PROBLEMATIKA DESA

wpid-ahp-lumbung-desa-dan-problematika-nasional-160713-1

Desa saat ini banyak berubah dari tatanan masyarakat bersifat majmuk ke arah masyarakat modern, tetapi bukan modern orang kota yang terlanjur kaya, modern disisni lebih cendrung ke istilah gaul, istilah pada tahun 2000-an sangat trend untuk dibicarakan.

Kegaulan (modern). seperti para penjajah datang dengan membawa idiologi baru. Idiologi yang mengajarkan kepada kita untuk lupa kapada para tetangga di samping rumah, membawa kehidupan baru jauh dari ke-Islam yang rahmatallilalamin, menggerus sifat luhur kerja keras, menanamkan sifat malas murokkab, menghilangkan ghirroh belajar ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat serta menuntun kearah cinta dunia secara berlebihan.

Kegaulan ini dibawa oleh Negara-negara maju yang notabennya merupakan Negara penjajah. Anda tahu siapa penjajah itu? Penjajah adalah orang yang mensyiarkan agama baru di dunia ini, yaitu agama kedholiman yang menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya. Kedholiman itu disebar kepenjuru dunia terutama di negara-negara yang subur dan makmur akan sumber daya alam seperti negara-negara di Afrika maupun di Asia.

Tidak luput pun Indonesia sebagai negeri loh jinaweh menjadi sasaran empuk bagi Negara-negara penjajah. Kolonialisasi yang berlangsung amat lama ini pun memperkaya negara penjajah yang merupakan negara miskin secara sumberdaya alam maupun moral perilaku. Namun apa daya sekumpulan orang berhimpun dalam melakukan kedholiman yang terorganisir dengan baik itu akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorgansir dengan baik. Itulah Indonesia.

Kini kita sebagai generasi penerus sangat khawatir akan keadaan yang terus menerus memburuk, bolehlah bilang jika dahulu jelas-jelas terlihat bahwa penjajah itu bisa dikatan Negara ini dan itu. Namu setelah Negara Indonesia menyatakan kemerdekaannya secara de vactomaupun de jure dan sudah berlangsung selama 70 tahun kedaan masih sangat memperhatikan. Rakyat kecil masih sulit secara ekonomi dan tuntutan-tuntutan kemodern-an menghantui setiap mimpi mereka, sehingga waktu terbuang hanya untuk mencari uang saja, tidak ada kesempatan untuk membimbing budi pekerti anak mereka kepada budi pekerti yang baik.

Anak-anak kini tumbuh besar dengan gadjet ditangan mereka, menyanyikan lagu-lagu yang menjauhkan dari agama, perfileman yang ditonton merasuk kepada pikiran mereka dan menjadi tuntunan hidup. Maka tidak salah jika media masa memberitakan kekerasan dan pemerkosaan yang menjadi makanan setiap hari.

Jika Anda keluar rumah maka lihatlah sekelilingmu, tetangga-tetangamu dulu yang menemanimu bermain paton (gasing), nekeran(klereng), jumpritan (petak umpet), bentengan, gejlik, sodoran. Kemana perginya mereka sekarang? Perantauan menjadi tempat idaman hati bagi mereka sekarang, karena lahan desa kini tidak cukup menyediakan tempat bekerja, kemandirian desa kini luntur oleh kekosongan pikiran kreatif penduduknya. Memang benar rumput tetangga tampak lebih hijau dari rumput sendiri.

Ketidak adaan lahan kerja membuat anak muda desa tidak bekerja dan menjadi pengangguran. Sedang hegemoni hidup konsumtif menyerang dari segala arah seperti layaknya air bah, Melalui televisi, kehidupan kota, para alumni perantauan, pegawai PNS yang apatis, pemerintah desa yang sibuk membangun rumahnya, dan kehidupan para gaulmen-gaulmen yang hidup dari uluran tangan orang tuanya.

Keadaan yang serba kurang dan tuntutan-tuntutan zaman serta kumpulan anak muda yang telah lulus sekolah maupun tidak, berondong-bondong bermain di tempat-tempat penuh dengan kemaksiatan ditemani wanita dan minuman keras. Asyiknya kebudayaan yang dibawa oleh para penjajah kini menjadi budaya yang berkembang di desa. Lantas jangan heran jika anak muda desa yang baru menikah tidak lama kemudian banyak yang bercerai. Setatus duda dan janda kini menghantui para pemuda yang belum menikah.

Para pemuda lain yang terpelajar tergiur oleh kenikmatan pendidikan diluar kota dengan mudahnya beasiswa-beasiswa yang didapat. Kini mereka melancong ke kota-kota besar memperdalam ilmu ini itu yang nanti setelah lulus hanya menjadi abdi ndalem para pemilik modal. Lantas siapa yang akan bertanggung jawab atas semua permasalahan yang ada di desa? Pendidikan yang kini tidak menjawab apa-apa. Para terpelajar diseret oleh gemerlapnya gaji para pengusaha asing di luar kota. Dan kampus-kampus hanya mendidik manusia-manusia yang tidak becus bermasyarakat. Idealnya para mahasiswa hanya sibuk oleh kepentingnnya sendiri-sendiri dan jarang berbaur dengan masyarakat.

Pesantren-pesantren yang menanamkan kenasionalan yang tinggi, budi luhur yang agung, serta cara hidup nerimo ing pandum kini mulai ditinggalkan. Masyarakat lebih senang melihat anaknya berprestasi dalam pendidikan umum daripada pendidikan pesantren, dan kalau bisa lebih memilih mengkampuskan anaknya daripada mempondokkan anaknya. Mereka tak tau jika di kampus anaknya berbuat apa. Mereka kira anaknya akan baik-baik saja. Tapi padi faktanya kebanyakan orang kehilangan keperjakaannya dan keprawanannya berada di kampus atau di pendidikan umum lainnya.

Lalu kekosongan Pesantren-pesantren ini sebab apa? Mengkin yang pertama sebab kurang terorganisirnya dengan baik, kedua Ketawadhuan akan menunjukkan keunggulan dari sitem pembelajaran dipesantren, ketiga image sebagian masyarakat terhadap santri yang begitu-begitu saja[1], keempat Hegemoni yang terus menurus menyuarakan hidup sejahtera secara modernis (identik dengan prioritas orang harus kaya) meninggalkan ketradisionalan, dan kelima masih lebih silauya pendidikan umum negeri dari pada pendidikan pesantren dimata khalayak umum.

Saya rasa kita perlu merumuskan kembali tentang pendidikan masyarakat desa. Desa butuh kemandirian secara ekonomi, ilmu Agama yang mumpuni sebagai prinsip hidup[2], serta keorganisasian warga sebagai penopang kerukunan warga, terutama anak muda agar tidak termakan oleh kegaulan (modern) yang merusak moral.

Imam Syafi’I Mustofa
Kediri, 21 agustus 2015

[1] Pernah suatu ketika saya ngobrol dengan teman sejurusan, katanya orang-orang yang dipondokkan pulang ke kampong halamanya tambah nakal, dan mencitrakan perilaku yang buruk

[2] Setidaknya dalam pesantren harus ada Kiai yang benar-benar alim sebagai panutan warganya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s