Sandal Itu Sebabnya

Oleh : Memori 3

Larilah secepat yang kamu bisa. Secepat-cepatnya hingga kamu lupa, kalau kamu memang sedang berlari dengan cepat. Kalau dalam kegelapan malam, memang tak salah jika hati menjadi merinding. Apalagi itu ketika kamu berada di jalan yang tidak ada lampunya sama sekali, di tengah pepohonan rindang yang panjang dan besar, jauh dari rumah penduduk. Itupun pas jam 02.00 dini hari.

Hanya berbekal angklung dan alat tabuh sederhana, para rombongan anak udik berjalan-jalan di tengah dinginnya embun malam. Anak-anak koplo sok jadi pahlawan kesiangan itu. Eh saya kira pahlawan kemalaman lebih cocok untuk mereka. Pahlawan pembangun sahur ala kadar yang membuat gila seisi rumah. Hanya bermodalkan alat tabuh yang sederhana, dan mulut yang nyrocos sahur-sahur mereka semua bangga, seakan-akan telah menjadi pahlawan tanpa jasa.

Berjalan di malam hari memang mengasikkan bagi anak udik kurang pekerjaan tersebut. Apalagi sambil lihat ke langit, mengawasi tebaran bintang yang menyala dengan cantik. Tetapi jangan salah fokus kawan, karena ada yang lebih cantik daripada tebaran bintang yang menyala itu. Adalah mangga yang sedang mau matang, berwarna kemerah-merahan.

Jangan salahkan mereka jikalau ada batuan yang terbang kelangit demi mendapat secokot mangga. Mereka hanya anak-anak udik yang mencari kesenangan kecil. Ya benar kecil, karena hanya menyolong mangga. Apa salahnya coba menyolong mangga, daripada menyolong duitnya rakyat yang belum tentu bisa bikin ketawa lebar seperti tawanya anak-anak udik terswbut.

Malam menjadi habitat yang nyaman bagi anak-anak udik tersebut. Bagai kelelawar yang melakukan aktifitasnya di malam hari mencari makan untuk bekal tidur siang besoknya.

Kejadian itu memang bersambung dengan cerita-cerita aneh yang selalu menjadi bahan pasok ketawa. Bagi rakyat desa, apalah yang lebih berharga dari pada sekedar bisa tertawa lebar bersama. Kalau main gedget ya gedgetnya siapa yang mau di mainkan, lawong uang sudah ludes habis beli jajan. Bayangkan bro… Berapa jumlah pesangon mereka ketika pergi kesekolah. Cuman 500 rupiah, buat beli apa coba?

Salah satu kejadian itu sebab-musebabnya adalah perkara sandal, dan hawa propaganda-propaganda dari senior-senior yang iku ronda. Entah akibat bisikan siapa grombolan anak-anak udik tersebut ingin melewati sebuah jalan yang sepi, gelap dan sunyi. Hanya suara jangkrik dan hewan melata lainnya yang mengisi suara di jalan tersebut.

Terlihat tenang, berjalan seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Seakan-akan berjalan mulus tanpa halangan apapun. Dan guyonan serta bercengkrama dengan sesama. Tetapi setelah lama kelamaan sura tertawa dan cengkrama itu mulai pudar diganti dengan kesunyian kata dalam grombolan tersebut dan terdengar suara langkah yang semakin dipercepat. Sedikit demi sedikit frekuensi kecepatan di tambah. Semakin jauh mereka berjalan semakin kegelapan yang mereka hadapi. Dan semakin cepat mereka berjalan semakin cemas pula keadaan hati anak-anak udik tersebut.

“Bos jangan cepat-cepat jalannya. Dan jangan lari, takut aku” harap si kecil yang mendadak ketakutan. Dan salah satu senir menanggapiny. “Iya, iya santai-santai, jangan lari lo ya jangan lari”. Begitulah pesan senior yang agak gugup melafalkan katanya. Habis itu ketegangan masih saja ada dan bahkan frekuensinya lebih tinggi dan semakin tinggi. Tibalah suatu suara yang tak sengaja atau bahkan memang di sengaja berucap ” satu, dua, tiga”. “Gruduk”. Akhirnya pecah juga ketegangan yang lama mengekang anak-anak udik tersebut. Mereka berlari terbirit-birit di dalam ruang gelap yang hanya menggunakan insting saja sebagai petunjuk jalan. Tak peduli dengan teman deisamping kanan-samping kiri, ketakutan yang telah merasuki jiwa mereka membuat larinya semakin cepat dan tak kenal lelah sebelum keluar dari labirin kegelapan tersebut.

Memang begitulah watak anak-anak udik tersebut, tidak bisa di ajak kerja sama jika sudah mencapai puncak ketakutan yang membuat rasa kemanusiaan mereka menjadi buran. Teman itu penting jika bisa buat tertawa, tetapi tidak jika hanya buat sengsara saja. Begitulah adanya, maklum mereka masih anak-anak.

Akhirnya gerombolan tersebut sampailah pada titik jalan yang terdapat pencahayaan, mereka keluar dari kegelapan itu dengan selamat semua serta dengan napas yang ngos-ngosan pula. Namun tiba-tiba ada suara rengekan tangisan dari belakang. “Sandal ku ketinggalannnnnnnnnnnn”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s