SABUNG AYAM

baru

Bagi orang desa yang hidup serba kecukupan, makan nasi berlaukan tempe dan tahu serta sambel korek adalah menu makan yang biasa mereka lahap setiap harinya. ada lauk pauk daging ayam jika tetangga ada gawe mantu atau selametan yang biasa dilakukan pada hari-hari tertentu, ya jika ada beberapa tetangga yang mempunyai sedikit rizki lebih, mereka biasa mengadakan selametan kirim doa kepada leluhur. atau ketika ada sawah yang panen polo wijo, biasanya saat-saat seperti itu banyak sekali makanan yang berlimpah ruah, yang tadinya makannya serba kecukupan, bisa-bisa menjadi kebanjiran dan harus dibagikan kepada tetangga.

Desa kami terletak di tengah-tengah hamparan sawah dan ladang serta berposisi setrategis yaitu dibawah kaki gunung yang sudah lama mati. tak hayal jika tanahnya subur dan udaranya sangat segar untuk dihirup oleh penduduk desa. mata airnya masih jernih dan tak pernah sekalipun terjadi kekeringan. Sumber air yang melimpah tanda bahwa pohon-pohon yang ada di gunung masih rimbun dan tumbuh dengan lebat. Tak ada aktivitas pembalakan liar disana, karena penduduknya masih sangat menghormati dan memegang tradisi-tradisi leluhur bahwa lingkungan harus dijaga, jangan menebang pohon sembarangan nanti bisa menyebabkan pamali. dilihat dari desa, gunung tersebut sungguh elok dan hijau sekali. Karena letak desa kami dibawah kaki gunung tersebut maka tak hayal sebagian besar dari penduduknya bekerja sebagai petani.

Setiap paginya terlihat banyak orang yang berlalu lalang di jalan desa. Ada yang pergi ke pasar tradisional, ada juga yang pergi ke sawah untuk membajak, ada segerombolan anak kecil yang sedang jalan pagi. ada pengantin baru yang sedang menikmati pemandangan desa dipagi hari serta kakek dan nenek yang juga keluar dari rumahnya untuk menghirup udara di pagi hari dan melakukan sedikit olahraga merenggangkan badan mereka yang kini sudah renta agar memperoleh kebugaran serta agar tidak mudah terserang penyakit-penyakit yang biasa menyerang orang tua (manula).

“Ijah, suamimu tadi malam ndak pulang lagi”

“Iya buk, ndak tau, akhir-akhir ini abang suka ndak pulang ke rumah. mungkin sedang sibuk ngurusin ayam jagonya itu, katanya bulan ini mau ada turnamen sabung ayam besar-besaran didesa. bahkan rumornya bakal datang bandar-bandar besar untuk bermain judi disana”

“Oh.. sekarang sedang musim kemarau ya, pantas dijalan banyak orang merawat ayam-ayamnya”

“Tapi Jah, mbok ya dibilangin suamimu itu, sudah ndak usah ngurusi ayam terus, kamu lagi bunting besar gini seharusnya ia lebih memperhatikanmu daripada ayamnya, kalau nantinya terjadi sesuatu terhadap kandunganmu gimana ketika suamimu pas ndak ada dirumah?”.

“Saya sudah bilang abang buk, tapi ya gitulah buk. katanya malah kalau nanti ia menang sambung ayam hasilnya bisa buat biaya persalinan yang memerlukan banyak uang”.

Ijah adalah salah satu wanita penduduk desa yang saat ini sedang hamil besar, menikah dengan karjo seorang yang kesehariannya bekerja sebagai kuli bangunan. Sebagai pasangan baru bisa dibilang mereka adalah pasangan yang sederhana. Di desa itu bekerja sebagai seorang kuli hasilnya lebih mendingan dari pada bekerja sebagai buruh tani. tetapi bagi karjo bekerja sebagai kuli tidaklah begitu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari, ia sudah memikirkan matang-matang jika nanti sang bayi lahir pasti akan membutuhkan biaya yang banyak. juga ketika bayi itu tumbuh dan besar pasti juga akan  membutuhkan biaya-biaya lain seperti uang jajan, uang mainan dan uang pendidikan. karena itu si karjo tidak mengambil pusing lagi. Ia memanfaatkan momentum turnamen sabung ayam ini, untuk beradu nasib di dalamnya.

kata karjo kepada istrinya “Dek, nanti kalau abang menang sabung ayam kita bisa membangun rumah sendiri, kita ndak usah ikut sama orang tua lagi. ndak enak ngerepotin orang tua.”

“Bang, ndak usahlah pakai sabung ayam segala. ndak baik bang, adek lagi hamil besar, kayaknya beberapa hari ini sang cabang bayi akan keluar dari perut adek.”

