YANG DIAM DIAM MENCINTAI

Yang diam diam berdetak berirama
Yang diam diam mengalir tanpa henti
Yang diam diam menjaga dari segala bakteri

Siapapun yang ingin belajar Mencintai
Belajarlah dari
Yang diam diam meperhatikan diri

Iklan

Delusi

“Apakah itu benar-benar aku?”

Seraya tidak percaya sambil melihat kembali foto wajahnya

“Siapa Aku?”

“Siapa orang ini?”

Wajah itu, nampak kebingungan, tak mengenal dirinya lagi, entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu. Setelah terbangun dari tidur lamanya di ruang berukuran 3×4. Pandangan yang kosong menerawang keluar jendela. Melihat keadaan diluar ruangan tersebut.

“Nak kamu tidak mengingat apapun?”

“Siapa kau?”

Tanya pemuda itu

“Aku ibumu nak, apa kau sudah tak mengenalku lagi?”

“Ibu…. !”

Yang terbayang hanyalah putih. Tanpa ada seberset hitam yang mengisi ruang itu. Tatkala ia bangun dari sanubari. Entah dimana ini berada. Ruang yang baru, menghapus segala ruang yang pernah dilalui. Putih begitulah nampak pada benaknya.

Dilorong yang begitu jauh. Menuju dunia tanpa batas. Hanya hilangnya diri dari dunia yang sebelumnya ia terjemahkan dengan memori akal. Di ujung lorong itu hanya safan putih kelabu dan kesadaran siapa dan apa yang menghilang. Konon ruang itu adalah batas antara kehidupan dan kematian.

“Kau tak mengenal ibu nak?”

“Kau habis jatuh dari motor dan kepalamu terbentur batu di pinggir jalan”

“kau mengalami koma nak, sudah 3 hari tidak bangun dari tidur mu”

Kata ibu tersebut kepada anaknya.

“Entahlah”

Jawabnya kosong tanpa arti.

Ibu Yang Menanam

Wajahnya memang tak secantik dulu, yang tinggal hanyalah pandangan rapuh yang telah dimakan penderitaan dan kesengsaraan hidup, kegetiran nasib, juga mereka yang senantiasa menggelayuti mata batinnya.

Menempuh hidup sendiri dengan 5 buah hati. Setelah sang suami pergi untuk berbakti kepada bangsanya. Mbok rofiaah masih berdiri dengan kuat, tetap setia kepada suaminya, berjanji menjaga anak-anaknya, menuju gerbang kesuksesan.

“yang penting terus berusaha dan berdoa kepada Allah, Insyaallah nanti akan diberi kemudahan”

Kata yang selalu mbok rifiah sampaikan kepada anak-anaknya.

“Ngger hidup itu hanya sekali, dan manfaatkanlah hidupmu sebaikmungkin untuk beribadah kepada Allah, dan berbuat baik kepada sesama”

Begitu wanti-wanti mbok rofiah untuk mendidik anaknya sesuai dengan pesan suaminya sebelum meninggalkan rumah dan tak pernah kembali pulang.

“Buk didiklah anak-anak kita nanti, menjadi anak-anak yang mendedikasikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik untuk sesama. Jika bapak tidak pulang, relakanlah, karena bapak menempuh jalan hidup yang benar, bersabarlah buk”. Pesan suami mbok rofiah