KUNJUNGAN DARI TEMAN-TEMAN JMMI ITS

Pada tanggal 29 April 2015 pukul 19.45 wib, yaitu tepatnya tadi malam kami di rumah sahabat kedatangan tamu dari teman-teman pengurus JMMI ITS. Mereka datang berbondong bondong bersama, yang terdiri dari para ikhwan maupun akhwat, kurang lebih berjumlah15 orang.

Dengan tujuan silaturrahim dan urun rembuk serta mengkrabkan diri kepada sahabat/i komisariat PMII Sepulu Nopember mereka berkunjung.

Acara kunjungan ini bersifat semi formal, dengan pembukaan acara dilakukan oleh sahabat syafi’i yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat kursi oleh sahabat iklil.

Setelah pembacaan ayat kursi acara berikutnya adalah urun rembuk diskusi mengenai dakwah yang ada di kampus, dengan problematika saat ini masih banyak mahasiswa yang tidak menjadikan masjid tempat berhimpun, padahal masjid adalah basis utama pergerakan islam sejak zaman Rosulullah.

Sebelum di mulai acara intunya Sahabat Imam Rahmat Selaku Ketua Komisariat PMII Sepuluh Nopember memberikan gambaran tentang Siapa itu PMII. “PMII merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa yang berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang mempunyai pergerakan Rahmatallil alamin serta pembelaan kaum mustadzafin (kaum yang terlemahkan)”.

Diskusi berlanjut dan melebar kearah perbedaan idiologi, bahwa di kampus ITS banyak sekali keragaman idiologi yang di bawa oleh para mahasiswa yang berasal dari daerahnya masing masing. Salah satu sahabat berkata “Masjid Manarul Ilmi itu milik bersama, seharusnya yak apa carane ndak boleh jika hanya di dominasi oleh satu golongan saja, Masjid harus bersifat Rahmatalil alamin”.

Setelah beberapa kali lempar sharing antar sahabat dan ikhwan kami menemukan sebuah titik poin, bahwa kita memang sudah saatnya gawe bareng berpikir kedepan bagaiman cara dakwah di kampus kususnya di Masjid Manarul Ilmi bisa lebih banyak peminatnya. Kami menawarkan sebuah solusi konkrit untuk waktu dekat ini yaitu mengadakan acara doa bareng menyambut UAS Semester genap di Masjid Manarul Ilmi pada tanggal 14 mei tepat hari libur, dengan serangkaian acara seharian penuh yang nanti akan di bahas lebih lanjut untuk masalah teknisnya.

Diskusi selesai pada pukul 20.50 wib. menandakan selesainya acara kunjungan JMMI ke Komisariat PMII Sepuluh Nopember. Acara ditutup dengan doa dipimpin oleh sahabat Hayyi yang kemudian di teruskan pemberian cindramata dan foto bareng.

wpid-img-20150429-wa0016

wpid-img-20150429-wa0015

Iklan

MUSHOLA DAN TRADISI PEMBELAJARAN

Pagi ini hati saya kembali tergugah, bahwa pentingnya membiasakan budaya tradisi menulis yang kini banyak orang mengabaikannya, kesukaan membaca buku-buku dari mulai novel, cerpen, puisi, biografi tokoh, sejarah, budaya, idiologi membuat saya menyadari bahwa selain membaca orang perlu menulis tentang gagasan-gasan yang sepintas masuk ketika mengerjakan sebuah aktifitas, belajar dari pengalaman, ide yang baru yang muncul ketiaka membaca, ataupun ilham yang seketiaka itu menghampiri perlu kita amankan melalui sebuah tulisan agar bisa diabadikan dan bisa dipelajari lagi di kemudian hari. Tulisan itu suatu saat akan sangat berguna bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Terkadang saat menulis kita terkendala oleh perasaan -perasaan bahwa tulisan kita jelek, susunannya amburadul dan tidak enak dibaca karena tidak sistematis, karena kita merasa bukan seorang penulis yang baik. Kesadar bahwa bukan baik buruk kata yang tersusun dari sebuah tulisan maupun keamburadulan serta ketidak enakan untuk dibaca bukanlah suatu hal sangat penting dari proses menulis, tetapi isi dari tulisan yang menggambarkan suasana hati sang penulis yang menggambarkan kondisi sosial lingkungan pada saat itu yang dikemudian hari pasti akan sangat berguna dan berharga. Mungkin untuk sepuluh, dua puluh, lima puluh, seratus, seribu, atau lima ribu tahun kedepan tulisan itu akan menjadi sangat berharga lebih berharga daripada emas.

