TENTANG MEMBACA

15043765415538902e454a9

Saat saya berjalan dengan teman-teman di tengah-tengah kerumuan penjual buku, ada pertanyaan yang di tujukan kepada saya. “Mau cari buku apa mas?”. Pertanyaan dari teman saya itu tidak sekaligus saya langsung jawab. Saya diam sebentar kemudian baru saya jawab “entahlah, saya kesini hanya ingin melihat-lihat buku, kalau ada yang menarik ya saya akan membelinya”.

Banyak sekali tumpukan buku di tempat itu, dari mulai novel sampai mata pelajaran SMA maupun buku-buku perkuliahan. Saat itu saya tidak tertarik dengan bacaan seperti itu. Ada beberapa buku yang memang saya tertarik untuk memilikinya, tetapi di dalam ponsel saya masih banyak ebook bergender seperti itu. Jadi saya urunkan untuk membeli buku itu. Toh pasti harganya mahal, karena buku tersebut masih nge-hot bagi para pembaca.

Hingga sampailah pada kedai buku yang dahulu saya sempat menandai bahwa di kedai ini banyak buku-buku lama terbitan 1945 ke bawah, buku-buku tentang Indonesia yang di tulis sebelum indonesia merdeka. Sudah saya duga bahwa buku tersebut amat mahal harganya, teman saya coba bertanya mengenai harganya dan penjualnya bilang “buku itu harganya 200rb mas”. Buku-buku itulah yang sebenarnya ingin saya miliki tetapi karena harganya mahal saya urunkan membelinya.

Beberapa novel mungkin asyik untuk di baca, tetapi karena di kamar masih ada novel yang saya baca, saya tidak berani mengambilnya. Ada satu hal yang membuatku tertarik pada saat itu yang membuat teman-temanku tertawa mengetahui jiakalau saya sedang mencari buku seperti itu. Ya buku yang saya cari adalah buku-buku tulisan lama. Katanya “lo mas buat apa mencari buku-buku lama, cari aja buku-buku yang baru, toh buku baru juga refensinya juga dari buku-buku lama”.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh teman saya tersebut, tetapi bagi saya tidak ada buku yang lama atau kadar luarsa, buku akan selalu terlihat baru. Karena manusia pada dasarnya mempunyai cara berpikir yang baru sesuai dengan zamannya. Orang yang lahir pada zaman penjajahan mungkin akan berbeda dengan cara memahami orang-orang yang hidup di zaman sekarang yaitu zaman kebebasan (demokkrasi) terkait dengan buku-buku kekirian. Ketika penjajahan mungkin akan banyak orang yeang terpengaruh dengan buku tersebut dan mengikuti akiran tersebut, tetapi mungkin beda lagi dengan zaman sekarang, mungkin buku tersebut akan menjadi wawasan tersendiri yang menambah khazanah berpikir dan menjadi orang yang berpikir dengan bijak. Mungkin beda lagi kalau yang membacanya adalah manusia yang hidup di abad ke 22 ke atas. Makna dari setiap tulisan lama akan menjadi hal yang baru bagi mereka di karenakan mereka mempunyai sudut pandang tersendiri dan berbeda dengan sudut pandang yang kita pakai saat ini.

Maka dari itu dalam hati saya tidak ada buku yang lama atau kadar luarsa, semua buku adalah baru, karena buku adalah sebuah wadah yang menaungi setiap pemikiran penulis, dan seorang penulis mempunyai masa dan tempat yang berbeda-beda yang membuatnya tidak akan sama dengan penulis penulis yang hidup di beda zaman.

Berbicar soal buku bereti berbicara soal membaca. Membaca adalah aktivitas yang menarik, semakin banyak orang yang membaca, maka wawasannya akan tambah luas. Tidak hanya hal itu, selama ini saya membaca ada sesuatu hal yang berubah dari pikiran saya. Membaca itu serasa menggariskan pola pikir yang terstruktur, yang akan berbeda pola pikirnya orang yang jarang membaca. Membaca merangsang kita untuk melakukan seperti apa yang di tuliskan dalam kata-kata. Membaca membuat kita bergairah lagi untuk menjalani hidup, membaca membuat kita menjadi orang yang bahagia walau hidup sederhana karena membaca dapat menjadikan kita menemukan hal yang terpenting dalam hidup. Tidak lagi kebanyakan orang yang tidak suka membaca, mereka kebanyakan terpincut oleh teknologi, kekuasaan dan uang, yang membuat hidup mereka menjadi berloba-lomba untuk menjadi manusia yang rakus.

