KH. ABDUL WAHAB CHASBULLAH HIDUP DAN PERJUANGANYA

wpid-img_20150820_155428

Membaca adalah aktifitas yang saya lakukan dikala waktu senggang atau kosong, bertepatan libur panjang semester tahun ini, ingin rasanya menghabiskan banyak buku yang bisa saya baca. Ada beberapa buku tertata dengan rapi di atas almari kamar, rencananya akan saya habiskan untuk beberapa hari kedepan.

Saat ini saya sudah selesai baca buku KH. Abdul Wahab Hidup dan Perjuangannya karangan DRS. Khoirul Anam. Isinya sangat epik, berwawasan, dan sangat memotifasi, anda wajib membacanya karena didalamnya terdapat cerita sejarah sejarah yang selama ini faktanya sengaja disembunyikan tidak diceritakan di sekolah umum.

Sebagai seorang pembaca rasa-rasaya tidak afdhol ketika tidak ada feed back-nya sama sekali, maka dari itu perlulah untuk menyampaikan sedikit cerita baik melalui lesan ataupun tulisan. Pada ksempatan kali ini saya mncoba untuk mengulas kembali isi buku KH. Abdul Wahab Hidup dan Perjuangannya, walaupun saya bukan seorang penulis yang handal, tetapi apa salahnya mencoba.

Sebelum saya memulai ada tulisan yang menarik hati saya untuk diceritakan yaitu pada halaman 56-57 tentang Imperialisme barat, isinya sebagai berikut :

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, ada dua macam imperialism Barat yang masuk Indonesia: Imperialisme kuno dan Imperialisme modern. Imperialisme kuno didirikan oleh kalangan Katolik sejak 1494-1870 dengan ditandai Perjanjian Tordesilas Spanyol 1494 yang dipimpin Paus Alexander VI. Dalam perjanjian tersebut Paus memberikan kewenangan kepada kerajaan Katolik Portugis untuk menguasai dunia belahan timur. Sedangkan Kerajaan Katolik Spanyol diberi kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat. Tujuan utama imperialisnya ditandai dengan 3 G, yakni Glod, Gospel dan Glory. Gold berarti emas. Dengan menjajah akan memperoleh kekayaan yang dirampas dri tanah jajahan. Gospel,pengembangan agama Katolik. Di tanah jajah harus diupayakan penyebaran agama Katolik. Glory,Kejayaan. Dengan mendapatkan Gold dan Gospel, maka negara imperialis akan memperoleh Glory—kejayaan yang paripurna.

Kemudian imperialisme kedua adalah imperialisme modern. Penjajah ini dimuli sejak 1870 M—setelah terjadi peristiwa Negara Gereja Vatikan diruntuhkan oleh gerakan Nasionalis Itali. Imperialisme modern ini menjadikan Protestan sebagai landasn geraknya, dan menjadi tanah jajahan sebagai sumber bahan mentah (raw material resources) sekaligus sebagai pasar (Market) dari produksi industri penjajah. Nusantara Indonesia waktu itu praktis diterkam pemerintah kolonial Belanda dengan melumpuhkan ulama dan petani Muslim sebagai pendukungnya, yang berada diwilayah pedalaman atau pedesaan melalui sistem Tanam Paksa (1830-1919).

Baik yang kuno maupun yang modern, tujuan utama imperialis Belanda adalah sama, yakni mengeruk kekayaan alam Nusantara Indonesia, memperbodoh dan merendahkan martabat bangsa, dan menggelorakan misi kristenisasi dengan segala cara. Karena itu para Sultan, Raja, Wali Sanga, ulama dan santri bangkit melawan perlawanan terhadap imperialis Barat dengan kesadaran membangun cinta tanah air, bangsa, agama dan kemerdekaan. Kesadaran berbangsa dan bertanah air, beragama dan bebas dari ini ditanamkan dipesantren dalam hubungan guru-murid atau kiai-santri. Kehidupan pesantren dengan demikian berfungsi sebagai tempat penggemblengan pemimpin bangsa untuk melawan penjajah. Seperti diungkapkan oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, kehadiran pesantren dengan santri yang datang dari berbagai suku dan etnis, tetapi menghilangkan pandangan yang etnosentrisme, menjadikan Islam sebagai wawasan dasar nasionalisme. Dan memang, fakta sejarah menunjukan bahwa pelopor nasionalisme Indonesia adalah tokoh-tokoh Islam. Dulu, jika disebut nasionalisme adalah Islam. Namun, untuk kepentingan deislamisasi sejarah nasional, maka ditulislah pelopor nasionalisme Indonesia adalah tokoh-tokoh sekuler.

Sebelum masuk kedalam cerita, ada sedikit ringkasan mengenai tempat kelahiran Kiai Wahab yakni Jombang sebagai kota yang melahirkan tokoh-tokoh besar seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Bisyri Syansuri, KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Majid (Cak Nur), Emha Ainun Najib (Cak Nun), Imam Utomo (Mantan Gubnur Jawa Timur). Dilihat dari sejarah jombang adalah pintu gerbang perkembangan sejarah sejak zaman Pu (empu) Sendok, Airlangga, dan Majapahit.