Bermula dari rasa keingintahuan sebuah sejarah saya mencoba mencari manuskrib-manuskrib lama yang bisa menggambarkan keadaan sosial budaya di masa lalu. Dari situ saya menemukan sedikit semangat untuk menumbuhkan tekat untuk aktif menulis tentang apapun yang bisa di tulis.

Pagi ini saya teringat tradisi yang dilakukan oleh masyarakat desa saya, sore itu tergambar jelas di ingatan saya suara adzan yang menggema, menggambarkan ke khasan tersendiri di daerah pedesaan yang amat sederhana. Saya waktu itu masih sangat kecil, disuruh orang tua untuk berangkat ke mushola terdekat untuk sholat berjamaah.

Mushola waktu itu bukanlah tempat yang hanya digunakan untuk bersembahyang lima waktu saja, mushola pada waktu itu merupakan tempat untuk melakukan proses transfer ilmu bagi anak-anak yang tinggal di sekitarnya. Metode dan sarana fasilitas pentransferan ilmu yang dilakukan sangatlah sederhana, tidak semoderen pada saat ini dimana setiap kelas harus ada AC, LCD proyektor, bangku, laptop, dan buku-buku tebal. Namun dengan metode dan fasilitas sederhana pendidikan waktu itu bisa tersampaikan dengan sangat baik. Ya hanya ada murid dan guru yang ikhlas pada waktu itu saya melihatnya.

Transfer ilmu dengan ketulusan dan keikhlasan itulah saya kira saat ini kurang dilakukan oleh seorang pengajar. Uang telah membuming menjadikan para pengajar tergiyur dan lupa pada niatan awal yang mulia, yaitu niatan untuk menyebarkan ilmu senagai kewajiban dalam ibadah mendekatkan diri kepada Allah.

Ba’da magrib biasanya dimulai kegiatan belajar mengajarnya, bukan ilmu eksat atau ilmu umum yang kini sangat trend diajarkan di sekolah-sekolah umum, namun ilmu sederhana dan mulia, yaitu ilmu belajar ngaji yang benar. Anak-anak kecil didesa saya yang sering sholat berjamaah di mushola memang diwajibkan untuk belajar ngaji secara istiqomah dengan pengajarnya adalah pemuda-pemuda di sekitar mushola tersebut yang telah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

Pada hari tertentu setiap minggunya ada metode belajaran yang namanya “fasholatan” , anak anak kecil dididik untuk bisa melakukan sholat dengan benar dengan langsung mempraktekannya. fasholatan ini di ajarkan secara terus menerus setiap minggunya. Pertama anak-anak di suruh memperagakan dan melafalkan bacaan sholat, sholat yang biasanya dipakai adalah sholat subuh, sholat yang disunnah muakadkan untuk membaca doa qunut pada rokaat keduanya.

SOWAN KEDIAMAN SALAH SATU SAHABAT MAIYAH

Sudah lama saya ingin menulis catatan ini, pengalaman pada malam itu sangat berharga dan penuh nilai hidup patut untuk dijadikan sebagai salah satu pegangan hidup. Karena saya takut melupakan pesan dan kesan disampaikan oleh Mas Alik dan keluarganya tersebut hari ini mencoba saya tulis seingat saya.

