DALANG MERUPAKAN TUHAN DARI SETIAP WAYANG

wpid-1280px-wayang_performance

Tradisi pewayangan sudah ada sejak  sebelum terbentuknya negara Indonesia, jauh sebelum kolonialsasi Belanda datang dan menduduki wilayah Nusantara. Banyak macam wayang, ada wayang golek, wayang rumput, wayang orang, dan wayang kulit. Dalam tatanan wilayah pun ada yang namanya wayang Jawa, wayang Bali, wayang Nusa Tenggara dan wayang Sunda. Wayang merupakan salah satu budaya asli yang dimiliki oleh Bangsa ini. Walaupun di Cina dan India sudah ada wayang, tetapi wayang di Nusantara berbeda dengan mereka. Perbedaan itu terjadi karena anak anak bangsa dulu merupukan orang-orang yang kreatif yang mampu menyaring budaya dari luar dan menginovasinya menjadi budaya yang khas menurut daerahnya masing-masing.

Wayang adalah tontonan yang sangat populer pada masanya, dahulu nenek moyang kita sangat antusias jika ada pagelaran wayang, mereka rela bermalam-malam bahkan sampai dini hari demi menunggu usainya acara pewayangan.

Dalang sebagai penggerak wayang, yang menjadi lakon dari para lakon pewayangan. Yang menjadi tokoh utama penentu laku dari setiap peran baik buruknya para wayang. Acap kali para penonton wayang terfokus pada peran-peran wayang pada lakon pementasan di panggung pewayangan dari pada dalang yang memainkannya. Ada yang bilang jika “rahwana itu memang tokoh yang jahat, kejam yang pantas menerima karma”,”Anoman kera yang sakti, lihat itu musuh musuhnya yang melawannya semuanya bisa di kalahkan”, “gatot kaca memang otot kawak balung besi”, “rama memang pantas untuk berjodoh dewi sinta”, “kalau kepengen pinter itu lihat si dewa genesa, sering-sering bawa buku” dan yang lainnya. Begitulah biasanya penonton lebih suka membicarakan lakon dari apa yang diperankan para wayang.

Terkadang kita lupa bahwasanya dalang itulah yang menciptakan huru-hara di dunia pementasan wayang. Jahatnya Rahwana itu hakikatnya bukan jahatnya Rahwana, dan kebaikan Rama itu pula bukan miliknya kebaikan Rama namun milik dalang yang mempunyai hak untuk melakonkan setiap laku wayang.

Sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari tontonan pewayangan. Di sana penuh dengan serat makna pesan kesan kehidupan. Berbeda dengan tontonan sekarang yang lebih cendrung menyesatkan. Wayang mengingatkan kita bahwa sekenario lakon di dunia ini adalah milik Tuhan, kita hanya menjadi perannya saja.

Jika kita baik, itu bukan kebaikan kita, itu kebaikan Tuhan. Yang mengalirkan darah kan bukan kita, juga mendetakkan jantung, melihat, mendengar, mempunyai gairah beribadah tinggi dan lainnya. Jika ada orang yang berlaku buruk sebenarnya bukan kok orang itu buruk asli dari dalam dirinya yang ia mampu membuat keburukan, itu merupalan kehendak Allah. Allah sebagai dalang dari apa apa yang diciptakannya.

Memandang dengan banyak Cinta dan khusnudzon kepada setiap wayang, ya seharusnya penonton bersikap seperti itu karena sebenarnya baik maupun buruk itu karena peran yang dijalankan oleh dalang, tidak usah mengeklaim bahwasanya Rahwana itu jahat dan pantas kalau kita bakar, kita bunuh, hingga sampai sampai ketemu wayang Rahwana ia ingin merusaknya, menginjak-injakinya.

Juga si Rama yang cendrung di ciptakan lebih menawan, kalau dalam bentuk orang Rama akan menjadi seorang yang sangat tampan, perilaku budi pekertinya, kebijaksanaanya itu semua merupakan ketentuan dalang seutuhnya, dalang memiliki kekuasaan seratus persen menetapkan tingkah laku dari si Rama.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang memang hanya Allah lah yang pantas untuk di puji, sebagaiman dalang. Allah sebagai dalangnya segala hal yang Dia ciptakan, dalang dari lakon dunia ini.

Apa yang bisa kita ambil ketika kita mengetahui bahwasanya Allah yang menggerakkan kita, yang mengalirkan darah kita, detak jantung, mata yang melihat, angin yang bertiup, panasnya api, berotasi maupun berevolusinya bumi, dan segala hal kejadian di dunia ini. Tentunya kita akan malu jika di dalam hati ini ada rasa kepemilikan dan rasa sombong terhadap diri kita, akal, fikiran, jiwa dan tingkah laku kebaikan kita.

Jika ada seorang kiai yang alim, budi pekerti yang baik maka sesungguhnya itu milik Allah, dan pula jika ada seorang pencuri yang sangat kejam, jika ia mencuri pasti selalu melukai yang orang di curinya bahkan terkadang membunuhnya, itu sesungguhnya juga sekenario lakonnya Allah.

Lakon dalang sebagai lakonnya Allah, yang intinya kita sebagai pelakaon wayang juga sekaligus penonton dari dunia lakon wayang. Jangan lah memandang seseorang yang sangat baik dengan wah hingga kita lupa bahwa itu semua adalah lakon yang di berikan Allah kepada orang tersebut. Kepada seseorang yang sangat buruk kelakuannya janganlah memandang orang itu dengan amat sangat benci. Itu semua merupakan juga lakon Allah yang di takdirkan untuk orang tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s