Kiai wahab atau KH. Wahab Casbullah lahir di Tambak beras, dari pasangan Kiai Chasbullah dan Nyai Latifah. Beliau dilahirkan pada tahun 1887 M menurut kartu anggota perlemen pada waktu itu (1956). Untuk tanggal pasti kelahirannya sang penulis buku masih belum mengetahuinya, karean dalam pencariannya dari beberapa sumber Kiai Wahab tidak ada kapan persisnya beliau dilahirkan. Nasab Kiai Wahab masih berhubungan dengan KH. Hasyim Asy’ari (Paman). Nasab keduanya bertemu dengan Kiai Abdus Salam (Kiai Shoichah). Kiai Abdus Salam putra dari Abdul Jabbar putra dari Ahmad putra dari Pangeran Sambo putra dari Pangeran Benowo putra dari Joko Tingkir (Mas Karebet) putra dari Kebo Kenongo Putra dari Pangeran Handayaningrat putra dari Brawijaya IV (Lembu Peteng).

Wahab kecil mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya sendiri, terutama membaca Al-Quran, Ilmu tauhid, bahasa Arab dan sedikit Ilmu tasawuf, kemudian dilanjutkan di pondok pesantren langitan Tuban, pada waktu itu wahab kecil berusia 13 tahun, ada kejadian aneh ketika melakukan perjalanan. Kendaraan dokar yang mengantarkan wahab ditengah perjalanan tiba-tiba melaju dengan kencang dan keluar dari jalur jalan masuk kesawah-sawah. Semua penumpang jatuh beserta bekal yang dibawanya. Tetapi anehnya ditengah sawah sang kuda berhenti dan berdiri seperti memanggil penumpangnya. Kejadian ini bagi sebagian orang ditakwilkan bahwa Kiai Wahab kelak tidak ingin banyak terlibat di pesantren (wallahu-a’lam).

Diceritakan KH. Aziz Masyhuri, lalu dikutib Muhammad Rifai dalam bukunya: ‘’KH. Wahab Hasbullah: Biografi singkat 1888-1971”, bahwa ketika Wahab muda berniat ingin nyantri ke pesantren Syaikhona Kholil di Kademangan, Bangkalan, Madura, justru mendapat perlakuan tidak wajar. Beberapa hari sebelum kadatang Wahab muda, Kiai Kholil meminta kepada santrinya agar berjaga-jaga karena sebentar lagi akan ada “macan” masuk ke pondok. Mendengar titah sang Kiai, para santri langsung siap siaga menjaga pintu gerbang dan sudut sudut halaman yang mungkin bisa di terobos oleh macan.

Beberapa santri berjaga, tidak ada tanda-tanda kedatangan macan. Justru yang terlihat datang kepondok ke pondok adalah seorang pemuda kurus dengan postur tubuh sedang dan berkulit gelap, yang langsung menuju kediaman Kiai Kholil “Assalamualaikum”, ucapnya ketika berda di depan pintu rumah kiai. Mendengan salam itu, bukan jawaban salam yang disampaikan. Melainkan, Kiai kholil justru memanggil santrinya: ada macan…ada macan, ayo dikepung jangan sampai lolos masuk pondok.

Kejadian ini apakah merupakan tanda bahwa Kiai Wahab Akan menjadi “macan”. Yang jelas kaun nahdliyin mengakui bahwa Kiai Wahab adalah “macan”-nya NU. Pada zamannya, ia disegani kawan maupun lawan dan Kiai wahab pula yang memosisikan NU sebagai jangkar NKRI hingga sekarang ini.

Selain di pondok langitan (dibawah asuhan Kiai Ahmad Sholeh) dan pondok Kiai Kholil Kademangan, Bangkalan, Madura, Kiai Kholil juga pernah bersinggah di pondok Mojosari, Nganjuk (dibawah asuhan Kiai Sholeh), pondok Cempaka, pondok Tawangari, Sepanjang (dibawah asuhan Kiai Mas Ali), pondok Bronggahan, Kediri (dibawah asuhan Kiai Faqihuddin) Pondok Tebuireng, Jombang (dibawah Asuhan Kiai Hasyim Asy’arai).

Kemudian pada tahun 1909 M. Kiai Wahab pergi ke Mekah untuk memperdalam ilmunya, ketika itu beliau berumur 23 tahun. Di Tanah Suci beliau berguru kepada Kiai Mahfudz Termas, Kiai Muchtarom Banyumas, Syekh Sa’id Al-yamani, Syaikh Ahmad bin Bakry Syatha, Syaikh Ahmad Minangkabau, Kiai Baqir Asal Yogya, Kiai Asy’ari asal bawean dan masih banyak lagi.

