorang pakar sejarah lainnya yang berbeda pendapat dari pakar sejarah yang satu itu.

Bolehlah kita ambil contoh “Kembali kepada Al-Quran dan Al-hadist”, sebagian kelompok mengatakan bahwa kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist ialah kembali kepada setiap ayat Al-Quran dengan makna yang saklak ditentukan oleh si penerjemah dan Hadist yang saklak dengan perkataannya tanpa di embel-embeli penjelasan lebih terperinci. Model seperti ini memang kelihatannya secara sederhana dianggap sangat benar, karena dari selogannya “Kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist” menjadi gaya tarik tersendiri bagi para pengikutnya.

Tetapi bagi sebagian kelompok kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist bukan seperti itu. Dengan metode kehati-hatiannya dalam memaknai maksud dari setiap ayat, mereka perlu mengkaji lebih dalam lagi terkait pendapat-pendapat ulama’ pendahulu (berupa kitab tafsir, dan kitab-kitab yang diperlukan untuk meluaskan pandangan). Mengkaji ilmu Fiqih, Mengkaji Ilmu Tauhid, Mengkaji ilmu Tasawuf. Mengkaji ilmu Asbabul Nuzul, dan banyak ilmu lainnya yang digunakan untuk memaknai setiap ayat Al-quran.

Inilah yang saya maksud dengan frame landasan berpikir. Dimana yang satunya sangat menentang dengan adanya kitab-kitab karangan ulama’ pendahulu sebagai khazanah memaknai Al-Quran dan Al-Hadist dengan menyebutnya bid’ah dan sudah sangat tertanam dalam pikiran mereka untuk haram membaca kitab-kitab tersebut. Dan yang satunya menganggap perlu adanya mempelajari kitab-kitab tersebut, karena tanpa melalui kitab tersebut tidak akan mampu memaknai Al-Quran dan Al-Hadist sesuai dengan konteknya,

Jika seperti ini kita bisa melihat mana frame landasan berfikir yang sempit dalam memandang suatu permasalahan. Dan mana pula yang luas dalam memandang suatu permasalahan.

Media

Akhir-akhir ini kita seolah-olah diadu domba dengan yang namanya media. Konten berita yang memberikan informasi yang bertentangan membuat pembaca harus saling sikut menyikut sesama teman, menebarkan kecurigaan, dan merenggangkan persatuan. Seperti halnya frame pemikiran diatas, banyak para pembaca secara tidak sadar mengikuti arus permainan media, lebih suka menyebarkan informasi yang mendukung dengan apa yang dimau oleh pembenaran dirinya (Tanpa memandang maslahan dan madhorot jika tulisan tersebut di sebarkan). Dan pada akhirnya secara tidak sadar berita yang kita sebarkan tersebut telah memperkeruh fikiran dan hati kita, cacian kepada sesama manusia tak terelakkan lagi.

Hanya persoalan berbeda kata, pendapat, beredar meme-meme yang memperolok-olok, dengan tulisan yang tidak mencerminkan akhlakul karimah, kata-kata kafir, syiah, JIL beredar menebar kesebagian para ulama’ dan tokoh. Dengan begitu viralnya berita (tulisan, gambar, meme) tersebut disebar dimedia masa dan dibaca oleh kalangan publik, mempengaruhi cara berpikir para pembaca. Para pembaca menjadi lupa untuk mengevaluasi dirinya sendiri (Apakah hidup saya lebih baik daripada hidup orang yang saya bicarakan) dan menjadi terobsesi untuk menggali kesalahan orang lain

Bahayanya adalah jika kita sudah sampai tidak bisa berpikir lagi bahwa setiap manusia itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Dan berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain tanpa mau berinstropeksi diri (karena terlena dengan bahasan kejelekan orang lain). Bukankah ini bisa dinamakan dengan sombong.

Tidak hanya berhenti pada mempengaruhi kita untuk asyik memperolok dan membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi jauh dari itu semua goal dari berita-berita yang mempunyai daya magis memprovokasi pembaca untuk saling berkubu-kubu itu adalah perpecahan antar umat dan bangsa.

