Kawulo Alit Dan Katresnan

Anakku hidup adalah perjalanan panjang namun hanya punya satu tujuan, yaitu mengabdi kepada Allah (Muhammad Agus Syafi’i)

Oleh : Imam Syafi’i Mustofa

Meladeni Guru (Tabarukan kepada Kyai) menjadi makanan sehari-hari bagi murid yang bersungguh-sungguh mencari ilmu dan barokah (Kebaikan yang bertambah-tambah). Walau proses yang dijalani tidak selalu mulus, halus sesuai dengan akal bulus yang inginnya selalu berjalan sesuai dengan ekspektasinya. Pokoknya guru harus ridho, bagaimanapun caranya, walau itu harus ditempuh dengan kegigihan membersihkan kamar mandi ndalem (Rumah seorang guru/Kyai). Mencucikan mobil guru, rela dengan sepenuh cinta mencucikan pakaian keluarga ndalem, atau memandikan kambing dengan bulu gimbal bercampur bau pesing.

            Fenomena ini menjadi menarik di sela-sela zaman serba modern (Kegaulan akan harga diri manjadi primadona agung) dan demokrasi. Ketika semua orang mempunyai hak sama untuk bersuara lantang dengan megaphone dan berdesak-desak untuk berlomba-lomba menuju kelas raja. Masih ada saja di tengah kota orang tua yang mengajari anaknya untuk meladeni guru. “Kamu hari ini sudah meladeni (membungahkan hati) gurumu berapa kali?”.

            Tradisi meladeni guru mengantarkan seorang murid untuk menjadi manusia yang beradab, berakhlakul karimah, manusia yang mampu memanusiakan manusia lainnya, dan disekala lebih menyeluruh mampu menjadi perubahan kedamaian dunia. Bayangkan saja jika seorang murid mau jadi apapun, meninggalkan segala gengsi dan tetek bengeknya, menjauhi segala larangan dan menjalankan segala perintah dengan kepatuhan tingkat malaikat. Tidak akan ada orang yang dengan sombongnya memploklamirkan keagungannya karena sudah gugur oleh kebiasaan meladeni melatih menjadi orang kecil sejak dini dengan cara manut kepada guru.

            Kemulyaan seorang murid juga mampu diukur dari kesetiaannya meladeni guru, baik ketika ia masih hidup maupun meninggal. Sebagaimana kemulyaan seorang murid yang digambarkan oleh Syekh Zainul Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali melalui kitab Ayyuhal Walad (wahai ananda kebanggaanku). Dengan ridhonya seorang guru kita bisa menyaksikan manusia-manusia besar yang mempengaruhi dan menginspirasi dunia, Shalahudin Al-Ayyubi seorang kesatria muslim dengan ridho gurunya (Imam Al-Ghazali) mampu menanggalkan pakaian kesombongan tentara salib dan meraih kemenangan sempurna, KH. Hasyim Asyari dengan keridhoan KH. Kholil Bangkalan mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama yang sampai saat ini menjadi basis benteng pelindung para ulama dan penjaga kesatuan NKRI, KH. Abdul Wahab Chasbullah atas ridho KH. Hasyim Asyari mampu memprakarsai pergerakan rakyat Jawa Timur untuk terjun bersama melawan penjajah pada peristiwa Sepuluh Nopember Surabaya.

            Inilah mengapa proses berangkat dari ngeladeni guru itu menjadi penting karena mampu menumbuhkan rasa ridho guru terhadap murid yang apabila diruntut lagi bisa menjadi sebab musebabnya terbukanya pintu ridho Allah terhadap si murid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s