MASIHKAH KAU MENJADI IBU

Apa yang istimewa dari kesetaraan gender memiliki hak yang sama sederajat dengan kaum adam dibandingkan dengan peranmu menjadi figur seorang ibu yang baik bagi putra-putrimu dikemudian hari.

Apa yang istimewa menjadi seorang pemimpin dibandingkan dengan peranmu menjadi seorang ibu yang baik bagi putra-putrimu yang kelak nanti akan memangku bangsa dengan kejujuran dan uswah yang baik yang engkau ajarkan kepada mereka

Apa yang istimewa menjadi pemuka agama dibandingkan dengan peranmu menjadi seorang ibu yang baik bagi putra-putrimu yang di bawah telapak kakimu terdapat kemulian yang lebih mulia dibandingkan dengan ayat-ayat yang disampaikan oleh ustadz-ustadz pemuka agama.

Apa yang istimewa menjadi sarjana serta bergaji berjuta-juta dibandingkan dengan peranmu menjadi seorang ibu yang baik bagi putra-putrimu yang kelak  akan menjadi pemimpin yang beramanah serta bebas dari perilaku korupsi kolusi dan nepotisme berkat didikan dan kasih sayangmu yang amat mendalam bagi mereka.

Apa yang istimewa menjadi seorang ayah dibandingkan dengan peranmu menjadi seorang ibu yang namamu oleh Tuhan disebut tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan peran seorang ayah yang hanya disebut satu kali dibawah nama ibu.

Wahai wanita modern, masihkah kau tak sadar dengan peranmu yang amat agung dan mulia itu. Masihkah kau tersilaukan oleh uang, jabatan, nama, kepemimpinan, kesetaraan, dan hawa nafsumu dibandingkan dengan peranmu menjadi seorang IBU.

Iklan

WANITA KARIR

Wanita karir, ya wanita kini banyak yang mengidam idamkan menjadi seseorang yang mandiri dalam finansial. Kalau bisa menjadi wanita yang bekerja di perusahaan besar yang menghasilkan gaji yang besar pula.

Wanita kini lebih suka bersekolah tinggi-tinggi guna menjadi orang yang ternama dipandang oleh banyak orang. Atau menjadi pekerja untuk mendapatkan uang yang banyak pula. Kalau ditanya setelah lulus mau kemana, kebanyakan akan menjawab kerja dulu.

Lalu bagaimana dengan peran wanita sebagai ibu. Apakah ada kini masih ada wanita yang kepikiran menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Jika sang ayah bekerja dan sang ibu bekerja pula lantas siapa yang akan mendidik mereka. Padahal mereka adalah pemangku bangsa dikemudian hari.

Wanita apakah benar kini engkau mulai kehilangan ke ibuanmu, peran sebagai guru yang pertama yang mengajarkan nilai kebaikan kepada seorang anak

KATA 100

Bagaimana saya bisa membenci orang yang didalam hatinya tidak ada rasa untuk membenci saya. Malah yang ada adalah rasa kasih dan sayang yang amat mendalam dan murni tanpa ada pamrih sama sekali

ISLAM DAN KEMANUSIAAN

Islam kiyamat

Islam adalah ajaran agama yang selaras dengan kemanusiaan. Islam adalah bukan merupakan agama yang mengajarkan kebencian terhadap sesama umat manusia. Islam adalah agama yang mengajarkan kepada manusia bagaimana cara hidup yang baik yang mengantarkan para pemeluknya menjadi insan yang ramah, insan yang berbudi luhur, insan yang rahmatan lil alamin.

Sudah seharusnya para pemeluk islam adalah orang-orang yang berlomba-lomba dalam mengejar kebaikan di muka bumi ini. menyebarkan aroma wewangian dengan khasnya yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosulullah saw. maka saya kira ketika ada suatu dalil didalam Al-Quran maupun Al-Hadist yang diajarkan untuk mempropaganda para jamaah guna membenci sekelumit kelompok atau manusia itu adalah bukan merupakan suatu ajaran yang pernah dicontohkan oleh Rosulullah. Rosullullah tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk membenci sesama, membenci setiap manusia yang berbeda agama, idiologi, maupun jenis ras manusia. Rosulullah mengajarkan kepada kita bagaimana besarnya rasa kasih sayang beliau kepada mahluk ciptaan Allah.