Menata Hati dan Menata Fikir

Sudah seharusnya kita membekali diri kita dengan akhlak yang mulia seperti yang tercermin dalam akhlaknya Rosulullah, bersifat welas asih, sabar, berhusnudzon, berendah hati, memaafkan, menjauhi prilaku yang membuat orang lain tidak senang, dan mendoakan semua manusia agar mendapat petunjuk dari Allah. Yang masih belum islam kita doakan segera diberi petunjuk oleh Allah untuk bisa masuk islam, yang berbuat dzolim kita doakan somaga segera diberi kesdaran agar meninggalkan kedzolimannya. Serta seraya meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah dilakukan baik itu berupa tingkahlaku dan perbuatan yang buruk maupun perasangka-perasangka yang tidak baik kepada sesama.

Benar belum tentu baik, baik belum tentu benar, salah belum tentu buruk, buruk belum tentu salah. Seyogyanya kita tetap belajar dengan tanpa membatasi diri, mengekang diri pada fikiran-fikiran sempit yang tidak mau menerima nasihat baik dari seseorang (tidak memandang siapa orang tersebut) seraya tak berhenti untuk terus berharap Ridho Allah.

Pilih Yang Benar, Jangan Sampai Salah

8b94445d-2cc8-4f57-bb60-ae9400e7c933Suatu ketika ada sebuah pertanyaan. “Islam itu memang harus bersatu ya?”, dengan polosnya saya menjawab. “Ya harus bersatu”. Tetapi setelah beberapa saat kemudian saya baru menyadari kalau islam itu memang bersatu pada zaman Rosulullah masih hidup, dan setelah itu islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan yang dan hanya satu yang akan masuk surga. ini membuat saya untuk berhati-hati dalam memilih golongan tersebut.

Pastinya mereka bukanlah orang-orang yang menyebarkan dakwahnya secara provokatif untuk menggiring masanya sesuai dengan agenda mereka. Dengan menghalalkan segara cara, dan memaknai Al-Quran dan Al-Hadist sesuai dengan keinginan mereka. Kalau ada ayat A yang sesuai dengan keinginan kelompok, mereka mengambilnya. Kalau ada ayat B yang bisa di maknai beberapa tafsiran yang berbeda, mereka mengambil tafsiran yang mendukung agenda mereka. Pun juga dengan hadist, mereka juga memilah dan memilih hadist mana yang sesuai dengan agenda mereka, walaupun hadist itu tidak soheh sekalipun. Kalau ada hadist soheh yang tidak mendukung agenda mereka. Bagaimanapun shohihnya hadist tersebut mereka akan mencari dan mencari argumentasi yang melemahkan hadist tersebut atau paling tidak membelokkan makananya agar mendukung kepentingan mereka.

Ini terbukti dari tafsir Al-Quran surat Al-Maidah ayat 51. Banyak sekali kalangan islam yang berbeda pendapat. Namun golongan yang tahu bahwa jika ayat 51 di dalamnya terdapat kata Auliya jika dimaknai pemimpin, ia akan untung banyak dan menjadi senjata ampuh untuk menggerakan masa menggulingkan negara, mereka akan berteriak keras untuk memanfaatkannya guna mendukung kepentingan mereka. Dengan begitu mereka dengan keras menolak tafsir selain itu, bagaimanapun caranya dengan argumentasinya, mereka menolak dan menuduh orang-orang yang berbeda pendapat sebagai pembela dan pendukung non muslim untuk menjadi calon gubenur di negara Indonesia. padahal maksut orang yang menafsirkan itu tidak sama sekali untuk membela salah satu calon.

Tetapi mengingat bahwa tafsiran yang berbeda itu melemahkan argumentasi yang bisa memacu semangat kaum muslimin untuk bisa di ajak berdemo pada tanggal 04 Nopember 2016. Maka menuduh golongan yang berbeda pendapat tersebut sebagai golongan yang membela non muslim untuk menjadi pemimpin dan tidak membela kepentingan islam itu sendiri.

