KETAHANAN DAN KEDAULATAN

Pokoknya yang namanya ketahanan itu…

Lawong kita tak mampu berdiri sendiri kok…

Bilang bahwa ketahanan itu ada…

Yang ada rakyat masih mengkonsumsi…
Barang-barang dari luar negeri…
99% sudah pasti…

Mental kita mental bebek…
Suka meniru tanpa berpikir panjang…
Nafsunya mblundus nampak menggunung…
Pemerintahannya masih memikirin perut…

Itu emas kenapa dikelola sama asing…
Itu minyak kenapa dikelola sama asing…
Itu garam mengapa kau bunuh tak berarti…

Bilangnya bernegara yang gagah menuju sentosa…
Tapi masih bertele-tele menegakkan tongkat…
Masih ngikut sana, ngikut sini…

Lebih baik makan ubi dan nasi jagung…
Daripada makan spageti dan humberger…
Tapi tak punya ketahanan dan kedaulatan…

Kita kuat jika kita bekerja, bergotong royong dan berpuasa…
Bukan karena meminta dan memuja kemewahan…

Negara yang kuat ketahanannya…
Adalah negara yang sanggup menghidupi rakyatnya…
Dari sari pati tanah airnya sendiri…

Negara yang kuat kedaulatannya…
Adalah negara yang sanggu mengatur pemerintahannya….
Tanpa campur tangan asing…

Kita kuat jika mau sengsara dan berpuasa…
Kita kuat jika mau bergotong royong dengan tujuan yang sama…

Iklan

DIRI

apakah setelah badan terbujur kaku
masihkah tersembunyi rasa
yang monggolakkan jiwa
untuk bertekat melupa

terbujur kaku
siapa yang mau
wadah yang sudah tak berisi
dan isi yang entah kemana ia pergi

aku
siapa lagi aku
siapa yang menitihkan setiap rasa
siapa yang berperilaku saat bernafas

aku buta
aku linglung
siapa aku
oh siapa gerangan tubuh dan rasa ini

aku hidup
aku mati
atau aku tiada
siapa yang peduli

Pesan Pada Diri

Jika Xuan Zang 14 abad lalu benar-benar mengerti apa makna segelas air (lebih dari emas) ketika ia menyebrangi luasnya gurun Gobi untuk menempuh pengetahuan

Jika Sidarta Gautama 25 abad yang lalu keluar dari zona kenyamanan menempuh hidup yang samsara demi mencari hakikat makna hidup sejati.

Jika konfusius 25 abad yang lalu belajar apa yang namanya kebijakan dan menjadi guru terbijak yang hari ini namanya masih dikenang manusia

Maka benar apa yang bapak katakan. “Sesuatu hal yang terjadi harus kita maknai positif (berhusnudzon) walau hasilnya itu buruk atau baik bagi kita”. Makna terhadap sesuatu menjadi sangat penting

Terimakasih banyak untuk semua pelajaran yang bapak berikan disetiap perkuliahan. Saya akan benar-benar belajar lagi (berevaluasi diri) untuk menjadi lebih baik lagi (khusus dalam hal sikap)

Bapak tetap terbaik bagi saya.