“Juga kata ibu, kalau istri lagi hamil ndak usah abang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pamali, sabung ayam juga termasuk pamali bang.” Keluh Ijah kepada suaminya.

“Alahhh…, orang tua memang begitu, ia doyan sekali kalau membual soal tradisi yang tahayul seperti itu. dek anak kita butuh nutrisi-nutrisi yang banyak, vitamin dan juga susu dek. Apakah tahayul-tahayul seperti yang dikatakan orang tuamu itu bisa membelikan kebutuhan bayi kita kelak?. kita hidup di zaman modern dek, semuanya butuh uang, kita tidak butuh petuah-petuah kuno dari orang lawas seperti bapak dan ibu mu itu”

“Tapi mas…..”

“Sudah, sudah…. Doakan saja abang nanti sabung ayamnya bisa menang”.

Hari demi hari sudah berlalu dan turnamen sabung ayam itu semakin dekat dengan hari yang telah ditentukan. Pemuda dan orang tua desa kini disibukkan dengan rutinitas-rutinitas memanjakan dan menjamui ayam jago mereka. Tak lupa juga si karjo dengan penuh harapannya telah menyiapkan persiapan sejak dini mungkin. Ayamnya iya manja, setiap pagi dan sore ia beri jamu agar ketika pertandingan tiba ayam itu bisa bertarung secara fit.

Akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu pun tiba, turnamen sabung ayam secara besar besaran di desa itu dilaksanakan dengan sangat meriah. Di sentoro desa tersebar umbul-umbul sebagai tanda yang menunjukkan kemeriahannya. Di jalan menuju tempat turnamen sabung ayam itu ramai dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah.

“Jo gimana ayam jago mu? sudah siapkah diadu dengan ayam jago lainnya” tanya katmo tetangga Karjo.

“Sudah saya persiapkan mo. sejak beberapa bulan yang lalu. Ayam jagoku ini sudah saya uji coba tandingkan dengan ayam jago dari berbagai daerah dan sampa saat ini belum pernah mengalami kekalahan satu kali pun”.

“Bagus itu Jo, kemungkinan besar untuk menang lebih besar dan kamu bisa untung banyak di turnamen sabung ayam kali ini”.

“Ha.. ha.. ha.. Sudah pasti mo, ke optimisanku sangat besar kali ini. Jiwa mudaku masih membumbung tinggi. Kau tahu di dunia ini tak ada yang tak bisa di lakukan oleh orang yang mempunyai kepercayaan tinggi untuk menang”

“Iya Jo saya juga percaya itu… kamu pasti menang”

Karjo begitu yakin dengan apa yang dipercayainya. Dalam hatinya ia berharap ingin menang besar dalam turnamen kali ini. Dalam benaknya ia membayangkan akan bisa membeli rumah sendiri dan bisa hidup madiri dengan Ijah dan bayinya nanti yang tidak lama lagi akan keluar dari rahim ibunya. bayangan kebahagian itu begitu jelas hingga sampai tercerminkan pada senyum karjo ketika ia berjalan  menuju lapangan tempat turnamen sabung ayam itu dilakukan.

Akhirnya tibalah Karjo ditempat. Ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari tempat sabung ayam yang mempunyai taruhan tinggi. harapan karjo dengan sekali menang bisa langsung dapat beli rumah. Tepat di sebelah pojok utara barat ia melihat semacam ruang yang terlihat berkelas. Yaitu ruang sabung ayam bagi orang-orang kaya. Pastinya disitulah tempat yang akan dituju oleh Karjo. Ya tempat yeng mempunyai harga jual yang tinggi, tak hanya taruhan yang tinggi tetapi ada juga disediakan hadiah yang tinggi pula.

Karjo pun mendaftar untuk menjadi peserta di tempat itu, dan mempersiapkan ayam jagonya untuk melawan ayam jago lainnya yang menjadi musuhnya.

“Karjo melawan Yanto, mohon untuk dipersiapkan ayamnya untuk dimasukkan kedalam arena pertandingan”.

“Hei ayam kau harus menang, apapun caranya kalahkan ayam milik orang yang berdiri di sebelah sana” kata Karjo menyemangati ayam jagonya

Kini ayam jago milik Karjo mulai menunjukan aksinya. Ketidak pernah kalahnya akan diuji dalam turnamen kali ini, bagi Karjo ayam itu adalah ayam harapan. Harapan untuk mencapai hidup yang lebih baik bersama keluarga yang kini sedang menantinya dirumah.

“Ayo ayamku yang paling jago, kalahkan ayam itu, kita bawa pulang hadiahnya” teriak Karjo menyemangati ayamnya.

