BAHASA ADALAH KUNCI MELIHAT DUNIA

2

“Dunia, kata yang simpel, ya dunia”. Dunia itu adalah keseluruhan mewakili segala apa yang ada di dalamnya, ada dunia laut berarti kumpulan hal atau sesuatu yang berhubungan dengan laut, dunia perkuliahan berarti membicarakan soal Mahasiswa, Dosen, Rektor, Birokrasi, SKS, Mata kuliah, BEM, Pers, Skripsi, Desertasi, DO, dan masih banyak lagi. Dunia adalah perkumpulan baik yang ada batasannya maupun yang tidak ada batasannya.

Saya sering dengar kata-kata seperti berikut ini ” Membaca adalah jendela dunia” dunia dalam kata-kata tersebut menurut hemat saya merupakan dunia dari segala dunia, karena memang dalam membaca tidak ada batasannya, kita boleh membaca buku tentang dunia masak, buku tentang dunia peternakan, buku tentang dunia ketatanegaraan dan masih banyak lagi buku tentang dunia lainnya.

Membaca dalam kamus KBBI adalah melihat dan memahami isi dari apa yang tertulis, meramalkan, mengetahui dan memperhitungkan. Itulah membaca dilihat dari kamus KBBI yang lebih identik dan mengarah pada membaca dalam konteks tulisan atau buku. Padahal dalam bahasa seharian ada kata-kata yang terucap seperti semisal “membaca situasi dan kondisi”, “membaca hati seseorang”, “Membaca pergerakan musuh”, “membaca psikoogis seorang pasien”. Kalimat membaca di lihat dari sudut pandang penggunaan kata-kata tersebut bermakna lebih luas daripada definisi makna dalam KBBI. Membaca pada kalimat diatas lebih condong bermakna memahami, mempelajari, dan mengambil kesimpulan kemudian melakukan langkah-langkah yang terbaik setelah mempertimbangkan dan menganalisanya. Jika dalam peperangan berarti kita harus mengetahui kondisi kita, kemampuan kita, kemampuan musuh baru kemudian melakukan tindakan, jika dalam dunia ilmu pesikologis kita melakukan pertanyaan, menyuruh menggambar si pasien, mendengarkan keluhan si pasien dan berbagai metode lainnya yang berhubungan dunia psikologis, kemudian atas dasar data-data yang terambil kita mengambil kesimpulan kemudian baru melakukan tindakan.

Saya suka membaca buku dari mulai buku sejarah, cerpen, novel, puisi, budaya, esai, artikel maupun berita. Semua yang saya baca berisi informasi yang menambah wawasan dan pengetahuan serta cara pandang saya. Namun sayang saya hanya mampu membaca serta memahami bacaan berbahasa indonesia tidak yang lain, kalau di suruh membaca artikel berbahasa inggris saya tidak bisa mencerna dengan baik. Memaknai puisi berbahasa arab banyak yang salah dan berbeda maksud dengan apa yang di harapkan sang pengarang puisi berbahasa arab tersebut, membaca tulisan jawa masih bingung dengan susunan kata-katanya. Artinya saya hanya mampu memahami tulisan orang yang menggunakan bahasa indonesia saja, dengan latar belakang, sudut pandang dan tetekbengek yang lainnya yang mempengaruhi tulisan daripada sang pengarang.

Membaca adalah jendela ilmu dan jendela dunia, siapa yang ingin mendalami ilmu dan menambah wawasan dunia maka banyaklah membaca. Membaca ibarat sebuah jendela yang boleh tertutup maupun boleh terbuka, jika kita melihat rancangan sebagian jendela pasti ada kunci yang membuatnya tidak bisa dibuka dan untuk membukanya kita butuh kunci. Ibaratnya jendela itu adalah membaca sedangkan kunci jendela merupan susunan tata bahasa bahasa (sebagai alat untuk membaca). Membaca harus mengetahui arti dan maksud bahasa yang dibaca, harus mengetahui susunan bahasanya, mengetahui tensesnya kalau dalam bahasa inggris, nahwu sorofnya kalau dalam bahasa arabnya.

Begitu sangat pentingnya belajar bahasa sampai di suatu pendidikan tradisional yaitu pendidikan pesantren. Setiap tingkatan kelasnya selalu ada pelajaran gramatika arabnya, dari mulai jurumiyah, imrithi, alfiyah, sampai ilmu balaghoh.

Untuk memahami Al-Quran dan Al-Hadits memang langkah pertama yang harus di pelajari adalah ilmu alatnya berupa gramatika bahasa. Karena Al-Quran dan Al-Hadits menggunakan bahasa arab jadi kita harus menggunakan sudut pandang bahasa arab dalam memaknainya maupun memahaminya, jangan mengambil sudut pandang bahasa lain, semisal bahasa inggris atau bahasa indonesia, karena dengan mengetahu seluk beluk bahasa arab kita bisa sependapat, sepemahaman dengan orang arab pun dengan Rosulullah sebagai penerima Wahyu. Itu apabila kita ingin mendalami dunia Al-Quran dan Al-Hadits namun jika kita ingin mendalami dunia kampus, dunia mahasiswa, dunia masyarakat Indonesia, dunia bertata usaha, maka kita harus menguasai tata bahasa dari masing-masing dunia tersebut, baru kemudian kita membaca.

Belajar berbahasa itu sangat penting karena lewat bahasalah kita berinteraksi dan berkomunikasi.

Oleh :
Imam Syafi’i Mustofa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s