Wahab muda sangat gemar berdebat, ketika di Makkah beliau bertemu dengan guru mujadalah yang menguasai ilmu perdebatan, yaitu kiai Muchith asal panji, Sidoarjo. Seperti guyung bersambut Wahab yang suka mengoleh otak akhirnya berguru kepada kiai Muchid untuk menguasai ilmu perdebatan. Selain gemar berdebat wahab muda juga gemar sekali mengunjungi orang orang alim, tempat tempat suci dan keramat. Kegemaran lain yang tak kalah penting adalah adalah olah raga. Sebelum berangkat ke Mekah wahab muda sudah dikenal sebagai pendekar. Olah raga yang digemari adalah pencak silat.

Namun, kegemaran semua itu tidak mengalahkn kesukaan yang satu ini, yakni berorganisasi. Ketika ia mendengar tanah air telah berdiri organisasi pergerakan islam yang dipimpin HOS. Tjokroaminoto, wahab langsung meresponnya. Bersama Kiai Asnawi dari Kudus, Kiai Abbas dari Cirebon dan Kiai Dahlan dari kertosono, ia dirikan Serikat Islam (SI) Cabang mekah bahkan setelah kembali ketanah air pada tahun 1914 M (Sesudah hamper 5 tahu belajar di makkah), namanya tetap tercatat sebagai anggota SI.

Setelah pulang dari Makkah kemudan tinggal selama 2 tahun di kota Surabaya dan setelah menemui banyak tokoh seperti HOS. Tjokroaminoto, Raden Panji Soeroso, Soenyoto (Arsitek terkenal disurbaya), Haji Abdul Qohar (Seorang sudagar yang mndukung penuh ide Kiai Wahab), KH. Mas Masnsur, sertra KH. Ridwan Abdullah maka didirikanlah sekolah kebangsaan bernama Nahdlatul Wathon(Kebangkitan Bangsa). Di Sekolah inilah terciptanya Syair Nahdlatul wathon yang didalamnya terdapat visi misi Nahdlatul Wathon. Berikut ini merupakan arti syairnya :

“Hai patriot bangsa, hai patriot bangsa
Cinta tanah air itu bagian dari iman
Cintailah tanah airmu wahai patriot bangsa
Janganlah kalian menjadi banga terjajah

Sungguh mulia itu hanya bisa dicapai dengan tindakan
Bukan hanya dengan kata-kata
Maka berbuatlah untuk menggapai cita-cita
Dan jangan Cuma bicara

Duniamu bukan tempat untuk menetap
Tapi Cuma tempat berlabuh
Maka berbuatlah sesuai yang Dia perinah
Jangan mau jadi sapi perah

Kalian tak tahu siapa pemutar balik fakta
Kalian tak pikirkan apa yang telah berubah
Dimana perjalanan akan berakhir
Bagaimana peristiwa bisa berakhir

Atau mereka memberi minum
Juga kepada ternakmu
Atau mereka melepasmu dari beban
Atau malah menenggelamkanmu dalam beban

Hai, pemilik pikiran yang jernih
Hai, pemilik hati yang lembut
Jadilah orang yang tinggi cita-cita
Jangan jadi ternak gembala

Kemudian dirasa tidak cukup hanya mendirikan Nahdlatul Wathon, Kiai Wahab pada tahun 1918 mendirikan perhimpunan Tashfirul Afkarsebagai wadah forum diskusi para ulam’ dan tokoh terkemua. Setelah mendirikan Tafsirul Afkar pada tahun itu juga Beliau mendirikanNahdhotut Tujjar Sebagai wadah bagi para kaum saudagar pribumi untuk mengembangkan usahanya.

Berdirinya Nahdlatul Ulama’ pada 31 januari 1926 tidak lepas dari perjuangan Kiai Wahab sejak 1916 yang meminta kepada KH. Hasyim Asy’ari agar direstui untuk mendirikan Organisasi Ulama’. Namun 10 tahun lamanya baru di restui oleh sang guru setelah mendapatkan petunjuk dari Syaikhona Kholil berupa Tongkat dan Surat Thoha ayat 17-23 serta tasbih dan wirid asma’ul husna Ya Jabbar, Ya Qohar.

Jasa beliau terhadap Nahdlatul Ulama’ dan bangsa ini tidak terhitung banyaknya, hingga beliau tidak sempat untuk menulis apa yang beliau perjuangkan. Tidak hanya mendirikan banyak organisasi untuk kepentingan umat, tetapi juga membantu mengusir para penjajah baik melalui diplomasi, strategi, maupun bertempur dimedan perang.

Demikian apa yang bisa saya rangkum dari buku KH. Abdul Wahab Chasbullah Hidup dan Perjuangannnya yang sebenarnya masih banyak isi yang menarik untuk disampaikan, saya kira buku ini wajib dibaca oleh semua anak muda baik dari golongan akademik maupun non akademik sabagai tokoh Inspirator Pejuang Bangsa***

Imam Syafi’I Mustofa
Kediri, 13 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s