Bahkan dimata musuhnya atau orang-orang yang membenci beliau. Rosulullulah tetap bersikap ramah, penyayang dan selalu mendoa agar mereka diampuni dosanya dan diberi hidayah untuk dapat masuk agama islam.

Ada sebuah kisah yang menggambarkan sikap mulia dan cintanya Rosulullah terhadap manusia tanpa melihat darimana ia berasal, ia islam atau bukan, ia musuh atau kawan. kisah itu tentang pengemis buta yahudi yang setiap pagi Rosulullah mengantarkan roti dan menyuapkannya kepadanya. “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya” kata pengemis buta itu kepada orang-orang disekitarnya. Namun walau begitu Rosulullah tetap memberi makan setiap paginya serta menyuapinya tanpa mengatakan sepatah katapun walau pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah saw. melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau wafat. Setelah kewafatan  Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah  kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja”.

“Apakah Itu?”, tanya Abu Bakar r.a.

Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya.

Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abu Bakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi.

Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

Begitulah salah satu cerminan akhlakul karimah Rosulullah. Sifat kemanusiaan beliau sungguh patut kita teladhani. keikhlasan beliau telah menyentuh hati pengemis buta yahudi tersebut hingga mengantarkannya masuk ke gerbang pintu agama islam. Tanpa memerlukan pedang dan ekspansi wilayah serta kekuasaan untuk mengajarkan agama islam. saat ini dakwah dengan menunjukan bahwa agama islam adalah agama yang sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan inilah kiranya yang kita butuhkan. bukan dakwah dengan cara mengangkat pedang, menghina golongan lain yang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, dan membenci orang-orang kafir, hingga kita tak mampu membedakan mana kebaikan dan mana kebencian. Menyuarakan bahwa islam adalah agama kebenaran, agama yang cinta damai, agama anti teror, agama kemanusiaan, agama yang para pemeluknya adalah orang-orang yang berlomba-lomba untuk memberi manfaat sebesar-besarnya kepada manusia di bumi ini.  jika suara-suara kebaikan para pemeluk islam ini ini di dengar seluruh dunia maka pastinya akan semakin banyak orang yang tertarik untuk mempelajari islam.

Kisah untuk tidak menggunakan amarah dan kebencian ini dalam memutuskan sesuatu juga dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khathab tatkala beliau bertemu dengan seorang pemuda yang sedang mabuk minuman keras. Khalifah yang dikenal sangat tegas ini spontan hendak menangkap pemuda itu dan menjatuhi hukuman sesuai yang berlaku. Tiba-tiba, sang pemuda ini memperolok Umar begitu rupa. Hal inilah yang menjadikan Umar surut ke belakang. Ia mengurungkan niatnya menangkap dan melepaskannya begitu saja. Seorang sahabat heran, “wahai Amirul Mukminin, mengapa pemuda itu engkau lepaskan begitu saja ketika memperolokmu?” “Aku takut jika hukuman yang akan aku jalankan nanti terpengaruh oleh kemarahanku. Hal ini yang akan menyebabkan penyelewengan dar atauran yang telah digariskan Allah. Tegasnya, aku tidak mengehendaki jika suatu hukuman terpengaruh dengan emosi atau bercampur dengan kepentingan pribadi,” begitulah kata Beliau.

Dua contoh diatas kiranya sudah mencerminkan bahwa islam bukanlah ajaran yang didasarkan pada amarah dan kebencian. Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang kepada sesama islam mengajarkan kita bagaimana menjadi insan yang berakhlakul karimah, seperti akhlak Rosulullah. Jika ada ajaran islam yang menghalalkan segala cara guna menempuh kepentingan yang diletakkan diatas kebenarannya sendiri. Maka ajaran itu perlu kita waspadai. karena saat ini banyak sekali aliran-aliran islam yang mengajarkan kita bukan untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Islam yang menjunjung tinggi kemanusian. Akhir kata dari penulis semoga artikel ini bisa berguna bagi para pembaca, minimal kita mampu untuk berinstropeksi diri dan merasa kurang untuk belajar agama islam secara menyeluruh hingga sampai mencapai manusia yang seutuhnya, manusia yang mencintai manusia seutuhnya seperti apa yang dicontohkan oleh Rosulullah. Karena hakikatnya padi semakin berisi semakin merunduk.