LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI

image

Sebuah kumpulan cerpen terbitan Kompas, di tulis oleh Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Masdhar Zainal, Agus Nur, Martin Aleida, Noviana Kusumawardhani, Emil Amir, Dwicipta, Triyanto Triwikromo, Indra Tranggono, A. Mustofa Bisri, Arswendo Atmowiloto, Linda Christanty, Sandi Firly, Guntur Alam, Norman Erikson Pasaribu, Komang Adnyana, GM Sudarta, Agus Noor, dan Dewi Utari

Cerpen ini di pilih dari beberapa pengarang yang ternama serta cerita yang lebih mencerminkan kesosialan setiap pribadi individu yang tinggal di berbagai daerah Indonesia. Kaya akan cerita khas dari setiap daerah. Dipilah dari 1.400 cerpen yang di tulis oleh anak Indonesia sendiri yang tersebar dari setiap penjuru Indonesia.

Ceritanya sungguh unik-unik. Ada yang di kasih alur yang membuat kita bertanya-tanya. Ada pula yang memberi kejutan di akhir ceritanya. Ada pula yang mengambil cerita dari masa lampau. Ini menjadi kekayaan tersendiri bagi karya sastra cerpen. Ia bisa tampil di segala lini bidang, di berbagai belahan dunia dan di waktu yang berbeda-beda. Ia bisa menceritakan kehidupan dewa, manusia atau iblis sekalipun. Karena si pengarang bebas untuk mengarang apapun yang ada di pikirannya. Terlintas bahwasanya cerpen merupakan karya tulis berupa fiksi yang kebenaran ceritanya belum tentu pasti. Ia tetap saja merupakan karya sastra yang menyampaikan pesan moral bagi para pembacanya. Dan jika kita jeli untuk melihat setiap pengarangnya kita akan menemukan suatu kebenaran tersendiri apa yang terjadi di dalam pesan atau cerita cerpen tersebut menurut sudut pandang pengarang. Karena setiap cerita cerpen selain ke epik annya juga terkandung pesan dari setiap pengarangnya.

Laki-laki pemanggul goni, mayat yang mengambang di danau, pohon hayat, requim kunang-kunang, batu-asah dari benua Australia, pemanggil bidadari, ambe masih sakit, renjana, lengtu lengmua, wajah itu membayang di piring bubur, nyai sobir, Bu Geni di bulan Desember, Jack dan bidadari, perempuan Balian, dua wajah ibu, sepasang sosok yang menunggu, mayat di Simpang jalan, sang Petruk, kurma kiai Karnawi, angin kita, adalah ke 20 cerpen yang di sajikan di dalam buku ini.

Tak hanya menyajikan cerpen saja di buku ini juga berisi tentang komentar dari Maman S Mahayana (dosen sastra di salah satu universitas Korea) tentang potret Indonesia dalam cerpen. Serta profil masing-masing penulis cerpen yang bisa membuat kita tergugah untuk meniru mereka semangat menulis cerpen lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s