Kejadian ini persisi sama halnya dengan kejadian pembunuhan sayyidina Ali, yang ketika itu ada konflik antara Ali dengan Muawiyah. Untuk memenangkan strategi perang melawan Ali, Muawiyah mengguanakan segala cara yang menguntugkannya, tidak memandang itu cara licik ataupun cara pengecut. Sebagaimana kita ketahui ketika pasukan muawiyah hampir kalah mutlak dengan pasukan Ali, Muawiyah dengan tegasnya mengangkat Al-Quran di atas tombak untuk menghentikan peperangan dan mengatur strategi merebutkan kekuasaan berikutnya. Ia mengaku kalah pada waktu itu.

Demi mencapai tujuannya untuk menjadi penguasa saat itu, maka terjadilah pembunuhan terhadap Sayyidina Ali. Dan persisi setelah itu Muawiyah tampil menjadi penguasa umat sedunia sedunia, dan memberlakukan tafsir Al-Quran dan Aqidah Islam sesuai dengan apa yang bisa membuat langgeng kedudukannya. Seperti halnya pembunuhan terhadap Syyidina Ali adalah Takdir Allah yang tidak bisa kita hindari, dengan begitu maka urusan dengan pengikut Ali pada waktu itu bisa kelar dan meredam kemarahan umat islam pada waktu itu dan membuat kekuasaan Muawiyah bisa menjadi langgeng karena dengan begitu tidak akan terjadi pembrontakan.

Penafsiran Al-Quran dan Al-Hadist serat Aqidah Islam yang sesuai dengan konteks yang menguntungkan bagi pihak yang berkuasa tidak berhenti pada waktu itu saja, pun ketika di zaman kekhalifaahan Abasiyah, pemerintah juga menerapkan salah satu Aqidah saja yang mendukung langgengnya kekuasaan dan memarjinalkan Aqidah Islam yang lain yang tidak mendukung kekuasaannya.

Bagaiman kita menangkap fenomena sejarah ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita untuk menyikapi Al-Maidah ayat 51 ini, isu yang dilemparkan kepublik mengenai penistaan yang dilakukan oleh calon Gubenur Ahok harus kita sikapi dengan kepal dingin dan jernih, jangan sampai emosi kita unggulkan di atas segalanya. Hingga kita tidak sengaja telah menghina, memperolok dan berkata kotor yang tidak mencerminkan prilaku Islam sama sekali. Kita perlu melihat lagi sebenarnya yang di ucapkan Ahok itu apakah memang benar bahwa Al-Maidah Ayat 51 itu tidak benar artinya, atau yang tidak benar adalah politikus-politikus yang mencoba memanfaatkan surat Al-Maidah ayat 51 tersebut.

Sekalilagi umat islam di akhir zaman akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan yang selamat. Anda harus berhati-hati memilih mana golongan yang selamat itu. Pastinya anda tidak akan memilih golongan yang memanfaatkan Agama Islam hanya untuk kepentingan politik saja kan dan juga tidak memilih golongan yang tidak mencerminkan prilaku Islam, yang mengumbar berita-berita propaganda untuk melahirkan kekacauan di negeri yang damai ini, yang mengumbar kata-kata kotor di media sosial, dan yang mengkafir-kafirkan sesama muslim sendiri. Jika anda tidak memilihnya berarti otak dan hati anda sampai saat ini masih jernih.

APA KARENA KURANGNYA MEMBACA

bfb022c6-82e4-4ce4-b248-9de22876ccc4

Membaca bukan sekadar melafalkan sebuah kata saja, membaca adalah memahami dari setiap kata yang tersusun, sedang memahami bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap remeh. Setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda, bahkan ketika ada kata yang sama terkadang ada beberapa makna yang bisa disimpulkan secara berbeda. Disinilah peran pemahaman, ia adalah sesuatu yang sangat luas karena bisa berbeda jika dilihat dari jarak, sudut, dan cara pandang yang berbeda. Sebagaimana kita melihat gajah dari samping, belakang maupun atas akan mempunyai makna yang berbeda. Disinilah mengapa membaca bukan sekadar kita melihat kata atau tanda. Ia lebih kepada bagaimana kita memahaminya.

