Tentang Lagu dan Sastra Dalam Genggam Pasar

img_6090

Lagu

Desiran dari setiap nada yang mengalir, mengubah suara menjadi kesan yang begitu lembut masuk ke dalam rongga hati. Membuat para pendengar menjadi ter-ekstasi seakan dunia baru sedang tampil di depannya. Pelangi-pelangi hinggap pada daun fikir melalui telinga.

Sayangnya lagu itu menjadi nada-nada yang sendu tatkala ia hanya menjadi pesan yang mengikis pada ketajaman pemuda. Saat opini pemuda hanya terbungkus oleh modernisasi, kepentingan individu, kesejahteraan pribadi, cinta yang terlalu melo, dan sajak patah hati.

Seharusnya ia harus tampil elegan, dengan memasukan pesan kesan yang membangun jiwa besar, membangun otot-otot ke-optimisan membangun peradaban bangsa yang bermartabat dan menjadi panutan bagi yang lain. Seperti halnya pemuda Soekarno yang menjadi simbol Macan Asia pada waktu itu

Tempat kita adalah tempat yang melahirkan beribu budaya yang bermacam-macam, bahasa yang beratus-ratus dari ujung kulon ke ujung timur. Tak hayal jika seharusnya kita mampu menciptakan lagu yang lebih populer dari barat. Yang menceritakan tentang kehidupan, surga, dan keharmonisan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan alam.

Tapi lagu itu kini menjadi sendu dan penuh dengan elegi patah hati. Apakah ini dampak dari efek krisis jati diri. Terlalu kabur oleh tujuan kemakmuran pribadi yang rela mengorbankan kawan maupun taman tempat kita makan, minum dan berteduh.

Sastra itu Diri Kita

Sekumpulan kata menyampaikan makna. Sejuta cahaya yang terpancar dari aksara mengalir begitu deras menuntun sebuah kapal kehidupan menuju pintu pencerahan dan makna akan hidup. Karena pemilihan kata adalah keindahan yang menuntun para pembaca pada pencerahan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga akan ke-sastra-annya. menghormati setiap syair leluhur yang bijak. dan menjalankan kebaikannya.

Dulu tempat kita berpijak adalah tempat dimana melahirkan manusia-manusi unggulan yang setiap petuahnya adalah sastra kebijakan. Sastra yang mencerminkan tatanan sosial yang lebih baik daripada demokrasi barat.

Sastra kita tercermin pada lagu-lagu yang di nyanyikan setiap malam. di desa-desa. maknanya adalah tuntunan hidup yang tersirat dalalam kata yang jenaka. Kebanggaan adalah milik kita. Tak perlu bermuluk-muluk pada kursi panas yang saat ini diperebutkan. Nilai itu sudah ada.

Sejatinya sastra adalah pemilihan kata yang terbaik untuk membangun sebuah lukisan penyampai pesan hidup pada setiap generasi.

Keabadian Sastra

Ada yang bilang jika kau ingin abadi, maka menulislah. dengan menulis namamu akan harum sepanjang masa dikenang oleh setiap pembaja yang tak lekang oleh waktu. Mengenal orang mati hanya dengan tulisannya atau tulisan yang dicatat oleh orang lain.

Hidup bukan hanya mencari makan dan minum tetapi melakukan kerja dan menyampaikan pesan. Pesan yang abadi adalah pesan yang tertuang dalam tulis yang bermakna menggugah pada setiap pembaca untuk mengikuti pesan itu lalu menyampaikannya kepada generasi berikutnya

Orang boleh berkata semamunya berlaku sekerasnya berjuang mati-matian. tetapi jika ia tidak tertulis maka hidupnya hanya seketika itu. Dalam tubuh yang rentan oleh kematian

Dengan berbudaya sastra kita tidak akan pernah buta pada sejarah dan sejarah merupakan cerminan hidup di masa depan. Kehilangan sejarah berarti kehilangan jati diri dan kehilangan jati diri merupakan awal kejatuhan dan kekalahan di masa depan.

Pasar dan Ketidak Adilan

Pasar seharusnya menjadi simbol kesejahteraan yang merata. bukan simbol kesejahteraan yang termonopoli pada individual atau kelompok. dimana mereka yang menguasai pasar dengan mudah mengendalikan masyarakat kecil. Membesarkan budaya yang menguntungkan dan memusnahkan budaya yang merugikan

Bila mana lagu sendu menjadi idaman tatkala publik dengan gencarnya menyebar budaya-budaya materialistik, maka hal itu tak lain adalah pengaruh pasar yang menghendaki para konsumen berperilaku konsumtif

Kesadaran diri untuk hidup sederhana dan saling membantu sesama hanya akan merugikan kapital-kapital asing yang mengendalikan pasar. maka mereka yang melagukan syair sendu merekalah yang akan di jadikan raja, dijadikan pablik tuntunan dan di kayakan

Berbondong-bondong masyarakat akan memujanya berharap bisa menjadi aktris yang sukses oleh materi hingga secara masif pertambahan orang gila menjadi sangat tajam.

Sastra hanya menjadi syair cinta yang sendu dan elegi. Akibat pasar yang menjadi tuhan semua sistem tentang kebijakan dan kesejahteraan serta keadilan yang merata menjadi barang yang langka. Syair-syair kebijakan akan punah sesuai dengan kemajuan zaman yang membesarkan pasar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s