MENATA HATI MENATA FIKIR

gambar-pohon-cantik-pemandangan-alam-indah-wallpapers

Frame Berpikir

Tandanya jika sudah tidak bisa menerima nasihat lagi, bagai padi yang semakin merunduk keatas. Semakin kopong maka semakin berdiri tegak tanpa mau merundukan diri. Kalau kita sudah berada pada posisi yang seperti itu. Cepat-cepatlah berbenah diri. Evaluasi diri lebih penting daripada mengevaluasi orang lain. Jangan-jangan kitalah penyebab keruwetan sebab kita sudah tidak mau mendengarkan apa kata orang lain yang drajatnya lebih rendah daripada kita atau yang berbeda sepemahaman dengan kita.

Itu bisa sebab karena hati kita yang sudah keras, atau karena sebeb kita sudah masuk kedalam frame pemikiran yang sengaja di buat untuk menciptakan perbedaan. Yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Tokoh yang kita anut, yang lainnya dianggap salah jika pendapatnya berbeda atau bertentangan dengan pendapat tokoh tersebut. Jika sudah seperti ini mau diapakan lagi, hanya tinggal berdoa semoga Allah membukakan pikiran dan hatinya agar terbuka dengan pendapat-pendapat yang lain. Pastinya dengan nurani yang benar untuk menilai mana yang benar dan salah, mana yang memberi manfaat dan madhorot

Sebagaimana respon dari beberapa kawan yang dengan ngototnya bilang “Itu Fitnah” pada sebuah tulisan yang disajikan dengan data yang ada. Mereka sudah tidak bisa berfikir dengan jernih lagi. Bila yang disampaikan berupa data-data yang sederhana diambil dari beberapa website, youtube, dan beberapa statmen tokoh mereka, seharusnya jawabannya bukan langsung mengatakan “Itu Fitnah”, tetapi langsung mengklarifikasi data satu persatu.

Jika memang website dari data yang disajikan tersebut ada yang keliru, seharusnya itu yang menjadi fokusan, dengan analogi kajian jika memang itu salah beginilah salahnya. Jika itu memang benar maka akuilah dan jangan malu untuk mengakui kesalahan. Karena dengan kesalahan kita menjadi tahu bahwa itu salah dan cepat-cepat berbenah diri.

Tetapi hal seperti itu tidak mereka lakukan, karena mungkin frame pemikiran yang mereka gunakan sebagai pijakan sudah berbeda dengan frame pemikiran yang menyajikan data. Seoalah-olah bagi mereka data tersebut memang benar-benar fitnah, tanpa perlu adanya kajian terlebih dahulu.

Frime pemikiran menjadi landasan berpijak memang sangat mempengaruhi proses berpikir kita. Ibarat belajar ilmu sejarah, membenarkan apa yang yang dikatakan oleh seorang pakar sejarah satu bisa membuat kita menyalahkan perkataan seorang pakar sejarah lainnya yang berbeda pendapat dari pakar sejarah yang satu itu.

Bolehlah kita ambil contoh “Kembali kepada Al-Quran dan Al-hadist”, sebagian kelompok mengatakan bahwa kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist ialah kembali kepada setiap ayat Al-Quran dengan makna yang saklak ditentukan oleh si penerjemah dan Hadist yang saklak dengan perkataannya tanpa di embel-embeli penjelasan lebih terperinci. Model seperti ini memang kelihatannya secara sederhana dianggap sangat benar, karena dari selogannya “Kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist” menjadi gaya tarik tersendiri bagi para pengikutnya.

Tetapi bagi sebagian kelompok kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadist bukan seperti itu. Dengan metode kehati-hatiannya dalam memaknai maksud dari setiap ayat, mereka perlu mengkaji lebih dalam lagi terkait pendapat-pendapat ulama’ pendahulu (berupa kitab tafsir, dan kitab-kitab yang diperlukan untuk meluaskan pandangan). Mengkaji ilmu Fiqih, Mengkaji Ilmu Tauhid, Mengkaji ilmu Tasawuf. Mengkaji ilmu Asbabul Nuzul, dan banyak ilmu lainnya yang digunakan untuk memaknai setiap ayat Al-quran.