Persoalan membaca menjadi sangat rumit jika kita sudah mencampur aduk dengan emosi dan kepentingan kelompok tertentu. Membaca akan membawa bencana jika hanya menggunakan akal pikiran yang sempit, wawasan yang tidak luas, buta sejarah, dan tidak mengerti alur periodik suatu kejadian. Sebagaimana kita lihat Indonesia saat ini, yang masyarakatnya terpontang-panting oleh statmen-statmen pera pejabat yang berkuasa yang sedang merebutkan tahta kuasa. Kalau sudah begini apalagi yang bisa kita pegang kecuali mebaca sejarah, mengambil hikmah dari kejadian-kajadian lama yang memiliki momentum sama.

Siapa yang tidak tahu, terkait hebatnya caci-maki antara calon Presiden Jokowi JK dengan calon Presiden Prabowo, mereka saling memfitnah menuduh kejelekan dari setiap calon, dengan berbagai argumentasi penguat. Di anggap antek-antek komunis, di anggap islam abangan, kemudian pengungkitan perkara penculikan 98. Dan bahkan sampai ada ucapan dari salah satu calon presiden tersebut bahwa akan melakukan sejenis perang badar, perang yang sama seperti dimasa Rosulullah antara umat islam dan umat kafir, dengan menganggap dirinya yang paling membela islam dan lawannya adalah antek-antek komunis yang jika nanti terpilih menjadi presiden akan menyebarkan kekafirannya.

Perhelatan adu lidah, saling menjelekkan, menjatuhkan dan memfitnah antara satu sama lain ini berlangsung sangat sengit, hingga beberapa mediapun ikut campurtangan  berebut membela salah satu pihak. Namun kita bisa melihat sendiri setelah salah satunya terpilih menjadi presiden dan menjalankan roda pemerintahan indonesia, caci makian yang mengatas namakan agama dan idiologi, kini tidak berdengung sekeras ketika suasana pemilu kemarin. Mana yang dianggap katanya penting, mana yang katanya di anggap pengkafiran masal, mana yang katanya akan melakukan perang badar, seolah-olah tema kajian tersebut menghilang begitu saja di belantara media masa. Seolah-olah yang tadinya dianggap sangat urgen bahkan wajib untuk dikaji kini menjadi haram dan tak bermutu jika dikaji lagi.

Hal inilah yang seharusnya kita baca dan kita pahami kerangka alurnya, bahwa saat pemilu, agama, idiologi, ras, dan kepercayaan akan dimainkan lagi. Kebenaran di otak atik untuk bagaimana menjadi benar dan berefek menurunkan pamor nama lawannya dimata publik. Kebenaran bisa di plintir menjadi terlihat salah. Kebenaran bisa di arahkan menuju keanarkisan, pembunuhan, dan peperangan sebagaiman kita bisa melihat di negara arab sana yang memainkan kebenaran agama untuk diplintar-plintir menjadi alat pemicu kekacauan kerusuhan dan peparangan antar saudara.

Dan saat ini jika kita mengamati gejolak rakyat terhadap pemilihan Gubenur Jakarta, kita seolah-olah kembalikan kepada pemilihan presiden tahun lalu, agama dimainkan untuk kepentingan kekuasaan. Kebenaran agama di plintir, di tafsirkan secara memihak kepada salah satu calon, serta dijual oleh para kapitalis yang mengambil keuntungan dari situasi ini. Situasi yang sama seperti situasi peperangan antar saudara di negeri Arab. Sudah saatnya bangsa indonesia cerdas dalam membaca, membaca bukan sekedar bagaimana cepatnya anda menghabiskan buku, menonton berita lalu membiarkannya. Membaca adalah mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dilalui dan mengambil pelajaran darinya

Namun jika saya melihat masyarakat yang grudak-gruduk di permainkan oleh isu-isu menjelang pemilihan Gubenur yang sudah jelas tujuannya untuk menjelekkan salah satu calon dan bisa berakibat fatal yaitu perpecahan antar saudara sebangsa dan setanah air, apakah ini menjadi pertanda sendiri bahwa kita memang bangsa yang kurang membaca?