Kita lihat tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Hatta, Tanmalaka, dan tokoh besar lainnya. Mereka tumbuh besar dengan membaca. Bacaannya yang sangat banyak membuat mereka menjadi orang besar, orang yang peduli akan nasib bangsa. Orang yang melakukan perubahan akan nasib bangsa menjadi bangsa yang merdeka. Di salah satu buku di tuliskan bahwa hatta rela di penjara asalkan ia bersama buku. Ini membuktikan bahwa tokoh tokoh besar seperti mereka sangat cinta dengan membaca, mungkin bagi mereka membaca adalah semacam kecanduan seperti kecanduan orang yang merokok yang apabila sehari tidak meroko ia merasa pusing dan loyo.

Pentingnya membaca ini juga di sampaikan oleh dosen saya ketika ia mengajar pertama kali, hal yang ia tanyakan kepada mahasiswanya adalah siapa disini mahasiswa yang gemar membaca, tidak hanya buku bacaan kuliah, tetapi yang lainnya. Apapun bacaannya. Kata beliau orang-orang di negara maju itu sangat senang dengan membaca. Jika kalian ingin menyamai mereka maka sejak saat ini mulailah menyuaki membaca apapun bacaannya. Walau itu tidak berhubugan dangan mata kulaih yang kalian dalami. Membaca membuat kita bisa lebih banyak berbicara, dan membuat berbicara kita lebih bisa beruntu. Orang yang membaca adalah orang yang kaya akan bahasa-bahasa baru.

Begitulah pentingnya membaca, kalau bagi saya apapun bukunya, baik lama atau baru sama saja, mereka mempunya daya magis yang berbeda beda yang membuat kita bisa menjadi berpikir lebih bijak lagi

Iklan

MENULIS PUISI

Tulislah segala warna
Tulislah segala rupa
Tulislah segala rasa

Dalam bait bait abadi
Kata kata yang tersusun rapi
Dalam bingkai sastra dan puisi

Aku berpuisi untuk menulis rasa
Mencatat dan mengabadikan kenangan
Di setiap kejadian hidup yang berlalu

Di bawah bulan
Kala sore menjemput malam
Dan birunya langit mengundang bintang

Sejuknya senja di sore hari
Itulah kenangan yang harus di tulis
Dalam bingkai sastra dan puisi

TAMAN KOTA

Di taman kota
Aku melihat banyak orang tersenyum dan tertawa
Aku melihat banya pasangan yang asyik bercengkrama berdua
Aku melihat ada kesegaran pikir yang masuk kedalam jiwa

Ia bak suasana baru yang harus di cari
Melepas penat yang selama ini mengikat
Membuang segala resah yang menggundah
Menyirnakan pekatnya pikir yang menutupi cerah

Di taman kota
Aku sendiri
Melihat dan menulis

ORANG PEMBAWA KORAN

antarafoto-pengumumansnmptn170710-4

Hari ini saya melihat seorang dengan kaki yang tak normal berjalan dengan membawa koran. Ia berjalan di antara mobil-mobil kota pada sore hari. Adakah yang salah?.

Terlihat tidak ada masalah bagi orang-orang sekitar. Terlihat normal mungkin. Tetapi bagi saya ada sesuatu yang salah dan kesalahan itu ada di pikiran saya. Beliau yang serba ketidak mampuan seperti itu berani melakukan kerja yang terlihat sangat remeh yang mungkin tidak banyak uang yang ia dapatkan. Tetapi ia melakukannya tanpa ada rasa malu, ia melakukannya tanpa ada rasa mengeluh dan ragu. Ia tidak meminta-minta, tidak berkata Allah tidak adil dengan menciptakannya seperti itu.

Bagi saya itu merupakan sebuah pelajaran atau mungkin sebuah pukulan bagi para mahasiswa seperti saya. Bisanya hanya minta uang dari orang tua, atau dari beasiswa. Tidak beranai untuk belajar mencari uang sendiri, belajar untuk dewasa mandiri secara financial. Mungkin ada sesuatu hal yang membuat saya malu dengan status mahasiswa. Mereka sangat pandai membuat tulisan-tulisan ilmiah yang mereka ikutkan dalam lomba-lomba yang di adakan oleh institusi atau negara. Ya hanya mancari rupiah yang banyak dengan cara seperti itu. Entah itu salah atau tidak, dilihat dari kaca mata seseorang yang sedang menjual koran di atas. Saya merasa ada sesuatu hal yang real yang harus di lakukan oleh mahasiswa, ia harus terjun kelapangan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat di sekitar lingkungannya di sela-sela kengangguran jam kuliah. Mereka harus mencoba melihat dunia nyata bahwa banyak orang yang tidak seberuntung mereka dapat mengenyam pendidikan secara mudah dengan uang negara. Mereka mungkin harus menjadi pelopor seseorang yang mandiri secara financial yang akan membangkitkan semangat kawan-kawan pinggiran bahwa orang kuliah itu bisa dilakukan oleh siapapun dan orang kuliah itu adalah orang yang sangat berguna bagi lingkungannya.