Berangkat bersama Mas Fajar dari surabaya pukul 19.30 wib. disertai dengan mendung menandakan nanti akan terjadi hujan deras. Motor yamaha merah itu saya kendari dengan kencang dengan bersamaan membonceng mas fajar. “Kok suwimen tekomo, iki koncone awak dewe wes ngenteni neng daerah krian” kata mas fajar pada malam itu, ya saya memang terlambat 1.5 jam dari pertemuan yang sudah di janjikan, karena memang sebelumnya saya ada acara Tecnical Meeting membahas MTQ di Masjid Manarul ilmi dari mulai jam 4 sore sampai menjelang magrib, kemudian diteruskan dengan agenda dadakan instruksi dari mas Imam sebagai Pak Koms menyuruh saya untuk mengembalikan LCD milik ISNU, sebagai anggota saya merasa harus menuruti perintah Pak Koms. Sebab itulah mengapa saya terlambat sampai 1.5 jam.

“Mas sepurane mau jek onok tugas e”. Kata saya menyambut pertanyaan mas fajar.

Sukodono dekat dengan pasar dan kantor polisi adalah tempat tujuan kami, tempat rumah mas Alik dan keluarganya tinggal. Di sambut dengan sangat ramah di rumah beliau, dengan pengantar pembicaraan basa basi. “Ini siapa namanya?”, “lagi kuliah opo wes kerjo?”. “Omah e neng endi?” Dan sebagainya.

Maksut utama dari sowan kami ke mas Alik sebenarnya adalah untuk mencari informasi tentang Film dan Foto pengarsipan ngaji Cak Nun pada forum Bambang Wetan, Padhang Mbulan dan forum-forum lainnya disekitar wilayah Jawa Timur. Apakah sudah tertata rapi atau belum dan sejak kapan pengambilan gambar itu dimulai. Dan mungkin ada suatu hal bisa kami bantu sebagai divisi pengarsipan.

“Cak Nun itu sebenarnya bukan orang besar, namun di sekeliling beliau itu orang-orang besar, dari situlah Cak Nun terlihat besar”, ” Saya suka dengan Cak Nun, dan saya menganggap cak nun itu guru sejati saya. Cak Nun itu beda dengan lainnya, Cak Nun mempunyai methode pengajaran Islam Dinamis tidak statis, Ilmunya itu beragam dan selalu mengikuti perkembangan zaman dan sangat pas untuk kalangan-kalangan masyarakat yang berbeda beda”. Begitulah obrolan yang bisa saya tangkap dari istri Mas Alik. Saya menjadi kagum dengan proses belajarnya Cak Nun, belajar dari lingkungan kehidupan nyata, belajar dan langsung mengamalkannya di masyarakat, ya dalam hati saya memang Cak Nun adalah orang besar, perlu kiranya saya belajar dari Cak Nub dan orang-orang disekeliling beliau. Itulah sebenarnya mengapa saya ingin masuk pada setruktur kepengurusan BBW, agar bisa mengenal lebih dekat, siapa itu Mas Alik, Mas Dudung, Mas Amin dan orang-orang besar lainnya.

Ngobrol kami berlanjut hingga larut malam, ditemani dengan hujan lebat yang menghampiri rumah Mas Alik. Mas Alik adalah seorang pengambil gambar atau film, belia bekerja sebagai seorang pengambil gambar dan editing untuk acara Manten, beluau juga mempunyai koneksi denga Dhoho TV Kediri, TV 9, dan TV lokal lainnya. Banyak siswa siswai SMK maupun Mahasiswa melakukan magang di rumah beliau.

“Saya sangat senang lo atas kerawuhan mas fajar dan teman teman lainnya ini, punya niatan untuk membantu saya untuk mengabadikan film acara Maiyahan, jujur sebenarnya sangat lelah jika acara Padhang Mbulan dan Bangbang Wetan ini saya ambil gambarnya sendirian. Dua hari tidur habis subuhkan tau sendiri gimana rasanya, monggo bagi temen-temen baru ini yang kepengen bantu saya, saya sangat senang. Lek belum bisa mengoprasikan kamera ayo seminggu saya ajari disini. Insyaallah nanti bisa. Mudah kok belajarnya”. Kata mas Alik ditengah tengah obrolan kita. Memang mas Alik sangat terlihat antusias dan senang akan kedatangan kami. Ya sebagai generasi muda penerus perjuangan dan penuntut ilmu untuk di amalkan.