DILEMA NILAI DAN TUJUAN PENDIDIKAN

paying-for-university-56eab4d9959373d8112eb196

Seharusnya fungsi nilai dalam pendidikan haruslah di nomer sekiankan dari pikiran-pikiran penggiatnya. Nilai secara tertulis bukanlah hal yang terpenting karena yang terpenting dalam pendidikan adalah adanya proses belajar dan tujuan dari pendidikan tersebut. Seorang guru atau pendidik harus tahu bahwa ia mempunyai kewajiban moral untuk mencerdaskan murid atau mahasiswanya, bukan hanya menilai dengan angka-angka nilai hasil ujian. Karean sebenarnya angka-angka tersebut bisa di reka dengan mudahnya. Saya rasa karakter adalah hal yang utama yang harus ditanamkan kepada seorang murid atau mahasiswa. Seharusnya inilah yang menjadi fokusan utama. Karena dengan karakter tersebut menurut saya pendidikan sebagai pencerdasan serta sebagai penolong ekonomi dan sebagai problem solving sebagian besar permasalahan di negeri ini. jiakalau orang (pendidik) tulus mengajar demi rakyat, demi perjuangan demi masa depan yang cerah bagi negeri ini saya rasa akan ada harapan cerah untuk negeri ini menjadi negeri yang mandiri dan yang menginspirasi.

Apa guna ijazah. Kalau ijazah bisa dibeli dengan murah. Apa guna nilai jika nilai bisa dicari dengan melakukan hal-hal yang keluar dari prinsip-prinsip proses pembelajaran. Hal-hal tersebut yang malah akan merusak tujuan dari pendidikan. Nilai hanyalah nilai. Nilai kelas tidak akan menentukan apakah ia nanti bisa berani membuat inovasi bisnis baru yang menambah UKM-UKM baru lebih banyak dan mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Nilai juga bukan penentu sesorang apakah ia nanti akan berani dengan lantang berteriak memperjuangkan hak rakyat.

Bung Karno tidak perlu IPK diatas 3 hanya untuk mengibarkan dan menurunkan bendera merah putih di atas gedung Putih Amerika, Bung Karno tak perlu nilai yang muluk tinggi seperti incaran mahasiswa sekarang hanya untuk sekedar bertemu dengan pejabat-pejabat di luar negeri, dan menorehkan jasanya disana hingga sampai namanya di tulis di papan-papan jalan. Bung Karno tak perlu banyak apresiasi dari para dosen dan doktor hanya untuk membangkitkan semangat bangsa melawan penjajahan dikala itu yang terjadi diatas bumi pertiwi ini.

Apa perlu saya contohkan gerak langkah Bung Tomo, dan juga Tan Malaka yang mati di bunuh oleh anak pribumi sendiri, atau Kiai Wahab Hasbullah, atau KH. Yahyay Hasyim yang tak perlu sekolah formal hanya untuk menjadi salah seorang pendiri kampus Perjuangan dan Dr. Angka yang notabene bukan anak Teknik tetapi menjadi pemerkasa berdirinya kampus Teknik di Surabaya. Apa perlu saya jelaskan jalan hidup dan belajar mereka yang pada akhirnya juga akan menyimpulkan bahwa nilai angka tersebut  tidaklah terlalu penting bagi mereka dalam menumbuhkan pribadi yang unggul yang menorehkan karya yang monumental yang saat ini kita bisa menikmatinya. bagi saya nilai adalah nomer kesekian yang terpenting adalah mengetahui proses dan tujuan belajar itu.