Inilah yang saya maksud dengan frame landasan berpikir. Dimana yang satunya sangat menentang dengan adanya kitab-kitab karangan ulama’ pendahulu sebagai khazanah memaknai Al-Quran dan Al-Hadist dengan menyebutnya bid’ah dan sudah sangat tertanam dalam pikiran mereka untuk haram membaca kitab-kitab tersebut. Dan yang satunya menganggap perlu adanya mempelajari kitab-kitab tersebut, karena tanpa melalui kitab tersebut tidak akan mampu memaknai Al-Quran dan Al-Hadist sesuai dengan konteknya,

Jika seperti ini kita bisa melihat mana frame landasan berfikir yang sempit dalam memandang suatu permasalahan. Dan mana pula yang luas dalam memandang suatu permasalahan.

Media

Akhir-akhir ini kita seolah-olah diadu domba dengan yang namanya media. Konten berita yang memberikan informasi yang bertentangan membuat pembaca harus saling sikut menyikut sesama teman, menebarkan kecurigaan, dan merenggangkan persatuan. Seperti halnya frame pemikiran diatas, banyak para pembaca secara tidak sadar mengikuti arus permainan media, lebih suka menyebarkan informasi yang mendukung dengan apa yang dimau oleh pembenaran dirinya (Tanpa memandang maslahan dan madhorot jika tulisan tersebut di sebarkan). Dan pada akhirnya secara tidak sadar berita yang kita sebarkan tersebut telah memperkeruh fikiran dan hati kita, cacian kepada sesama manusia tak terelakkan lagi.

Hanya persoalan berbeda kata, pendapat, beredar meme-meme yang memperolok-olok, dengan tulisan yang tidak mencerminkan akhlakul karimah, kata-kata kafir, syiah, JIL beredar menebar kesebagian para ulama’ dan tokoh. Dengan begitu viralnya berita (tulisan, gambar, meme) tersebut disebar dimedia masa dan dibaca oleh kalangan publik, mempengaruhi cara berpikir para pembaca. Para pembaca menjadi lupa untuk mengevaluasi dirinya sendiri (Apakah hidup saya lebih baik daripada hidup orang yang saya bicarakan) dan menjadi terobsesi untuk menggali kesalahan orang lain

Bahayanya adalah jika kita sudah sampai tidak bisa berpikir lagi bahwa setiap manusia itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Dan berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain tanpa mau berinstropeksi diri (karena terlena dengan bahasan kejelekan orang lain). Bukankah ini bisa dinamakan dengan sombong.

Tidak hanya berhenti pada mempengaruhi kita untuk asyik memperolok dan membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi jauh dari itu semua goal dari berita-berita yang mempunyai daya magis memprovokasi pembaca untuk saling berkubu-kubu itu adalah perpecahan antar umat dan bangsa.

Menata Hati dan Menata Fikir

Sudah seharusnya kita membekali diri kita dengan akhlak yang mulia seperti yang tercermin dalam akhlaknya Rosulullah, bersifat welas asih, sabar, berhusnudzon, berendah hati, memaafkan, menjauhi prilaku yang membuat orang lain tidak senang, dan mendoakan semua manusia agar mendapat petunjuk dari Allah. Yang masih belum islam kita doakan segera diberi petunjuk oleh Allah untuk bisa masuk islam, yang berbuat dzolim kita doakan somaga segera diberi kesdaran agar meninggalkan kedzolimannya. Serta seraya meminta ampun kepada Allah atas segala dosa yang pernah dilakukan baik itu berupa tingkahlaku dan perbuatan yang buruk maupun perasangka-perasangka yang tidak baik kepada sesama.

Benar belum tentu baik, baik belum tentu benar, salah belum tentu buruk, buruk belum tentu salah. Seyogyanya kita tetap belajar dengan tanpa membatasi diri, mengekang diri pada fikiran-fikiran sempit yang tidak mau menerima nasihat baik dari seseorang (tidak memandang siapa orang tersebut) seraya tak berhenti untuk terus berharap Ridho Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s