Terlepas dari itu semua, tulisan yang hanya berisi clotehan saya ini adalah tulisan yang mencoba mengkritik pola hidup saya. Pola pikir saya dan pola ibadah saya. Yang saya kira saat ini bisa di bilang sangat jauh dari baik.

PERLUNYA MENELADANI HIDUP SEORANG KYAI ATAU ULAMA

pesantren_tempo_dulu

Hidup yang tentram atau membahagiakan itu adalah hidup yang mengikuti seorang ulama atau kiyai, menteladani bagaimana kyai menjalani hidupnya yang dimulai saat jam tiga malam bangun  sholat malam dan dzikiran sampai menjelang subuh datang. Dan di teruskan dengan sembayang sholat subuh berjamaah. Sholatnya seorang kyai tak pernah absen selalu banyak sholat berjamaah, serta ditambahi dengan sholat sunnah yang lainnya. Setiap hari ngajar santrinya dengan bacaan kitab kuning dan selalu mendoakan yang terbaik untuk santrinya. Hidupnya hanya di dedikasikan hanya untuk mencari ridho Allah, berbuat kebaikan itu karena Allah, menolong seseorang pun juga karena Allah. Di hatinya hanya penuh nama Allah. Yang di takuti hanya Allah, yang membuat berani juga Allah. Hidup hanya untuk Allah dan matipun untuk Allah, bukan untuk santrinya, bukan untuk kebaikannya, bukan untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan apalagi untuk mencari kekayaan.

Ulama’ atau kyai adalah row material manusia yang ideal yang saat ini bisa kita kadikan idola dan panutan. Wawasannya yang luas tentang agama dan pendedikasian hidupnya hanya untuk Allah menjadi suatu point yang harus kita tiru. Bolehlah kita menjadi apapun yang kita mau, pemain sepak bola, musisi, penulis,engginering, politikus, aktivis peduli lingkungan dan banyak lainnya, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa profesi itu semua harus kita niatkan untuk Allah. Karena Allahlah tujuan kita.

Kita tidak perlu menjadi seorang kyai atau ulama’. Yang kita perlukan adalah menteladani hidupnya atau mendekatkan diri kepadanya untuk di tuntun ke arah hidup yang tentram dan baik. Karena di duniai ini peran apapun yang di jalankan oleh manusia akan mengisi setiap kekosongan yang ada. Kita perlu penjual, kita perlu jasa petani, kita perlu jasa seorang guru, kita perlu presiden, kita perlu ahli listrik, dan sebagainya. Mereka tidak mungkin bisa menjadi kyai. Maka dari itu perlunya kita menteladani hidup seorang kyai adalah untuk menyaring sikap dan hati yang tulus untuk beribadah kepada Allah, meniru amalan amalan yang kyai ajarkan, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan kyai. Dan manut serta ta’dhim kepada seorang kyai adalah suatu yang kita butuhkan.

Keruwetan di dunia ini disebabkan oleh tingkahlaku manusia yang menjauh dari tingkahlaku Kyai. Banyak sekarang manusia yang mengidolakan tokoh aktris yang kaya, hingga itu memberikan gambaran hidup bagi penggemarnya untuk menjadi seorang bintang aktris yang ia idolakan. Padahal aktris itu kebanyakan adalah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kepopuleran dan kekayaan. Sedangkan kepopuleran dan kekayaan tidak memberikan ketenangan hidup. Karena adanya sifat memiliki kepada benda yang tidak abadi maka hati manusi akan ketakutan jikalau mereka merasa kehilangan benda tersebut. Padahal benda tersebut akan menghilang dan hancur. Hanya Allahlah yang abadi selain Allah tidaklah abadi, maka seharusnya kita hanya menggantungkan diri kepada Allah tidak kepada selain Allah, dan sebagai tuntunan yang baik untuk mengarahkan hidup kita menjadi hidup hanya karena Allah adalah dengan dekat dengan para kyai dan menteladani setiap langkah hidupnya,

Saya kira menjadi apapun boleh asalkan kita tetap dekat dengan para kyai. Hidup dalam naungan kyai dan mendedikasikan kemampuan dan harta kita untuk kyai agar bisa di arahkan menuju hidup yang tentram yaitu hidup yang hanya di dedikasikan untuk Allah semata.