Ayam jago milik Yanto ternyata tidak mudah untuk dikalahkan, ayam itu ternyata mempunyai stamina yang kuat. Jauh dari perkiraan Karjo sabung ayam ini ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Ada sedikit kesalah terhadap analisa yang di buat oleh Karjo. Ia mengira bahwa ayam yang ia idam-idamkan itu adalah ayam yang terkuat di negeri ini, dengan terbukti selama ini tidak pernah mengalami kekalahan sama sekali, serta berulangkali menang dari ayam-ayam jago yang lain dengan mudahnya. Namun dalam pertandingan turnamen sabung ayam ini ayan Karjo menemukan lawan yang dikatakan bisa seimbang.

Sudah beberapa ronde berlalu dan kedua ayam masih sangat sengit bertarung di dalam arena, suara sorak meronta dari kerumunan para penggiat sabung ayam kini terdengar sangat keras.

“Ayo ayam kampung, hajar terus ayam kota itu, kau pasti bisa menang” Teriak penonton.

“Ayam kampung”, “Ayam kampung”, Ayam kampung” “Kau harus menang Ayam kampung” sorak penonton dari penjuru.

Teriakan-teriakan dari penonton yang sebagian besar mendukung ayam Karjo ini membuat hati karjo menjadi besar, ia menjadi yakin bahwa ia akan menang. Ia kembali mengingat kata-kata yang pernah ia ucapkan dan pegang teguh “Keyakinan untuk menang adalah kunci kemenanga itu sendiri”.

“Ayamku janganlah engkau kalah dengan ayam ingusan dari kota itu, tunjukan bahwa ayam yang hidup di desa lebih baik daripada ayam yang hidup di kota?” Teriak karjo menyemangati ayam jagonya.

Dari arah lawan Yanto sebagai musuh sabung ayam Karjo dari awal pertandingan hanya diam dan sedikit memberikan senyum kecutnya kepada Karjo. Namu kali ini dia berjalan menuju Karjo dengan membawa senyum kecutnya itu seakan-akan mau membawa berita buruk kepada Karjo.

“Hai kawan kau tahu,ayam jagoku ini setiap paginya saya latih tanding dengan ayam-ayam jago disentoro kota. Ia tak pernah kalah satu kali pun. Ayam jagomu cukup tangguh juga bisa bertahan sampai banyak ronde begini” bisik Yanto kepada Karjo.

“Namamu Karjo ya. Saya akan ingat namamu Karjo, ayam jago mu memang tangguh. Tapi beberapa ronde lagi saya jamin ia akan dikalahkan oleh ayam jagoku. Kau tahu ayam jagoku selalu aku beri makan dengan makanan yang bernutrisi tinggi, tidak seperti ayam jagomu dari desa yang makan sisa nasi orang”.

Dengan raut muka penuh percaya diri akan menang. Karjo membalas bisikan itu dengan kata-kata singkat dan penuh dengan keyakinan. “Jangan sombong kau orang kota, pertandingan masih lanjut. Dan hasil belum menampakkan dirinya”.

Akhirnya ronde-ronde yang terakhir pun kini mulai terlihat. Dan kedua ayam jago tersebut mulai nampak siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Ucapan Yanto pun ternyata kini mulai benar-benar terbukti bahwa ayam jagonya akan memenangkan pertandingan sabung ayam ini. Karjo yang melihat kenyataan ini mulai gelisah dan frustasi melihat ayamnya sudah mulai menunjukan ketak berdayaannya melawan ayam jago dari kota itu. Bayangan akan membeli rumah baru dan bisa hidup bahagia dengan Ijah kini mulai kabur dan menambah frustasi Karjo mengingat bahwa uang untuk mempersiapkan mengikuti turnamen sabung ayam ini tak sedikit pula ia keluarkan. Entah apa yang salah tiba-tiba Karjo tidak menerima dengan hasil ini. Ia mulai menyalahkan Tuhan yang kini dianggapnya sudah tak adil lagi.

“Pemenangnya adalah ayam jago milik Yanto”. Suara juri mengumumkan kemenangan Yanto.

Ayam jago Yanto masih bisa berdiri dengan tegak. Sedang ayam jago Karjo kini sudah terbaring dan tak berdaya lagi setelah beberapa kali dihajar oleh ayam jago Yanto. Karjo yang tidak menerima kekalahan ini ia mulai melampiaskan kekesalannya kepada ayam jagonya.

“Ayam sialan, kenapa Kau kalah pada pertandingan ini. Apa kau tidak tau istriku sedang hamil di rumah dan anak ku yang sebentar lagi mau lahir, ia butuh uang banyak ayam bodoh.” Karjo yang sudah kehilangan akal sehatnya ia mengambil ayamnya dan mematahkan kedua kakinya hingga berbentuk huruf M. Tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang yang memanggil-manggil nama Karjo.

“Karjo-karjo…..”

“Istrimu di rumah melahirkan, bayimu Karjo, bayi mu……. Bayimu kakinya aneh, kakinya berbentuk M”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s