Seorang dosen atau pendidik harus mampu bagaimana caranya menjadikan mahasiswa atau muridnya menjadi cerdas dengan tujuan-tujuan yang telah ditentukan. mereka harus fokus pada hal itu, mereka harus inovatif dalam mengajar, mengapresiasi, memberi tugas, dan lain sebagainya. Jiakalau ada mahasiswa atau murid yang masih belum paham, kalau kita berpikir sebagaimana pikirannya Ki Hajar Dewantara pastilah kita tidak akan menyerah untuk menjadikan ia bisa. Kita dekati mereka dan mencari apa masalahnya kenapa ia tidak paham dengan materi yang diajarkan, baik lewat tutur kata yang lunak maupun tutur kata yang keras. Tujuannya sudah pasti mencerdaskan mereka dengan perjuangan yang penuh patriotisme. Tan Malaka saja berani mengorbankan nyawanya untuk memperjungkan kemerdekaan Indonesia dan kemakmuran rakyatnya. Kenapa kita tidak berani mengajar dengan sepenuh hati bahkan kalau perlu mengorbankan waktu maupun uang demi anak bangsa generasi penerus Indonesia ini. Demi Indonesia yang lebih baik dari sekarang.

Sayangnya saat ini nilai masih menjadi primadona bagi sebagian mahasiswa, murid, dan orang tua mereka. Hingga sejak kecil mereka selalu terbiasa dengan ucapan “Sekolah yang bener, cari nilai yang setinggi-tingginya biar pinta, biar bisa masuk dalam perusahaan ini itu, agar kamu nanti hidup makmur terjamin dan enak, biar tidak seperti orang-orang dipinggir jalan itu yang arah hidupnya tidak jelas”. Nilai tersebut juga hanya akan menjadi parameter penentu bagi para perusahaan besar yang notabenenya pemiliknya adalah orang asing atau sebagian pribumi yang berpikiran asing (Kapitalisme) yang hanya melahirkan dan mengekalkan siklus segitiga setan. yang kaya akan semakin kaya, yang miskin akan semakin miskin. Nilai itu akan membantu mereka dalam memilih dan memilah mana orang-orang cerdas yang dapat dikendalikan dengan yang namanya uang. Karena pastinya kabanyakan orang pintar di negeri ini adalah pintar kerena motivasi ingin kaya. jadi cukup di cekoki beberapa ribu dolar saja sudah pasti mau untuk mengeruk kekayaan dibumi tanah air untuk dinikmati para penguasa asing atau pribumi yang berpikiran asing.

Dari sisnilah saya kira kita perlu mendifinisikan ualang apa sih pendidikan itu? untuk siapa kita dididik? untuk apa kita cerdas? apakah cerdas harus kaya dan hidup nikmat? atau sudahlah kita jangan urusin masalah-masalah beginian, yang lalu biarlah berlalu, Bung Karno kini sudah berada dalam kuburan dan bersamaan dengan itu cita-citanya tentang keadialan, kemakmuran dan kesejahteraan negeri ini pun juga ikut terkubur bersama dengan terkuburnya rasa nasionalis kita. Masalah Tan Malaka yang di bunuh oleh pribumi birkan sajalah itu masa lalu, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana saya bisa mendapat IPK bagus hidup enak, jadi dosen ngajar, proyekan, dan sedikit beretorika didepan mahasiswa. Yang macol biar saja macol, yang di pinggir jalan ya biarkan saja di pinggir jalan. Kenapa kita harus susah-susah memikirkan mereka, hidup kita saja kedepannya masih belum jelas, perusahaan mana yang nantinya mau menerima kita dengan gaji puluhan juta.

Tulisan ini hanyalah tulisan dan ocehan seorang mahasiswa yang nilai IPK nya tidak sampai pada titik 3 bahkan bahasa inggrisnya bletotan seperti orang yang baru satu minggu belajar alif ba’ tsa’ disuruh baca Al-Quran. Jadi tak perlu kalianlah kalian serius-serius amat menanggapinya. Kareana saya yakin kalian yang IPK nya di atas 3 mempunyai pemikiran dan solusi yang lebih bagus dan unggul untuk mengatasi problematika di negeri ini. OH YA….., PROBLEMATIKA DI DESA SAYA BANYAK PEMUDA YANG BINGUNG CARI KERJA DAN BANYAK YANG CERAI DI USIA DINI 😀 😀 :D, bagai mana dengan di desamu? :v :v :v