Tawaran Mas Alik untuk belajar mengoprasikan kamera tersebut membuat saya tertarik, itung itung untuk membantu mas alik ketika acara Maiyahan.

Malam itu kami diizinkan masuk ruang editing gambar film Mas Alik, ruangannya sederhana dengan ukuran 5×6 meter. Mas Alik menunjukan banyak hasil ambil gambarnya. Di situ kami di tunjukan potongan gambar film dari salah satu sahabat maiyah yang mempunyai keahlian mrnemukan situs-situs kuno. Di daerah krian ada sebuah desa yang jarang orang pergi kesitu, banyak sekali di tempat itu fosil fosil purba yang berserakan, tulang-tulang yang membatu, tumpukan kerang laut yang menjadi fosil.

Dalam salah satu vidio dijelaskan bahwa Candi yang nampak saat ini itu merupakan candi biasa, sebenarnya candi luar biasa adalah candi candi yang sengaja untuk dihilangkan (dipendam dalam tanah). Di tunjukan pula sebuah vidio tentang pohon berasal dari daerah pesisir pantai ditanam di derah mojokerto, di situ memang ada kejanggalan, mengapa pohon itu tumbuh jauh dari tempat habitatnya berada. Pohon itu merupakan pohon yang akarnya tidak akan merusak bangunan di sekitarnya, dan di tunjukan ternyata dibawah pohon tersebut terdapat candi sengaja untuk di kubur. Memanv ceritanya pohon tersebut merupakan tanda bahwa di bawahnya terdapat candi.

Mitos mitos masyarakat ditempat tersebut mengatakan bahwa ada makan kuno menyembunyikan keberadaan candi terpendam tersebut.

Banyak hal yang telah mas Alik abadikan dalam Film-Filmnya, selain tentang situs dan candi kami juga di tunjukkan vidio tentang pembuatan seni dari buah Mojo. Kata seorang pengrajin buah mojo tersebut “Mojo itu Pahit, Tidak mungkin buah mojo ini tidak ada kegunaannya sama sekali, lawong nama buah mojo ini digunakan sebagai nama kerajaan Mojo Pahit”.

Masih banyak sebenarnya ilmu yang ingin kami gali dari Mas Alik. Namun kini waktu sudah menunjukkan jam 00.30 dan hujan telah reda. Kami berempan mengundurkan diri pamit untuk kembali ke Surabaya.

TUBUH DAN JIWA

Tubuh dan jiwa
Bersatu padu berwujud manusia
Pada dinihari
Menentang hawa kantuk
Yang menerpa dengan manja
Pada tubuh dan mata

Aku merenung
Sebuah kata dalam rasa
Setiap kawan yang mengawan
Kau bilang kau punya hati
Aku bilang kau punya nafsu
Kita sama-sama munafik

Dalam kegundahan dan kelabilan
Menjadi arah tak menentu
Membongkar asa menuai juan
Ya hanya mencoba
Mencari yang belum tentu ada
Di saat diri muda

Kau tanya pada diri
Mengapa tanah kau injak
Tanah tetap diam tak membalas
Di bawah, di kerendahan
Tumbuh subur benih-benih kehidupan
Yang memberi kemanfaatan

Lalu jauh pikiran meneropong
Terlihat otot dan keringat
Hati yang luluh dan tenang
Berpikir tentang depan
Kau ini mau pulang
Apalah yang harus kau bawa

Oleh:
Imam Syafi’i Mustofa

PERINGATAN

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barang kali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalah sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam dan kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Oleh :
Wiji Thukul